New Life Begins

New Life Begins
25. Chery hamil


__ADS_3

Sejak kemarin, Chery terlihat aneh di mata Sandi.


Sama, Sandi pun tak nafsu makan, tapi Chery lebih parah, makanan belum masuk ke mulutnya, dia sudah muntah duluan. Sandi pikir, mungkin karena efek, Chery yang terus menangis dan menyalahkan dirinya atas kepergian Sherly.


Sandi rasa pun, Chery menghindarinya. Setiap Sandi ingin berbicara, Chery pasti pergi ke kamar Vino. "Vino panggil aku. Aku mau ke kamarnya dulu, sekalian ngcheck dia, udah makan belum. Udah tidur apa belum."


Ah, ya untuk Vino. Sekarang Vino tinggal bersama mereka, karena Sandi pikir akan lebih aman. Awalnya Vino menolak, tetapi karena tangisan Sandi yang tidak diduga-duga, "Vin, nurut ama kakak. Kakak nggak mau kehilangan siapa-siapa lagi." Vino luluh pun dan menuruti permintaan Sandi.


Sungguh Sandi ingin menceritakan tentang panggilan Christ kemarin, dan ia ingin membuat rencana bersama Chery, tetapi Chery seperti tak memberinya ruang. Bahkan saat ini Chery tidur dengan posisi memunggunginya.


Sandi ikut tidur dengan posisi yang sama seperti Chery. Miring sebelah kanan. Tangan kiri Sandi terulur, mengelusi puncak kepala Chery dengan lembut. Sandi ingin Chery tertidur lelap. "Tidur sayang. Jangan mikirin apa-apa lagi, ya." Sandi pun mengecup punggung Chery cukup lama. Menghirup aroma lavender khas Chery yang selalu membuatnya kecanduan. Lalu Sandi memeluknya tanpa ada paksaan.


Sementara Chery, sekuat tenaga ia menahan agar tak terisak. Kedua matanya masih terbuka. Sejujurnya, dia bingung menghadapi Sandi. Tidak mungkin kan, Chery bercerita kalau dirinya tengah hamil disaat Sherly baru saja pergi? Lagi pula, kehadiran bayinya malah membuat posisi Sandi berada dalam bahaya. Jadi, Chery bingung dengan jalan pikiran dan hatinya sendiri.


"Aaakkkhhh ...," Chery tiba-tiba meringis, ia remas perutnya kuat-kuat. Tiba-tiba saja perutnya terasa amat keram. Sandi yang masih belum sampai ke alam mimpi pun, terbangun. Sandi pun terduduk, lalu ia balikkan tubuh Chery.


Chery tak menolak, karena keram di perutnya semakin menjadi.


"Sakit bagian mana?" Tanya Sandi cukup panik, melihat Chery yang kesakitan seperti ini.


Chery tak kuat akan emosinya. Ia pun malah memeluk Sandi, dan menangis sejadi-jadinya di sana.


Sandi mengelusi punggung Chery dengan lembut. "Sakit banget, ya?" Chery pun mengangguk.


"Aku panggil Dokter ajah, ya. Kamu tunggu sini dulu," Sandi hendak menarik tubub Chery, namun Chery malah semakin mengeratkan pelukannya.


Sandi menghela napas sejenak, lalu ia kembali mengelusi punggung Chery. "Badan kamu juga panas ini, tunggu sini dulu, ya. Biar aku telpon dokter biar ke sini periksa kamu." Chery malah menggelengkan kepalanya keras.


"Jangan pergi. Aku nggak mau kamu tinggal!" Pinta Chery masih sambil menangis histeris.


"Iya, iya, aku nggak pergi. Udah ya, kamu benerin dulu posisinya. Kamu apa nggak sesek napas kayak gini terus, hmmm?" Chery pun mengubah posisinya menjadi terlentang dengan bantuan Sandi.


Sandi tersenyum manis, lalu ia usap air mata Chery dengan kedua ibu jarinya. "Kamu dari kemarin diemin aku terus, sekalinya ngomong malah kayak kerasukan gini. Ada-ada ajah ya kamu, tuh. Kan akunya jadi takut," canda Sandi yang berhasil membuat isakan Chery sedikit demi sedikit surut.


"A-ku juga nggak m-mau gini, t-tapi tiba-tiba a-ajah." Ucap Chery sesenggukan.


Senyum Sandi semakin lebar, kepalanya pun turun, mendekati wajah Chery yang merah padam karena menangis. Sandi tempelkan hidung mancungnya dengan hidung Chery yang juga mancung. Menggerakkan ke kanan dan ke kiri. Chery pun akhirnya tertawa kecil, lalu ia tersenyum sembari menangkup kedua pipi Sandi. Menatapnya begitu dalam dengan pandangan teduhnya.

__ADS_1


"Udah tenang? Tadi masih sakit nggak perutnya?" Tanya Sandi yang diangguki oleh Chery.


Chu!


Chery mengecup singkat bibir Sandi, membuat Sandi lagi-lagi tersenyum manis. Ia pun memosisikan dirinya tertidur di samping Chery dengan terlentang. Tangan kirinya sibuk mengelusi perut Chery yang sakit.


