New Life Begins

New Life Begins
22. Tirai panggung ditutup


__ADS_3

Vino *******-***** kepalanya begitu cemas sambil menunduk. Menatap sepatutnya yang kotor karena berlarian sana-sini. Lagi-lagi kepalanya menyembul dengan raut terkejut lagi takut, saat ia dengar pintu ruang operasi terbuka.


Vino bangkit, hendak menanyakan keadaan Sherly di dalam sana. Namun baru saja Vino mendekat, perawat yang masih mengenakan seragam operasi itu pun berlari. Mengabaikan Vino.


Pintu ruang operasi kembali tertutup sempurna. Vino kembali terduduk dengan kalut. Tangannya tremor, kepalanya pusing. Sungguh tak karuan. bahkan lelaki ini sesekali terisak, kalau pemikiran yang bukan-bukan terlintas.


Baru saja pagi menjelang siang ia mendapat kabar baik.


Iya, dia yang memang sedang menyelidiki kasus kecelakaan yang menewaskan kakaknya, secara tiba-tiba saja ada panggilan masuk yang diprivate. Dan tidak disangka, ia diminta untuk menemui seseorang yang niatnya, besok ia akan temui.


Arsena Cloude.


Vino melihat resume Arsen nyaris sempurna, tak ada sangkut pautnya dengan Sandi Alvero. Mereka hanya memiliki wajah yang mirip saja. Tapi, Vino hanya ingin memastikan saja. Jadi, dia memang berniat untuk menemuinya, kalau kasus yang sedang ia kerjakan telah usai.


"Vin, kamu ama Sherly baik-baik ajah, kan?" Setelah mendengar Sandi berkata seperti itu. Vino yakin, kalau orang yang ia temui siang ini adalah Sandi.


Vino tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Rasa haru, bahagia, dan sedih bercampur aduk. Iya, senang bukan kepalang.


Vino ingin bergegas pulang, lalu memberi kabar baik ini pada Sherly.


Tak perlu bukti bagi Vino. Karena ia tahu jelas bagaimana sifat, sikap bahkan logat Sandi yang memang sudah menjadi orang Kota. Vino tahu.


"Kebetulan banget sih, ya. Lo pindah ke sini, dan lo bawahan kakak gue." Chery benar-benar takjub, setelah mendengarkan semua cerita dari Vino.


Vino mengangguk setuju. "Iya. Aku ajah kaget. Aku kira, kebetulan kayak gini itu cuman ada di sinetron-sinetron," Vino sama takjubnya dengan Chery.


Dunia memang sekecil ini kah?


Mereka pun menjadi akrab dalam beberapa menit.


Sandi satu-satunya orang yang diam. Sandi tengah berpikir keras. Ia bahkan tak sadar kalau minuman yang ia sedot telah habis.


Vino dan Chery yang mendengar suara berisik dari aktivitas Sandi pun, sontak mengalihkan pandangannya pada Sandi.


Sandi yang tiba-tiba ditatap pun, menatap balik mereka dengan wajah yang bingung.


"Kenapa?" Tanya Sandi masih mengemut sedotannya.


Vino dan Chery kompak mengintrupsi gelas Sandi dengan mata mereka yang sedikit didelikkan.


Sandi pun menatap gelasnya.


Ia melepas sedotannya, lalu tersenyum malu. Tangan kanannya pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Chery memicingkan matanya, "mikirin apaan sih? Sampe nggak sadar kalo minumnya abis?" Tanya Chery yang diangguki oleh Vino.


Sandi menggeleng pelan. "Nggak papah. Cuman kepikiran ama kata-kata tadi," ungkap Sandi.


Chery dan Vino sama-sama ngbug!

__ADS_1


"Yang mana?" Tanya mereka berbarengan.


Ketiganya kaget sendiri.


Sandi terkejut, karena Chery dan Vino kenapa bisa cepat akrab hanya dalam beberapa menit.


Chery dan Vino terkejut, karena mereka pikir, sifat mereka yang sebelas dua belas.


Chery dan Vino pun terbahak beberapa detik, sambil memukul bahu satu sama lain.


"Kebetulan kayak gitu emang cuma ada di sinetron-sinetron sih?!" Sandi mengulangi ucapan Vino tadi. Membuat Chery dan Vino mendadak terdiam.


Sandi langsung menatap Chery, "apa kakak kamu punya kuasa buat milih anggotanya sendiri?"


Vino ikut mengalihkan pandangannya pada Chery.


Chery mengangguk dengan polosnya.


Wajah Sandi semakin serius, "apa waktu Mas Arsen kecelakaan, yang ngurus aku sama Mas Arsen juga kakak kamu?" Chery yang ditanya pun mendadak terkejut.


Ia sampai membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.


Vino tiba-tiba membulatkan matanya sempurna.


Memang masuk akal juga.


"Kakak gue emang nggak pantes maaf dari kalian," celetuk Chery dengan suara pelan. Sedih dan kecewa karena kakaknya sungguh jahat.


