
" Tu, tunggu! "
" Mau lagi? Kau pikir, ini sudah meberapa kalinya? "
" Jangan ngomong sedingin itu. " Naruto mengatupkan kedua tanganya, berlutut seolah sedang berdoa pada orang yang ada di hadapannya. " Ya Shikamaru? "
" Jangan ngawur. " Shikamaru menolak tegas. " Aku sudah tidak mau meladeninu dalam permainan Shogi sepayah ini lagi. "
" Sepayah ini, katamu........ "
Keduanya duduk mengapit papan Shogi di bangku yang ada di toko permen, saling bertukar pandangan tajam.
Itu sore hari yang tenang. Cuaca musim panah di hari ini tidak terlalu terik, langit cerah tak berawan, suara jangkrik entah kenapa terdengar lembut..... Pagi harinya, pandangan Naruto terdistraksi saat secara kebetulan lewat di depan toko bunga Yamanaka. Bunga bunga berwarna orange dipajang secara melimpah. Tapi, kalau di lihat baik baik, ketimbang di bilang bunga, tanaman itu lebih pantas di bilang buah. Buah berbentuk seperti lentera taman berukuran kecil, menghiasi bagian dalam sampai luar toko. Gara gara itu, tampilan depan toko dihiasi warna cerah.
" Itu Hozuki. " Terdengar suara Ino yang sekarang sedang menjaga toko. " Soalnya ini musimnya ziarah ke makam. "
Makanya, Naruto menggunakan uangnya yang hanya ada sedikit itu untuk membeli Hozuki. Dia mempersembahkannya ke depan makan Jiraiya, duduk di atas rerumputan dan berbicara sendirian di sana. Secara nonstop dia melaporkan soal keadaan desa belakangan ini, jutsu baru yang sedang dilatihnya, soal Tsunade yang seperti nya marah, maupun soal Kakashi yang ternyata mengoleksi serial Icha Icha dengan membeli 2 buku untuk masing masing judul, 1 untuk disimpan, dan 1 untuk disimpan.
Pulangnya, dia kebatulan berpapasan dengan Iruka dan kembali ditraktir ramen setelah sekian lama. Sungguh satu hari yang memuaskan. Berkat aktivitasnya membersihkan makam secara menyeluruh tadi, Naruto merasa sampai hatinya pun ikut jadi bersih. Purutnya pun menggembung terisi Ramen.
__ADS_1
Karena itu, saat melihat Shikamaru dan Choji yang sedang berkumpul di depan tomo permen, Naruto merasa hari ini dia bisa menang dalam Shogi.
\*\*\*
" Menyerahlah, Naruto, " Ucap Choji sembari memenuhi pipinya dengan keripik kentang. " Tak mungkin kau menang dari Shikamaru. Lagi pula, kenapa kau masih saja bersikeras menantangnya meski sudah kalah sekitar 200 kali? "
" Berisik! Tak mungkin aku kalah sebanyak itu, kan!? " Hardik Naruto pada Choji. " Jangan mengejekku sialan. "
" Kalau begitu, memang sudah berapa kali kau menang? "
" Eh? Yah..... mana mungkin aku ingat dengan begituan. "
" Berisik! " Naruto bersedekap dan mendorongnya tubuhnya ke atas papan Shogi. " Aku hari ini cuma mengalah. Mana mungkin aku kalah darimu. "
" Orang yang merepotkan. Bakal kutegaskan lagi, kalau sampai kalu ini kau membalikan papan Shogi nya, aku takkan mau main lagi denganmu. "
" ... "
__ADS_1
" Kelihatan jelas, tuh. Lagi pula, mana mungkun kau bisa menang Shogi hanya dengan peruntungan? "
" Heaaaaa! " Naruto mengacak acak rambutnya, lalu mengangkat buah Shogi nya. Kemudian di menutup mata dan menghantamkannya ke atas papam Shogi tersebut. " Kalau sudah begini, apa pun terjadilah! Aku sudah putus asa! "
" ! " Shikamaru menatap papan Shogi dengan ekspresi tidak percaya. " 7 delapan jendral perak..... Serius, nih? "
" Apaan, sih? "
" Eh? " Naruto mengejapkan mata. " Benarkah!? "
" Kalau arah yang kau tuju benar, permainan akan skakmat di tujuh langkah lagi. "
" Tidak mungkin Naruto mengarahkannya dengan benar, " Sahut Choji sambil mengunyah ngunyah kripik kentangnya. " Shikamaru, kau terlalu cepat menyerah. "
" Memang dalam Shogi, aku masih bisa membalikan keadaan. Tapi, jika dalam pertarungan lawan mengeluarkan langkah ini, aku hanya bisa angkat tangan. "
" Siiiiip! " Seru Naruto. " Aku menang! Menang! Aku menang Shogi lawan Shikamaru! Hari ini aku memang sedang beruntung! "
__ADS_1
Choji hanya mengedikkan bahu dengan wajah jengah.