
Selamat Membaca
Ruangan berukuran kecil itu terbuat dari bebatuan yang permukaannya kasar. Ada jendela kecil di sisi dinding dekat langit langit, namun karena tidak ada lubang anginnya, udara di dalam pintu jadi terasa pengap. Cuaca sangat panas. Tapi, Naruto tidak tahu apa hawa panas ini disebabkan oleh material ruangan tersebut, atau gara gara dirinya sendiri.
Seekor tikus berjeliaran di sana.
Naruto Uzumaki yang berbaring di lantai betu itu bersimpah keringat, tubuhnya penuh luka dan kotoran. Keringat yang mengalir dari tubuhnya itu sampai membentuk genangan air kecil.
Dalam 3 hari ini, sudah banyak kegagalan dari eksperimen yang dilakukan untuk mencari cara mengendalikan cakranya. Setelah berusaha mati matian, dia akhirnya hanya paham kalau selama Tenro masih terpasang di tubuhnya, untuk membuat 1 bunsih saja dia sudah kewalahan.
"Sialan, mana mau aku kalah....." Dengan limbung, dia menekuk lututnya dan berusaha bangkit sendiri, lalu menjalin cakra dengan segenap tenaganya. "Rasengan!"
'Kalau Taju Kage Bunshin no Jutsu memang mestahil.....'
Naruto menggeretakan gigi, menahan hawa panas yang membakar tubuhnya. 'Yang bisa ku coba selanjutnya hanyalah Rasengan!'
Cakra di tangannya bersinar, berputar spiral, dan mulai memperlihatkan bentuk bola. Bersamaan dengan itu, jantungnya bertambah panas.
"Aku takkan menyerah....." Dia mengerahkan segenap tenaganya ke bagian perut, memusatkan seluruh konsetrasinya ke Rasengan yang mulai menggembung. "Uwoooooh!"
Seiring dengan makin besarnya Rasengan sedikit demi sedikit, kepulan asap keluar dari tubuh Naruto. Asap putuh mengepul keluar dari mulut, telingan, hidung, dan seluruh pori pori di selujur tubuh Naruto.
__ADS_1
Isi kepala nya serasa berputar putar, seolah otaknya telah mendidih.
"Sialan..... Masih belum!"
Sekujur tubuhnya gemetaran. Namun, seberapa banyak pun tenaga yang dikerahkannya, Rasengan itu tak kunjung membesar lebih dari itu. Naruto jatuh berlutut sebelah kaki seking tidak bisa menahannya, dan saat itu jaga cakra di tangganya meletup.
"Hosh..... hosh..... hosh..... Lagi lagi gagal..... hosh..... hosh....."
Naruto berbaring terlentang di tenagh tengah ruang isolasi tersebut, memukul lantai dengan kedua lengannya. "Sialan, aku harus bagaiman!"
Cakranya tak dapat terjalin.
Berarti, dia sudah kehilangan kesempatan membersihkan nama baiknya, kehilangan harapan untuk kembali ke desa, serta kehilangan dasar dirinya tetap menjadi Naruto.
Kosong.
Seraya masih terengah engah, Naruto mengingat ingat kembali dan menggambarkan panorama kastil yang dilihatnya dari atas dinding kastil waktu itu. Menara pengawas memang membelakangi lautan, tapi meski dia berhasil melimpat ke dinding kastil dari atap sekalipun, selama mesij tidak bisa menjalin cakra, Naruto takkan bisa melampai dia lapis dinding tersebut.
'Bagaimana dengan menara kastil.....'
Dengan cepat, Naruto langsunh meniadakan rute tersebut. Para sipir penjaga di menara kastil. Kemungkinan, para anjing pun dipelihara di sana. Meski bisa mengakali para sipir, Naruto tak kan bisa mengakali penciuman anjing anjing.
__ADS_1
Kalau sudah begini, yang masih memiliki kemungkinan walau memang kecil hanyalah rute melewati gerbang kastil. Gerbang kastil sedikit lebih pendek dibandingkan dinding kastil. Jika menelusuri dinding sampai ke gerbangitu, bisa saja.....
Pemikirannya langsunh terpecah begitu namanya dipanggil.
".....?"
Masih sambil terlentang di lantai, Naruto mendongak untuk menatap jendela kecil di dinding.
"Tuan Naruto Uzumaki?" Terdengar lagi suara dari luar jendel. "Apa anda ada di dalam?"
"Siapa?" Dai membangkitkan tubuhnya. "Kenapa kau mengenalku?"
"Saya tidak perlu sampai mengebutkan nama. Ketimbang itu, apa anda ingin keluar dari tempat ini? Dengan kata lain, kelur dari Kastil Hozuki ini?"
"Eh?" Refleks, pantat Naruto terangkat dari lantai. "Memangnya bisa begitu?"
"Bisa."
"Beri tahu aku! Apa yang harus kulakukan!?"
Terimakasih Telah membaca
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya