
Selamat Membaca
"Desa sedang di ancam bahaya, ya... Memang, apa arti desa bagimu?
Mui menendang Naruto yang berniat bengkit.
"Guah!"
"Apa kau pernah membunuh orang yang sama sekali tidak bersalah pada mu, demi melindungi desa?"
"Apa kau ingin bilang bahwa jika tidak bisa membunuh orang yang tak ada hubungannya....." Naruto memberikan tatapan menusuk pada Mui, masih dalam posisi tergeletak di permukaan tanah. "..... maka aku takkan biaa menjadi shinobi yang sesungguhnya?"
"Seperti itulah."
"Jangan ngawur!"
Naruto kembali berniat bangkit, namun langkahnya terhuyung dan dia jatuh berlutut sebelah kaki dengan lesu ke atas permukaan tanah.....
'Tu, tubuhku tak mau bergerak sesuai kehendakku.....'
__ADS_1
"Benafas pun rasanya sudah berat, kan?" Mui melangkah pelan mendekati Naruto, lalu menendang perut Naruto tanpa menggerakan seujung alis pun. "Kau saat ini bergikir bahwa harusnya bukan situasi seperti inilah yang terjadi. Harusnya tak mungkin kau terluka separah ini padahal tidak menggunakan ninjutsu. Bagaimanapun juga, cakra pasti bergerak saat kau bertatung, kemudian sedikit saja ada pergerakan cakra, Tenro pasti akan bereaksi dan membakar tubuhmu."
Naruto yang telah terhampas itu memegangi perutnya, mulutnya mangap mangap mencari udara.
"Akan kuberutahukan satu hal," Suara dingin Mui mengalir turun. "Mau seberapa besar pun neraka yang kau tanggung demi Desa, Desa takkan mau tau."
Begitu Mui memutar tubuhnya ke kanan, kerumunan tahanan langsung berpencar dengan gugup seakam sedang terkena sengatan.
"Tu, tunggu....." Naruto mengulurkan tangammya ke atas punggung Mui. "Pe, pertarungan masih belum selesai....."
"Pertarungan?" Mui menoleh ke balik pundaknya, menatap Naruto selayaknya sedang melihat serangga saja. "Kata pertarungan digunakan saat semua pihak yang bertarung adalah orang orang dengan kekuatan setara."
"....."
Begitu Mui berlalu, para tahanan terheran, lantas menyoraki Naruti sesuka hati.
"Aaaaah, aku kecewa."
"Ternyata ada juga ya, orang orang yang omong kosong padahal sebenarnya lemah."
__ADS_1
"Kau sudah di buang Desa, lho, dasar bodoh!"
Naruto masih meringkuk di tanah, tak bisa membalas ucapam mereka. Akhirnya para sipir datang lalu mengankat Naruto yang masih gos gosan.
"Sepertinya kau sangat menyukai ruang isolasi, ya."
"Si, sialan....."
"Padahal bafu keluar dari sana, tapi kau sudah merindukan tempat itu, ya?" Togan dengan terlihat gembira memukuli wajah Naruto, kemudian menggesek gesek wajah Naruto yang masih tergeletak itu dengan kakinya. "Ayat 6 pasal 23 hukum pidana Kastil Hozuki. Hukuman ke 2 akan berlangsung selama 5 hari . Dinginkan kepalamu baik biak! Ga ha ha ha!"
Lebih susah bertahan di hukuman isolasi kedua ini ketimbang yang pertama. Soal cakra yang masih belum bisa terjalin, dia sudah maklum. Tapi, begitu rileks sedikit saja, wajah Mui sudah muncul di benaknya.
Dan kalau sudah begitu, apa pun yang dilihantnya selalu terus terhubung ke Mui. Mui terlihat ada di mana mana. Naruto melihat wajah Mui di noda yang ada di dinding, mendengar suara angin yang berhembus di luar ruang isolasi sebagai suara Mui, bahkan semut yang merayap di lantai itu pun membuatnya merasakan dinginnya tatapan Mui waktu itu.
'Apa arti Desa bagimu?'
"Mau memikirkan ucapan paman itu terus terusan pun, takkan ada yang berubah." Naruto memukuli kepala buku buku jarinya. "Saat ini prioritasnya adalah memikirkan bagaimana cara keluar dari tempat ini dan kemali ke Desa."
Terimakasih Telah Membaca
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya
Jika ada saran untuk karya ku, kalian bisa dm aku di IG. Nama IG ku indahdesitadw. Terimakasih