
"Waduh"
Dia menyembunyikan bunyi langkah kakinya dan bergegas bergerak menuju arah yang berlawanan dengan asal bunyi langkah kaki bersepatu tadi. Namun setelah berbelok beberapa kali, dia ketahuan oleh sang kepala sipir, Togan.
"Siapa kau!?" Togan berseru dengan suara serang dan berat, kemudian mengarahkan senternya.
Penyusup tersebut menyipitkan mata karena terkena sinar senter itu, kemudian melepas topengnya.
"Maroi toh?" Togan mendekatkan senternya. "Apa yang kau lakukan?"
Si penyusup, Maroi, memalingkan wajahnya dari sorot senter, kemudian menggoncang ringan barang yang ada di pundaknya.
"Kelinci percobaan tuan Mui, ya?" Togan mendengus. "Seperti biasa ya, dasar penjilat."
"Kau juga." Maroi mengangkat alisnya. "Seperti biasa, berwajah selayaknya bulldog."
"Kaparat..... Padahal hanya tahanan, tapi berani mengolokku?"
"Kata 'hanya' itu tidak penting, kan?"
"Ugh....."
"Kau tadi bilang sendiri, meski tahanan, aku tetaplah penjikat tuan Mui."
"Akan ku hajar kau dan kujebloskan ke ruang isolasi!"
__ADS_1
"Bisa bisanya menggertak padahal kau takkan bisa melakukannya."
Urat marah telah tercetak di pelipis Togan.
"Aku tak punya waktu berbasa basi denganmu," ucap Maroi. "Aku sibuk. Minggir, minggir."
"Cepat pergi, sana!" Seru Togan. "Suatu saat, akan kubuat kau tak bisa menyalak lagi!"
"Silahkan saja." Maroi memanggul kembali bawaannya. "Kalau begitu, aku permisi dulu."
Meski merasakan tatapan penuh kebencian dari Togan di pungggungnya, Maroi tetap berjalan menaiki tangga, melintasi lorong, dan berhenti di depan kantor Mui. Dia mengetuk pintu, lantas terdengar balasan yang mempersilahkan masuk.
"Selamat malam." Maroi membuka pintu dan masuk ke dalam kantor. "Tadi saya terjebak dengan Togan di sana..... Tuan Mui, saat berburu kelinci percobaan, tolong beritahu dia juga. Soalnya, dia sangat berisik."
Meski bawaan yang dipanggulnya sudah di lempar ke sofa kantor, Mui sama sekali tidak mengucapkan terimakasih padanya.
"Buatlah dia telanjang dada."
"Tapi, apa benar bocah ini Jincuriki?" Tanya Maroi sambil melakukan apa yang diperintahkan Mui. "Rasanya terlalu mudah menculiknya."
Mui melirik ke bawah, ke arah Naruto Uzumaki. Alisnya berkerut dalam.
"Ada apa?"
Mui perlahan mengangkat wajahnya, menatap tajam Maroi.
__ADS_1
"Ada apa?" Maroi memberikan pandangan heran. "Benar dia, kan? Bocah berambut pirang yang mulai di tahan hari ini, hanya dia seorang, lho."
Mui menatap Marou, kemudian mendadak menghunus kunai nya dan menusuknya ke dada Naruto.
"Tunggu! A, apa yang anda lakukan!?"
"Maroi, kau buta, ya?"
Belum Mui selesai berbicara, tubuh Naruto telah menghilang bersama dengan munculnya kepulan asap.
"Waduh."
"Ini bunshin. Lihatlah," ucap Mui. "Tidak ada formula Tenro di tubuhnya."
"Sialan."
Di atas dinding kastil, Naruto menekan dadanya sendiri dengan dialiri keringat dingin. "Sudah metahuan, ya."
Begitu bunshin nya menghilang, semua kejadian yang dialami bunshin tersebut seketika langsung tersampaikan ke Naruto yang asli. Dia tidak tahu apa yang terjadi karena kepalanya di bungkus oleh kantong hitam. Di balik kantong itu dia memang merasa mendengar suara dua orang yang sedang bercakap cakap, tapi dia tak bisa memastikannya.
Meski begitu, sensasi dingin dari logam yang menancap di tubuh bunshin nya itu terus menjalar sampai jauh ke dalam daa Naruto.
'Seseorang..... seseorang berbiat bembunuhku, ya?'
Terimakasih Telah Membaca
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya🙏🏻