
Selamat Membaca
Tepat di tengah gua, diletakkan sebuah mena operasi dari logam. Di samping terdapat juga rak yang berisikan alat alat laboratorium.
Tapi, perhatian Matoi tidak terenggut oleh benda benda itu.
"Oi, oi..... Apa itu....."
Maroi tak dapat melepaskan pandangamnya dari tumpukan tulang putih yang menggunung tinggi di satu pojok gua. Di sama terdapat tulang tulang yang berceceran, juga tengkorak yang masih mengenakan ikat kepala.
"Itu sisa sisa dari tikus percobaan yang kau buru." Meski dihadapkan dengan jasad sebanyak ini, sama sekali tak terdengar mada penyesalan maupun kengerian dari suara Mui. "Kau bilang ingin tau impian ku, kan?"
Maroi mengelori arah yang ditunjuk Mui. Di ujung gua tersebut, ada sebuah gerbang tebal yang terbuat dari batu. Ukurannya cukup besar. Berhiaskan gambar timbul berupa wajah menagis, dan di atasnya terukir huruf huruf yang belum pernah dilihatnya.
"Apa yang tertulis di sana?"
"Kotak Surga, akan melahirkan Satori, akan menggerakan Satori, dan akan berakhir dengan Satori."
"Kalau begitu, apa Kotak Surga ini berada dalam gerbang tersebut?" Maroi menoleh ke arah Mui. "Lalu jika memang klan tuan Mui dari generasi ke generasi terus melindungi gerbang ini..... Berarti, gerbang ini sudah selayaknya berangkas, ya."
"Apa pun permintaan orang yang bisa membuka Kotak Surga, akan dapat terkabul."
"Apa maksudnya itu?"
"Itu legendanya."
"Benarkah?" Maroi menyeringai. "Singkatnya, anda memercayai legenda konyol tersebut dan berusaha membuka gerbang ini?"
Tak ada balasan.
__ADS_1
"Ah, tuan Mui pun sebenarnya tidak begitu memahaminya, kan?"
"Karena memang belum ada yang berhasil membukanya."
"Apa yang dimaksud dengan Satori?" Malihat Mui yang hanya menggelengkan kepalanya, Maroi melanjutkan ke pertanyaan berikutnya. "Kalau begitu, demi bisa membuka gerbang ini, anda melakukam pemburuan kelinci percobaan, ya?"
"Dibutuhkan cakra dalam jumblah sangat besar untum membukanya. Bukan hanya secara kuantitas, namun juga kualitas. Di sinilah aku terus melakukan peneliatian mengenai cakra."
"Begitu rupanya." Senyum lebar Maroi terhapus, wajahnya memjadi serius. "Shinobi yang telah dimasukan ke dalam Kastil Hozuki ini sama saja telah dianggap mati..... Takkan ada protes meski anda membakar, merebus, dan mencingcang mereka, ya."
"Apa kau keberatan?"
"Bocah bernama Naruto Uzumaki ini kasihan juga, ya....." Maroi bergumam sendirian, kemudian tersenyum cerah. "Tidak, sama sekali tidak."
"....."
"Aku senang kau bisa memahaminya."
"Lalu?" Tanta Maroi. "Apa yanga kan dilakukan Kusagakure dengan membuka kotak seperti itu? Apa untuk menguasai dunia?"
"Begitulah, jika dilihat dari situasinya."
"Benarkah itu?"
"Pertama tama, yang diprioritaskan adalah membuka kotak tersebut dan memastikan kebenaran dari legendanya."
"Tapi, sebenarnya kalian sudah menyakininya, kan?" Maroi memicingkan sebelah mata, bertanya pada Mui yang sama sekali tak mengubah akspresinya. "Semua juga tahu kalau Kusagakure desa yang miskin. Juga, bahwa Kusagakure bersikap antipati pada lima negeri besar shinobi. Kastil Hozuki ini pun sepertinya cuman pekerjaan yang merepotkan yang dipaksakan pada kalian oleh lima negeri besar, ya. Jika memang legenda itu benar, kalau saya sih, pertama tama pasti akan menghancurkan mereka terlebih dahulu."
"Sisimu itulah....."
__ADS_1
"Eh?"
"Kau tidak peduli mau jadi seperti apa pun dunia ini..... Dengan memanfaatkan sisimu yang seperti ini, akan menempatkanmu di sisiku. Soalnya, aku jadi tak perlu cemas akan dikhianati.
"Anda sangat percaya diri, ya."
"Kurasa harusnya manusia sepertimu takkan peduli apa yang terjadi pada orang lain selama dirimu sendiri di untungkan. Apa aku salah?"
"Yah, saya anggap itu ujian."
"Pilihan terbaik bagimu adalah depelerjakan olehku selama berada dalam Kastil Hozuki ini. Makanya, kau pasti tidak akan mengkhianatiku."
"Dan jika saya berkhianat?"
"Jika sampai seperti itu....." Mui menatap Maroi, melembutkan ekspresinya sekilas. "Tidak, lupakan."
"Apa?"
Mui tidak menjawab, tapi sebagai gantinya, dia menggunakan ujung jarinya untuk menyentuh lembut kaki seribu yang merayap di atas meja operasi. Seketika, api berwana biru pucat membungkus tubuh kaki seribu tersebut. Di tengah lelapam api, kaki seribu itu menggulung tubuhnya, mengeliar kesakitan, dan akhirnya lenyap sepenihnya tanpa meninggalkan bekas apa pun.
"Apa memang....." Mui tersenyum, matanya masih saja terlihat tanpa ekspresi. "..... ada hal yang perlu kucemaskan darimu?"
"Ka, kalau sudah dipasangi Tenro, ingin berkhianat pun, saya tidak mungkin bisa melakukannya, ya." Merasakan adanya hawa dingin yang merayapi punggungnya, Matoi dengan panik bergegas menunjuk tumpukan tulang. "Yah, tidak dijadikan seperti itu pun, saya sudah bahagia, kok. Tapi, apa masalah anda membeberkan soal itu pada saya?"
"Mau legenda itu benar atau tidak, tujuan akhirnya teraplah neraka." Sahut Mui. "Jika memang begitu, kenapa aku harus merehasiakannya?"
Terimakasih Telah membaca
Jangan lupa like
__ADS_1