
Naruto menghela nafas. Mau menoleh ke kanan atau kiri, tak ada tempat baginya di sana.
"Pokoknya, pertama tama aku harus makan!" Naruto menepuk pipinya sendiri dengan kedua tangan. "Takkan ada hal fositif yang bisa kupikirkan dengan perut lapar?"
Baruto kembali bersikap tegar dan masuk ke dalam barisan para tahanan untuk menerima pembagian makanan. Roti yang terlihat keras, sup yang terlihat encer, daging berbumbu garam yang terlihat sangat asin.
Naruto celungukan ke sekelilingnya dan menemukan kursi kosong di samping jendela. Dia membawa nampannya ke sana. Namun, beberapa orang yang sedang makan di meja panjang itu langsung seketika mebghentikan obrolan mereka.
"Halo, halo!" Naruto mengangkat tinggi sebalah tangannya dan memberi salam. "Aku Uzumaki Naruto dari Konoha! Mohon bantuan kalian mulai sekarang, ya!"
Para tahanan tersebut berdiri dan berpundah meja lain.
"....."
Naruto merasa dia seperti virus berbahaya atau semacamnya. Setelah menghela nafas, dia kembali menghadap ke arah makanannya.
"Aku takkan bisa bertarung kalau lapar!" Dia berusaha mengusir suasana hatinya yang memburuk itu. "Selamat makan!"
Tapi sebelum suapan pertama itu masuk ke mulutnya, sebuah tangan yang terjulur dari samping telah merebut daging miliknya.
"Hoi! Apa yang kau lakukan!? Ini pertama kalinya aku makan dengan pantas setalah 8 hari, tahu!"
"Oi, anak baru." Seorang lelaki berwajah licik yang menggigit tusuk gigi, meraih rambut Naruto dan mengajaknya. "Kau tidak bisa membari salam, ya?"
Beberapa orang sepertinya bawahan lelaki itu, menyeringai dibelakangnya.
__ADS_1
"Makanan pertama harus diberikan kepada bos, kan?"
"Yang kau maksud bos itu....." Naruto bersuara dengan gemetaran. "..... kau, ya?"
"Benar!" Balas seorang bawahan dengan wajah sok. "Aniki lelaki mengerikan yang sampai dijuluki sebagai Fukyowaon Otogakure, lho!"
Lelaki yang sedang menggigit tusuk gigi itu membusungkan dada.
"Fokyowaon?" Tanya Naruto. "Bukankah itu artinya buta nada tingkat parah?"
"Apa!?"
Para bawahan serentak berdiri.
"Terus terusan begini..... apa apaan, sih....."
Naruto membuka matanya lebar lebar, kemudian memukul wajah lelaki itu.
"A, Aniki!" Para bawahan langsung ribut. "A, apa Aniki baik baik saja!?"
"Aku sedang emosi!" Naruto meninju lelaki yang tergeletak itu. "Kalau memang ingin berkelahi, akan kuladeni!"
Semua menyorakan serempak langsung menerjang ke arahnya.
"Jangan meremehkan Naruto Uzumaki ini!"
__ADS_1
Naruto menghempaskan beberapa orang dengan pukulannya dan membentuk tanda salib dengan jarinya, tapi seketika terdengar gemetaran dari sendi sendi tubuhnya.
"Gyaaa!" Naruto menepuki seluruh tubuhnya sendiri, seakan tubuhnya itu sedang dirayapi oleh ulat bulu dalam jumblah tak terhitung. "Adudududuh..... Aku benar benar lupa kalau sudah dipasangi Tanro!"
Saat itulah lelaku bertusuk gigi itu mendaratkan pukulannya ke perut Naruto.
"Guaaah!"
Mulutnya sampai menghembuskan udara kencang. Lengan Naruto yang sedang meringkuk itu di tahan di kedua sisi oleh para bawahan.
"Sial!"
Lelaki bertusk gigi tersebut datang mendekat dengan memainkan garpu menggunakan kedua tangannya. "Akan kucongkel bola matamu."
Ujung garpu itu perlahan mendekat ke mata Naruto.
"Lepaskan! Sial! Lepaskan aku!"
"Kau boleh saja menutup mata." Lelaki itu menjilat bibirnya, kemudian menjambak rambut Naruto. "Toh, ujung ujungnya, akan tetap menganga."
Para bawahan serentak tertawa. Di mata Naruto terpantul bayangan garpu yang mendekat perlahan tersebut.
Namun, pada akhirnya, ujungnya tidaklah menusuk mata Naruto. Tenaga yang tadi telah menahan kedua lengannya, seketika kendur. Begitu dia memutar tubuhnya Naruto dengan mudahnya langsung mendapatkan kebebasan gerakan kembali. Tanpa tahu apa apa, dia turut melihat ke arah pandangan para tahanan lainnya yang ada di sana.
Dan di ujungnya..... berdiri Mui.
__ADS_1
Seisi kantin langsuh di landa keheningan. Begitu Mui menunjukanya, lelaki bertusuk gigi tadi langsung melempar garpunya dan tertawa canggung.
Terimakasih Telah Membaca