Pandangan Sandi pun teralihkan pada wajah Chery, begitu dengan Chery yang tengah menatapnya. "Dari kemarin aku liat kamu pegangin perut terus. Emang akhir-akhir ini kamu sering kram perut apa gimana? Apa sebentar lagi jatah kamu haid? Tapi kayaknya, masih lama deh, kemarin-kemarin bukannya baru selesai, ya?"


Chery mendadak tegang, ia pun spontan menepis tangan Sandi yang tengah mengelusi perutnya dengan kasar. "Tapi aku lagi nggak hamil kok!" Bentak Chery.


Deg!


Sandi bukan terkejut karena mendengar nada bicara Chery yang keras, dia hanya terkejut dengan kata-kata yang wanitanya ini bunyikan. Padahal Sandi juga tak bermaksud menyinggung kalimat itu.


Tetapi ....


Kalau dipikir-pikir lagi, Chery yang sejak kemarin bertingkah aneh. Dia yang menghindarinya, Chery yang selalu terlihat lelah, Chery yang berubah-ubah mood dengan signifikan, suhu tubuh Chery yang sering meningkat dan Chery yang selalu ia pergoki tengah kram perut.


Chery hamil ....


Bukanlah hal yang mustahil.


Sandi genggam kedua tangan Chery kuat-kuat. "Jujur sama aku. Kamu lagi hamil, kan?"


Chery menggelengkan kepalanya keras. Pandangannya kini teralihkan menatap jendela kamar.


"Jangan malingin wajah kamu, coba kamu tatap aku. Ngomong kalo kamu nggak hamil, kamu bisa nggak?"


Chery terdiam. Dia bingung harus menjawab apa?


"Kamu lagi hamil, kan?" Ulang Sandi.


Chery kembali menggelengkan kepalanya. Dan lebih keras lagi.


"Ry, kalo emang kamu lagi hamil, kenapa kamu bohong. Emang salah ya kalo kamu hamil? Anak merupakan anugerah luar biasa dari Tuhan. Seharusnya kamu bahagia dong. Aku juga pasti ikutan bahagia." Sandi pun kembali mengelusi perut Chery.


Chery masih terdiam, air matanya mulai mengalir tanpa sepengetahuan Sandi. Dia pun menggelengkan kepalanya lagi. Namun kali ini pelan nan lembut.

__ADS_1


Sandi menghela napas pasrah, "besok Mas Christ minta ketemuan ama aku. Tapi cuman aku sendiri. Aku nggak tau apa yang akan terjadi sama aku, jadi aku mau kamu jujur. Kamu lagi hamil, kan? Kalo iya kamu hamil, jadi ada tambahan kenapa aku harus balik, Ry."


Deg!


Kali ini Chery yang terkejut dengan kata-kata yang dibunyikan Sandi. Chery pun cepat-cepat mengalihkan pandangannya pada Sandi, lalu ia pun berposisi yang sama seperti Sandi.


Pluk!


Chery memeluk Sandi erat, dan isakannya kembali keluar. "Iya aku lagi hamil. Aku nggak mau kamu tau, soalnya Bang Christ tau aku hamil. Anak ini sial banget! Dia hadir malah justru buat bahaya bapaknya--"


"Siapa bilang anak yang kamu kandung anak sial, huh?!" Kali pertama ini Sandi membentaknya.


Sandi menarik tubuh Chery lalu menatapnya tajam, namun di sana juga terdapat kasih sayang yang penuh. "Anak yang kamu kandung merupakan anugerah Tuhan. Dia hadir karena kasih dan cinta aku sama kamu. Tuhan hadirin dia buat hubungan kita semakin erat. Kamu nggak boleh ngomong gitu lagi. Dia hadir karena Tuhan memberkati, itu sudah jadi takdir Tuhan, Ry. Kita sebagai manusia hanya bisa menerima dan menjalaninya." Terang Sandi, yang berhasil membuat Chery menangis lagi.


Pluk!


Sandi pun memeluk Chery begitu erat. Sambil mengelusi punggung istrinya agar tenang. "Aku nggak lagi ngomelin kamu, jadi udahan ya nangisnya," katanya begitu lembut.


Chery menganggukan kepalanya pelan, "tapi maafin aku, ya. Aku salah. Aku juga nggak enak ngomongnya, apalagi aku hamil disaat Sherly baru aja pergi."


Sandi menarik tubuh Chery perlahan, lalu ia tatap manik indah istrinya yang selalu membuatnya terpana. "Itu udah jadi takdir Tuhan. Kamu jangan berpikiran yang enggak-enggak lagi, ya."


Chery pun mengangguk lalu berusaha menghentikan tangis.


"Kamu udah coba tespek?"


"Udah, tapi hasilnya masih samar. Mungkin posisinya, aku masih belum telat haid,"


"Tapi kok cepet banget, ya, kamu hamil--"


"Kamu nggak percaya ini anak kamu, huh?!"


"Bukannya gitu, tapi heran ajah. Ternyata ada juga ya, yang langsung cepet gitu. Hampir semingguan apa, ya?"


"Ya, kan kita lakuinnya pas waktu produktif juga, kan!"


"Eh, kamu tau dari mana?"

__ADS_1


"Aku liat Google. Katanya waktu produktifnya tuh antara jam sembilan sampe jam satu malam gitu."


__ADS_2