
"Lihatlah baik baik!"
Dengan santainya, sipir tadi melemparkan pelampung besar tersebut kelaut. Pelampung tersebut terbawa angin, melayang melewati batu batu karang berujung tajam, kemudian melayang turun terayun ayun ke permukaan laut. Lalu, begitu menyentuh permukaan, pelanpung tersebut langsung bengkok dan terisap masuk ke dalam laut dengan suara keras.
Di tunggu selama apapun, pelampung itu tidak lagi terapung.
"Kaluan pagam!? Yang ingin mati, silahkan saja menceburkan diri. Ga ha ha ha!"
Laut kembali bergelombang besar, seakan tak terjadi apa pun.
"Nah, secara berurutan satu persatu, majukah untuk pemasangan Tenro!" Seolah sedang membanggakan laut ini, Togan berseru dengan wajah congkak. "Setelahnya, pemeriksaan fisik telah menunggu kalian!"
Jiwa Yang Terkurung
Dungungan di telinga nya belum juga berhenti. Kepala nya nyut nyutan. Meski begitu, Naruto tetap harus melangkah ke depan, melewati deretan sel penjara.
5 orang tahanan baru dikawal di bagian depan dan belakang oleh para sipir, maju dengan membentuk 1 barisan.
"Begitu Tenro Tuan Mui tersemat di tubuh kalian, kalian sudah tak kan bisa lagi keluar dari sini!" Suara Togan yang memimpin di depan, menggema di seluruh lorong. "Yah, kalau sudah terbiasa, nantinya kalian bakal merasa kalau tempat ini cukup nyaman, kok! Tuh, para senior kalian pun menyambut. Ga ha ha ha!"
__ADS_1
Suara serak itu saja sudah menggema di dalam kepala, tapi masih saja mereka di banjiri dengan sorakan ejekan yang berapi api dari dalam sel.
"Oi, ada orang baru, nih!"
"Semuanya terlihat lemah, tuh!"
"Nanti kami akan banyak memanjakan kalian, kok!"
Suara siulan tersengar dari mana mana beserta dengan suara tawa ejekan. Jeruji jeruji sel bergetar.
Naruto melangkahkan kaki nya terhuyung huyung hanya dengan bermodalkan niat, pokoknya dia harus tetap berjalan agar jangan sampai tertinggal yang lain. Dia sudah berbelok beberapa kali, juga melewati puntu berjeruji besi.
"Orang yang namanya dipanggil, silahkan masuk!" Seru Togan. "Aku sendiri yang akan memeriksa setiap detail tubuh kalian dari ujung ke ujung!"
Begitu lara sipir memasuki ruang introgasi, Naruto terjatuh lesu ke bangku di lorong. Tubuhnya panas. Keringatnya tak kunjung berhenti.
Naruto menggulung lengan bajunya dan melihat kalau pola berbentuk seperti tali jerami itu juga melilit lengan bawahnya.
"Sialan..... apa apaan jutsu bernama Tenro ini?"
__ADS_1
"Hei." Lelaki yang tersuduk di sampingnya menyiku Naruto. "Apa yang sudah kau perbuat?"
"Sudah kubilang....." Naruto melirik lelaki itu. "Aku tidak berbuat apa apa."
"Hei, serius, dong."
"Begini, ya....." "Aku serius!" Naruto sebenarnya berniat menyerukannya, tapi entah kenapa hasratnya itu akhirnya ditelan lagi. "Bagaimana denganmu?"
"Aku mengacau misi." Dia lelaku dengan bekas luka sayatan besar di pipi. "Harusnya aku membunuh seluruh warga di suaru desa, tapi sepertinya rasa empatiku terguguh. Aku menyamar sebagai pedagang keliling dan memasuki desa, tapi hari itu dingin sehingga tangan dan kakiku membeku. Saat aku mengintai desa sendirian, seorang anak kecil memanggilku. Lalu, dia membari secangkir teh panas, makanya, aku mengamankan anak itu, dan hal itu ketahuan olah desa."
"Mananya yang buruk dari itu?"
Lelaki tadi langsung tercengang
"Anak anak kecil tidak ada hubungannya dalam peperangan shinobi." Naruto menoleh untuk menghadap ke lelaku itu. "Hanya gara gara itu, kau sampai dikirim ke tempat seperti ini?"
"Kau dari desa mana?"
Naruto menunjuk ikat kepalanya dengan ibu jari. "Konoha."
__ADS_1
Terimakasih telah membaca