
Suara bising menggema. Lolongan layaknya hewan saling beradu di balik jeruji besi. Menyumpah-nyumpahi orang-orang berseragam yang membawa mereka kemari dengan bukti.
Hari ini, Vino Sebastian telah ditetapkan untuk bertugas di Kota Jakarta. Tanpa sambutan hangat. Tak seperti polisi baru lainnya yang sudah terstempel koneksi.
Apalah daya anak Yatim-Piatu yang tak berharta.
Dibawah naungan kota Jakarta pula, mulai hari ini, Vino Sebastian berjanji akan mengulik kasus calon kakak iparnya yang dinyatakan tewas sebulan yang lalu.
Iya. Vino hanya masih belum puas. Kenapa bisa secara tiba-tiba, Sandi Alvero dinyatakan meninggal.
Dikremasi tanpa persetujuan dari pihak keluarga?
Tiba-tiba Sherly Alvero juga mendapatkan pendonor. Mengingat bertahun-tahun dia harus membuta?
Dan semua kecurigaan yang masih memenuhi otak dan pikiran Vino adalah, Addison.
Awalan yang akan menuntun Vino adalah Addison.
Addison bukan sembarang nama. Nama ini adalah salah satu nama keluarga ternama di Indonesia.
Sangat kebetulan juga, atasan yang akan membimbing Vino Sebastian adalah anak sulung dari keluarga ternama tersebut.
Christ Addison.
Christ Addison tipikal lelaki yang santai. Kelewat santai malah. Dia hanya ingin menikmati hidupnya. Jadi, dia memilih untuk menjadi seorang Polisi yang kerjanya hanya duduk-duduk saja dengan kursi yang cukup mahal.
Benar. Memang Christ menjadi seorang Polisi jalur belakang.
"Gue nggak bisa ngomong formal nggak apa kan ya? Jadi jangan panggil gue Bapak atau Om, ya. Karena gue juga belum kawin, dan gue juga bukan cowok yang nikahin bibi, lo. Jadi, panggil gue abang ajah. Oke?!" Jelas Christ, lalu mengulurkan tangannya pada Vino.
Tentu Vino menjabat tangannya. Tidak lupa tersenyum manis. "Oke, Bang. Tapi, saya ini dari kampung, jadi belum terbiasa pake lo-gue, ya, Bang." Ucap Vino yang diangguki oleh Christ.
"Gue suka anak kampung kok. Polos-polos gimana gitu. Gampang digoblokin," canda Christ yang memang selalu kelewatan.
Vino menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "pedes juga ya omongannya si Abang ini," tuturnya polos, sepolos wajahnya saat ini.
Christ bangkit dari duduknya. Mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di mejanya, lalu ia pun mengambil langkah untuk meninggalkan pekerjaannya. Setelah mengatakan, "yaudah. Udah jam pulang gue ini. Balik, ya. Selesein semua kerjaan, yaaa ..., fighting!" Tak lupa dengan kedua tangannya yang ia kepalkan dan bertingkah layaknya anak TK yang bersemangat untuk pulang.
Seperti biasanya.
Padahal waktu masih menunjukkan pukul 11.00. Bahkan kalau boleh jujur, lelaki tak bertanggung jawab ini, datang tepat pukul 08.00.
Vino hanya menggelengkan kepalanya heran, lalu bergumam. "Enaknya jadi orang kaya."
__ADS_1
Enaknya jadi orang kaya.
Enaknya jadi orang kaya.
Dan enaknya jadi orang kaya.
Orang-orang kaya spesies Christ memanglah penikmat dunia.
Bukannya ke pulang ke rumah, ia malah mampir ke sebuah kafe.
Ia menghampiri Denis yang sedari tadi duduk dengan resah-gelisah.
Denis cepat-cepat bangkit saat netranya mendapati batang hidung Christ. Denis pun melambai, dan dibalas oleh Christ secuek-cueknya.
"Duduk, Bang." Denis mempersilakan Christ duduk.
"To the point ajah, ya. Gue sibuk. Belum kasih makan Anjing ama Babi gue," kata Christ, lalu mengeluarkan sebuah USB dari kantong dalam jaketnya.
Christ menaruhnya di atas meja. Tepat di hadapan Denis yang sedari tadi tak berkedip sedikitpun semenjak kedatangan Christ.
"Lo percaya ama gue, kan ya Bang?" Tanya Denis memastikan.
Christ tanpa permisi mengambil minuman milik Denis yang tinggal setengah. Menyedotnya habis. "Terus kalo gue percaya ama lo, lo mau kasih gue apa? Gue udah punya segalanya btw."
Lo jual- gua beli.
