Naruto Blood Prison

Naruto Blood Prison
Dunia Seorang Diri part 8


__ADS_3

"Ups." Orang tersebut menangkap tubuh sipir yang telah pingsan dan oleng ke belakang, kemudian menariknya kebalik bangunan. "Jangan menyalahkanku, ya."


Semenit setelahnya, sipir yang keluar dari balik bangunan itu berjalan ke arah yang berlawanan dari menara pengawas. Dia membuka buntalan kain. Dia menyembubyikan patanya di balik topi sipirnya dan menutupu wajahnya, lalu berjalan sampai ke gerbang kastil. Kemudian, dia berseru di depan kantor yang terletak di dekat pintu staf.


"Aku akan pergi keluar untuk menunaikan tugas dari taun Mui. Buka gerbangnya."


2 orang sipir yang berjaga di delamnya menatap lekat sipir tersebut.


"Tugas dari tuan Mui?" Tanya seseorang. "Tugas apa?"


"Siang tadi, ada orang yang beranu menentang tuan Mui kan?" Lelaki itu menjawabnya dengan jawaban yang telah disiapkan sebelumnya. "Aku di minta tuan Mui mengembalikan jasad tersebut ke desanya demula."


Sipir yang berjaga tadi memicingkan mata.


"Kau tahu bagaimana tuan Mui, kan?" Sipir itu mengangkat buntalan kainnya. "Sebenarnya, hati beliaulah yang paling terluka."


Kedua sipir yang berjaga itu bertukar pandangan.


Keringan dingin terasa mengalir jatuh melewati punggungnya. Kalau sampai ini gagal, selanjutnya mau tidak mau dia harus menumbangkan kedua orang ini!


Tapi, sepertinya dia tak perlu cemas. Seorang sipir yang berjaga itu menganbil majalah dari atas meja, san seorang lainnya lagi menekan tombol, membukakan kunci pintu staf.


"Makasih."

__ADS_1


Pintu staf terbuka. Di depannya, terbentang padang Hozuki yang rimbun itu bergemerisik ditiup angin laut.


Sipir dengan buntalan tadi perlahan keluar dari Kastil Hozuki, berjalan melewati padang rumput. Semakin jauh dari gerbang kastil, langkahnya semakin cepat, dan akhirnya dia berlari kecil.


"He he he. Aku akhirnya terbiasa dalam menciptakan bunshin. Harusnya takkan ketahuan kalau hanya untuk mengambil absensi."


Dia berlari sekuat tenaga sampai topinya diterbangkan angin.


"Tenro takkan berefek jika aku berada di dalam air." Naruto yang menyamar menjadi sipir, berlari dengan menendangi hozuki yang tersebar di tumput. "Seberapa cepat pun aliran laut ini, harusnya aku tetap bakal bisa mengatasinya jika beranang mati matian."


Suara deburan ombak terdengar rendah, seolah merupakan peringatan. Burung petrel badai terbang berkeliling, keluar masuk rongga di baru karang. Begitu dekat ujung tebing, krikil kerikil kecil di kakinya berjatuhan ke laut.


Untuk waktu yang lama, Naruto hanya menatap permukaan laut yang terbentang di bawahnya. Banyak ombak bergulung gulung di laut ganas itu. Juga bebatuan tajam. Dan yang paling ekstrem, tebing itu sangat tinggi sampai sampai Naruto tekjub.


Dia mebepuk pipi dengan kedua tangan, mengobarkan keberaniannya. Kemudia, dia mengoleskan ludah ke lubang telinganya, berlari dan melompat sekuat tanaga.


Harusnya deperti itu.


"!" Tepat sebelum melompat, Naruto tersandung batu sampai kehilangan keseimbangan sehingga dia terjatuh dari tebing dengan kepala di posisi bawah. "Uwaaaaa!"


Dia semakin mendekat ke karang karang tajam yang berputar putar.


"Uwaaaaa! Harusnya aku memang menyerah sajaaaa!"

__ADS_1


Tak ada lagi yang dapat dilakukannya.


Dia angkat tangan.


Saat dia berfikir hidupnya ternyata harus berakhir sesingkat ini, mendadak tubuhnya berhenti meluncur.


Terimakasih Telah Membaca


Jangan lupa like, komen episode ini ya.


Kalian juga bisa baca chat story dan novel yang ini:


- Pembasmi Covid-19


- Hanako and Yashiro


- Naruto Blood Prison


- Naruti Shippuden


Sampai jumpa di episode selanjutnya, bye bye


Ig: indahdesitadw

__ADS_1


__ADS_2