Naruto Blood Prison

Naruto Blood Prison
Dunia Seorang Diri part 4


__ADS_3

Selamat Membaca


Tapi, semakin berusaha mengenyahkannya dari kepala, keberadaan Mui melah terasa makin besar.


"Aaagh!" Naruto mengacak kepalanya. "Apa apaan ini?"


Karena itulah Naruto berniat untuk push-up saja, tapi justru gerakan menonton beritme itu malah membuatnya mengingat banyak hal.


'Bagi shinobi, perintah Desa adalah mutlak..... Kalau tidak salah, waktu pemeriksaan fisik, ada yang bilang begitu, ya.'


Seraya bernagas lewat mulut, Naruto melanjutkan push-up.


'Desa adalah membenaran rasional shinobi. Makanya pembunuhan yang dilakukan demi Desa selalu dibenarkan.....'


"Benar juga, sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat orang berbandana hijau pucat itu..... Eh, mana mungkin aku bisa melihatnya! Habisnya, aku terus dimasukan ke ruang isolasi ini....."


'Bukan kau yang membuang pembenaran rasional tersebut. Pembenaran itulah yang telah membuangmu.....'


Push-up seberapa banyak pun, kepalanya tidak kunjung kosong. Suara Tsunade lah yang malah terngiang di telinganya.


'Bawa dia pergi!'

__ADS_1


Jangan jangan, memang dirinya lah yang salah. Pemikiran itu berkuncup dalam hati Naruto, dan dalam sekejap langsung berakar. Selama ini dia telah mempertaruhkan nyawanya demi Desa. Tapi, jangan jangan hanya dirinyalah yang berpikir demikian, sementara Desa sendiri menganggapnya merepotkan?


Energi berkumpul ke lengan yang menumpu tubuhnya naik.


'Teori kejutan..... Seluruh kejadian ini bisa saja hanya lelocon yang dilakukan secara berbelit belit. Bagaimana pun juga, gelagat tidak wajar Nek Tsunade, Kakashi sensei, dan Kapten Yamato terlalu mencurigakan. Nanti mereka sebenarnya akan bilang, "Cuman bercanda, kok!". Kalau memang begitu...., kalau memang begitu.....


..... kalau ternyata bukan begitu?'


"Bukan!" Naruto menggebrak lantai batu. "Tak mungkin..... Desa membuangku!"


'Jiwaku terasa terinjak injak, seolah aku telah mengunci suatu pintu yang takkan terbuka lagi untuk selamanya. Misalnya Desa Konohagakure memang merancang seluruh kejadian itu demi menyingkirkan ku.....'


Tubuhnya melemas. Naruto yang sudah tak bisa memikirkan apa pun lagi berbaring menyamping, kemudian mendekap mulutnya dan meringkup.


'Orang yang sebelum ini, ya!?'


Naruto yang refleks berfikir demikian langsung melompat ke arah tersebut dan berpegangan erat pada jerujinya.


"Jangan katakan ini pada siapa pun, lho. Mungkin saja tuan Mui akan menjadi Kader Fraksi Buah Kusa. Jika memang begitu, berarti bukankah sebentar lagi Kusagakure akan mulai parang dengan suatu pihak?"


"Dulu beliau tidak seperti itu." Sepertinya yang berbicara di luar adalah para sipir. "Dulu, beliau orang yang ceria dan lebih sering tersenyum. Tapi, sejak putranya tewas, tuan Mui jadi seperti itu."

__ADS_1


"Ooh....." Suara pertama tadi menyahut. "Aku tak percaya orang itu bisa tersenyum."


"Soalnya kau orang baru, sih. Saat ini pun tuan Mui masih memiliki sisi lembut, lho."


"Apa misalnya?"


"Di sini ada tuga peringatan untuk orang orang yang telah tewas, kan?"


"Yang ada di belakan menara kastil?"


"Aku berkali kali melihat tuan Mui mempersembahkan benga ke tugu tersebut. Sipir sipir pun masih memercayai tuan Mui, meski mereka tidak mengatakannya."


"Para pendukung Fraksi Buah Kusa pun juga demikian?"


"Iya."


"Apa yang telah terjadi pada putra tuan Mui?"


"Entahlah. Kita, para bawahan, memang tidak mengetahui apa pun," sahut suara itu. "Tapi, konon sekitar 10 tahun lalu, mendadak putranya tersebut tewas."


'10 tahun lalu.....'

__ADS_1


Naruto turun dari jendela tersebut, kemudian menyederkan punggungnya pada dinding.


'Apa yang dulu telah terjadi pada paman Mui, ya?'


__ADS_2