Christ yang apa-apa kesinggungan kalau menyangkut adiknya, dia pun menatap intens Denis yang masih saja memasang raut menjengkelkan.
Di matanya.
"Emang lo kenapa sih, yakin banget kalo Arsen itu udah mati! Tau dari mana, lo, Njing?!" Christ dan Chery itu satu rumah produksi. Jadi wajar kalau ceplas-ceplos.
"Ya, bayangin ajah. Mobil Arsen itu ditabrak mobil-mobil gede. Kanan-Kiri lagi, Bang. Ya masa iya, dia masih idup sih?! Kan nggak sesuai nalar tuh," sangkal Denis.
"Eh, gue kira, lo yang bunuh dia, Monyet!" Ceplos Christ merubah air muka Denis detik itu juga.
"Dih si Abang kalo ngomong suka bener. Ya nggaklah Bang. Bunuh orang tuh dosa Bang. Mana sanggup gue nanggung dosa segede itu sih, Bang. Liat ini muka gue sesuci ini. Mana cocok bunuh orang," katanya sok suci.
Christ mendecih tak suka. "Muka kayak kutil kuda ajah bangga. Ganteng tuh kayak Arsen tuh. Mirip Kim Seokjin, yang adek gue kegila-gila banget ama BTS."
Kalau sudah menyangkut kegantengan hakikinya member BTS yang selalu dikagumi Chery. Denis bisa apa?
Memang faktanya. Kim Seokjin lebih tampan darinya.
__ADS_1
"Yaudah, btw makasih ya, Bang. Udah kasih gue filenya korban tabrakannya si Arsen." Denis pun bangkit dirasa urusannya telah usai.
Ia, Denis meminta dokumen resmi terkait korban kecelakaan mobil yang menimpa Arsen kemarin. Satu-satunya korban jiwa hari itu. Sandi Alvero.
"Lah si ******. Gue baru ajah duduk, Nyet! Main tinggal-tinggal ae!" Christ pun ikut bangkit.
"Lah, katanya situ sibuk. Mau ngasih makan Anjing ama Babinya,"
"Lah, kan Anjing ama Babi gue, elu, Nyet!"
Denis yang tak mau korban sarkasme, memilih diam, lalu melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
"Lo udah bayarkan, Njing!" Teriak Christ. "Belom. Lu ajah yang bayar, Bang. Sedekah ama orang kaya sekali-kali, ya." Denis balas berteriak tanpa menoleh sedikit pun.
"BENERAN ANJING-BABI, LO, NYET!"
Christ kembali mendudukan dirinya. Ia menatap gelas yang tak berisi di hadapannya. Dalam. Ia tatap dalam-dalam sisaan tetesan dingin di luar gelas panjang tersebut. "Kalo udah nyangkut masalah elo, Dek. Abang pasti turun tangan. Lo orang tersayang Abang."
Chery memang orang teristimewa bagi Christ.
Namun tidak bagi Archery.
Wanita cantik ini memiliki angka tertentu.
Nomor satu tentunya ia tetapkan untuk Tuhan.
Nomor dua ia isi dengan Denis--tadinya.
Namun nomor dua saat ini ia kosong.
Chery tahu, kalau Arsen telah pergi. Arsen sempat mengisi kekosongan nomor dua beberapa jam kala itu.
Yang Chery tak habis pikir, saat kecil dulu, dia begitu bersemangat saat tahu Arsen Penyelamatnya dari orang gila dulu. Tapi jawaban Arsen saat itu hanya tersenyum, dan iya-iya saja. Padahal Chery ingin tahu lebih lanjut detail kejadian setelah ia meninggalkan Arsen saat itu.
Iya, tak habis pikir. Sampai rasanya Chery bosan, dan menganggap Arsen hanya sebatas sahabat.
Sosok semangat untuk ingin tahu lebih dalam tentang Arsen perlahan memudar.
Tapi, sosok lelaki yang kini tengah sibuk membolak-balikkan kertas yang membuat laki-laki tersebut mengerutkan keningnya itu, mulai mengobrak-abrikkan hati Archery.
Tanpa Chery sadari, senyuman setulus mungkin melengkung indah di kedua sudut bibirnya. 'Arsen lucu banget sih pasang muka serius kayak gitu.'
Sadar sedari tadi dipandang, Arsen pun mengangkat kepalanya, lalu menatap Chery yang masih menatapnya dengan senyuman yang masih saja manis.
__ADS_1
Dan entah kenapa, terasa candu bagi Arsen palsu ini.
"Mba kenapa senyum-senyum gitu? Ini jam 12 siang pas loh, Mba."