
"Kuperingatkan saja." Suara Mui memecah keheningan. "Jangan mengusik Naruto Uzumaki."
"Me, mengisik..... i, i, itu sungguh tidak masuk akal!" Gerimbongan Fukyowaon Otogakure itu mengangguk angguk. "A, aku hanya sedikit mengusilinya!"
"Kau bilang kalau dikirim ke sini karena di jebak seseorang, kan?" Mui menatap Naruto yang berdiri sambil terheran heran. "Jika itu memang benar, bersikaplah tenang."
"Ke, kenapa kau melindungiku?"
"Jangan besar kepala."
"....."
"Jika aku membiarkan tahanan mati tanpa alasan yang benar, hal itu akan memengaruhi reputasi Kusagakure yang telah di beri tanggung jawab untuk mengelola Kastil Hozuki." Mui memutus ucapannua sejenak sebelum kembalu melanjutkan. "Tentu saja jika memang ada alasan yang pantas, mau apa pun yang terjadi pada kalian, aku sama sekali tidak peduli."
Mata Naruto sarat mengaliri amarah, namun pada akhirnya, tak ada yang bisa dia perbuat. Para sipir bergegas menyerbu masuk.
"Mana anak nakal yang bahkan tidak bisa makan dengan sikap baik!?" Togan mengayunkan botonnya. "Kau!? Atau kau!?"
Semua yang ada di sana satu demi satu membuka jalan untuk Mui yang berbalik dan berjalan ke arah kanan untuk keluar dari kantin. Para sipir memukul tahanan yang membuat keributan itu satu demi satu.
__ADS_1
Tentu saja, Naruto juga bukan pengecualian.
Terlalu banyak hal yang harus dipikirkannya.
Semua masih baik baik saja sampai dia main shogi bersama Shikamaru. Selama 8 hari setelahnya, situasi sungguh kacau balau sampai dia tak bisa berfikir dengan cermat.
Pandangan dingin dari semuanya yang dilihatnya di kantor Tsunade. Sketsa buronan yang menggambarkan wajahnya. Percobaan pembunuhan terhadap Raikage. Desa Kusagakure yang dilihatnya dari dalam penjara kubus. Ucapan penggotong yang berharap agar segera terjadi perang. Hozuki yang tumbuh berkelompok di padang rumput. Suara seruan Togan. Tenro yang dipukulkan ke dada nya. Sikap Mui yang tidak konsisten terhadap perkataannya.
Benar benar ruet itu harus diuraikannya satu demi satu. Dia paham benar kalau soal itu. Dia harus bergerak. Seseorang sedang mengincar Desa Konohagakure. Dia harus menemukan perunjuk dengan cepat. Tapi, Naruto telah di absen dan kembali ke selnya itu langsung tertidur tanoa sempat memikirkan apa pun begitu berbaring di atas tempat tidur.
Saking nyenyaknya, dia bahkan sampai tak memimpikan apa pun. Naruto terus tenggelam di kegelapan yang luas.
Itu hal fatal sebagai seorang shinobi. Seorang shinobi harus tertidur dengan sebelah mata terbuka agar selalu siaga jika diserang kapan pun. Tentu saja Naruto memiliki kesiapan untuk itu, tapi kali ini dia terlalu lelah untuk tetap bisa menjaga prinsip tersebut.
Naruto masih tertidur dengan nafas teratur tanpa penjagaan saat pintu selnya yang berjeruji itu diangkat naik. Sesosok bertubuh besar membungkukan tubuhnya dengan terlihat kesempitan, melangkah tanpa suara memasuki sel tersebut.
Naruto sedang mengiker sambil mengorok.
"Wah, wah, kau dilerlakukan dengan berural, ya." Penyusup bertopeng itu membungkuk, menatap wajah tidur Naruto yang penuh luka itu. "Tapi, bisa bisanya kau tertidur senyenyak ini di hari pertamamu di sini. Enath saking hebatnya atau saking bodohnya....."
__ADS_1
Tergetnya tertidur pulas sambil meringkuk di atas kasur yang digelar diatas lantai kayu. Penyusup itu segera mengeluarkan kantong hitam dan menggunakannya untuk membungkus kelala Naruto.
"Ugh!" Suara omelan itu terdengar menembus kantong. A, apa ini? Apa yang kau lakukan!?" Naruto yang telah terbangun itu memberontak.
"Tolong menurut saja." Penyusup itu memusatkan targetnya, lantas memukul tengkuk mangsanya dengan tangan kedang.
Bruk! Tubuh Naruto tidak lagi bertenaga.
"Wah, wah."
Penyusup itu mengikat mulut kantongnya, kemudian memanggul mangsanya yang telah lemas itu.
"Rasanya ini terlalu mudah."
Dia bergumam sendirian sambil keluar dari sel, kemudian memastikan situasi di kanan kirinya. Tidak ada seorang pun di situ. Suara dengkuran dan gemeratam gigi yang mengalun dari dalam sel yang berderet deret itu, menggema memenuhu lorong kosong.
"Ah, gawat juga. Aku ngapain, sih? Padahal semuanya tertidur tenang begini....."
Dia memanggul kembali mangsanya. Tapi, belum sampai dia berjalan beberapa langkah, terdengar suara kangkah kaki bersepatu dari ujung lorong. Benar juga, ini memang sudah waktunya para sipir berpatroli.
__ADS_1
Terimakasih Telah Membaca
Jangan lupa like dan komen ya😉