Naruto Blood Prison

Naruto Blood Prison
Musim Hozuki part 2


__ADS_3

" Orang bodoh akan melangkah dengan mengabaikan teorinya. " Shikamaru menghela nafas. " Orang yang bergerak hanya dengan berdasar insting memang paling mengerikan. "


Saat itulah ada yang memanggilnya dari belakang sehingga Naruto menoleh.



" Oi, Sai! " Kegirangan Naruto masih belum mereda sampai sampai dia sangat ingin Sai juga memberinya ucapan selamat atas kemenangannya. " Barusan aku meruntuhkan harga diri Shikamaru dalam *Shogi. "*



Namun, ekspresi Sai sama sekali tidak berubah.



" Ada apa? " tanya Shimaru. " Apa terjadi sesuatu? "



" Naruto, aku diminta membawamu serta ke tempat Nona Tsunade. "



" Ke tempat nenek Tsunade? Ada keperluan apa? "



Belum Naruto sempat menyelesaikan pertanyaannya, tiga orang *Anbu* bertopeng sudah muncul di balik punggung Sai tanpa suara.



Shikamaru langsung bersiaga, Choji menjatuhkan bungkus kripik kentangnya, sementara Naruto berdiri tercengang.



" Ada apa... Apa telah terjadi sesuatu? "



" Maaf, Naruto, " ucap Sai tanpa ekspresi. " Ikutlah bersama kami. "



Tsunade yang duduk di balik meja yang ada di kantor *Hokage* hanya terus menatap lekat Naruto tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kakashi dan Yamato berdiri di depan pintu, seolah menghadangnya.



Naruto bertanya pada Sakura, tapi begitu melihat wajah cemas gadis itu, dia paham kalau dirinya sedang berada dalam situasi yang sangat merepotkan.


__ADS_1


" A, ada apa? " Naruto yang sudah tak bisa bersabar lagi, akhirnya membuka mulut. " Ada apa? Kenapa semuanya berwajah serius? "



" Bisa bisanya kau malah bertanya. " Tatapan Tsunade menajam. " Apa kau tidak punya bayangan? "



" Bayangan..... Ah! Jangan jangan, aku tidak sengaja merusak makan si pertapa mesum itu? "



" ..... "



" Tapi, aku tidak sengaja! " Naruto berusaha mempertahankan diri. " Kerena kotor, aku sedikit menggosoknya sampai ujungnya agak sampal..... "



" Katanya tadi malam kau menyerang *Raikage. "*



" ..... Eh? "




" Haah? " Naruto tak dapat mempercayai pendengarannya sendiri. " Tunggu dulu, nenek Tsunade..... *Raikage* itu maksudnya kakak Paman Gurita itu, kan? "



" Apa ada *Raikage* lain? "



" Menyerang? Mustahil..... Tapi, aku tidak melakuakn apa pun..... A ha, a ha ha! Nek Tsunade bisa bisanya bercanda..... "



" Tak hanya itu. "



" Eh? "


__ADS_1


" Ada 3 *Jonin* Kirigakure dan 2 orang dari Iwagakure yang terbunuh. Lalu, ini..... " Tsunade menerima kertas dari Shizune, kemudian meletakkannya di atas meja di tuangan itu. " ..... adalah kertas pelaku yang kudapat dari kedua Desa. "



" ! "



Di 2 lembar kertas itu terdapat sketsa wajah yang digambar dengan tinta hitam India. Di lembar utama, digambar sosok lelaki yang menggunakan tudung hitam, dan dilehernya terlilit ikat kepala Konohagakure. Di lembar kedua, tergambar sosok lelaki berambut jabrik, di masing masing pipinya terdapat 3 buah goresan.



Tidak salah lagi, itu memang sketsa dirinya. Naruto menbelalak mata melihatnya. Tapi, kenapa bisa?



" Sudah begini, kau masih berniat mengelak? " Suara Tsunade yang bernada serius itu bergema memenuhi ruang *Hokage.*



Naruto memangkat wajahnya sambil tercengang, tapi tinju Sakura ternyata telah menantinya.



" Uwaaah!? "



" Narutoooo!! " Dengan segenap tenaga, Salura meninju wajah Naruto. " Jangan melakukan hal yang mengundang kesalahpahaman! "



Naruto terhampas sampai akhirnya menabrak dinding dan terjatuh.



" Si bodoh ini! " Sakura naik ke atas tubuh Naruto, menghajar wajah pemuda itu sampai babak belur. " Katakan dengan jelas, dong! Kau tidak melakukan apa pun, kan!? "



Kalau saja Kakashi dan Yamato tidak bersama sama menghentikan tinju Sakura, mungkin Naruto *Uzumaki* sudah jadi tinggal nama.



" Nona Tsunade! " seru Sakura dengan rambut acak acakan. " Ini pasti sebuah kesalahan! Sebodoh apa pun Naruto tak mungkin melakukan hal seperti itu! "



" Diamlah! "

__ADS_1


__ADS_2