Sandi mengangguk paham. "Mungkin karena Mas Arsen juga punya rencana cadangan, jadi Mas Christ juga buat rencana cadangan."


Vino dan Chery pun mengangguk paham.


Sifat Christ terkenal dengan santai dan semaunya sendiri, Chery pun mengakuinya. Tetapi kalau menyangkut kemauan, Christ sangat menyeramkan.


Jadi, Christ sengaja membawa Vino dan Sherly ke Jakarta untuk rencana cadangannya.


Tapi kenapa? Untuk apa?


"Sherly di rumah kan? Mas Christ nggak tau rumah kamu, kan?--eh, percuma ajah, dia kan polisi jadi pasti tau." Entah kenapa ada rasa takut tertuang di kalimat Sandi barusan. Bahkan Chery dan Vino pun merasakannya.


Vino menelan ludahnya dalam-dalam. "Sewa rumah yang nyariin emang Bang Christ. Kak, Mba."


Sandi dan Chery terkejut bukan main.


Christ memang selevel dengan Arsen.


Mereka sama-sama pandai bermain di balik layar.


"Yaudah, habis ini kamu bisa langsung pulang kan, Vin?" Tanya Sandi yang diangguki oleh Vino.


"Semua kasus yang saya tanganin udah selesai, tinggal kasih laporan ajah. Tapi besok juga bisa sih." Jawab Vino.

__ADS_1


"Yaudah, kita bubaran ajah sekarang. Vino pulang, terus aku ama kamu ke rumah. Aku kepikiran soal berkas-berkas yang ditinggal Arsen. Aku takut, Ndi."


Dan tak berselang waktu lama, mereka pun meninggalkan area cafe. Vino lebih dulu melenggang dan disusul dengan si Pasutri.


"Gimana keadaannya, Vin?" Tanya Sandi yang baru saja datang dengan berlari.


Peluh membanjiri kepala dan lehernya. Sandi menelan ludahnya dalam-dalam, lalu menatap ruang operasi yang masih berlangsung.


Chery tidak datang bersama Sandi. Chery mengatakan kalau dia akan menyusul Sandi. Chery hanya ingin menemui kakaknya sebentar. Awalnya Sandi tak setuju, namun bagaimana pun juga Christ adalah kakak kandung Chery, dan Christ pun sangat menyayanginya. Jadi, Sandi memperbolehkan Chery untuk pergi.


Posisi Sandi dilema, antara ikut dengan Chery atau ke rumah sakit. Tapi Chery yang bijak, dia mengatakan kalau adiknya lebih membutuhkannya. Lagi pula hanya sebentar. Jadi Sandi percaya bahwa Chery akan menyusulnya.


Vino mengangkat kepalanya, menatap pedih wajah Sandi yang sama kacaunya dengan dirinya.


"Udah 3 jam berlangsung kak, tapi Dokter belum keluar-keluar." Kata Vino, lalu Sandi pun mengambil posisi duduk di samping adiknya ini.


Merangkulnya untuk memberi semangat meskipun dirinya juga kacau.


Isak Vino pecah detik itu juga. Sandi pun mencoba menenangkannya.


Sandi tahu, bahwasannya Vino sangat mencintai adiknya dengan tulus. Apalagi Vino menyaksikan bagaimana Sherly terkulai lemas dengan bermandikan darah. Vino pasti terpukul berat.


"Inget, nangisnya sambil doa juga ya buat, Sherly." Kata Sandi sambil terus mengelusi Vino agar tenang.


Isakan Vino berangsur mereda. Ia pun mengangguk paham.


Sementara di dalam ruang operasi, Sherly melakukannya dengan baik.


Sang Dokter pun akhrinya bernapas lega, operasi berjalan dengan lancar. Lalu ia pun menyuruh asisten pendampingnya untuk menyelesaikan operasi.


Dokter bedah utama pun keluar bersama beberapa perawat dari ruang operasi. Yang langsung disambut dengan Vino dan Sandi, yang akhrinya bisa bernapas lega karena operasinya berjalan dengan lancar.


"Pasien mengalami pendarahan internal, jadi operasinya memakan waktu yang lama. Tapi setelah ini, pasien akan dipindahkan ke ruang ICU untuk pemulihan. Setelah pulih, baru akan dipindahkan ke bangsal umum."


Tapi bukan rencana Christ namanya, kalau Sherly sampai selamat. Christ hanya ingin Sandi tahu, kalau dia tidak sekadar bermain-main.


Sherly yang bisa bernapas lewat ventilator pun, merasakan sesak luar biasa saat ventilator tersebut dicabut paksa oleh asisten pendamping dokter tersebut.


Semua grafik di monitor pun tiba-tiba bergerak cepat. Dan berbunyi tak karuan.


Semua perawat yang ada di sana mengangguk paham.


Dada Sherly naik-turun. Bahkan embusan napasnya terdengar amat nyaring. Sherly bahkan sempat tersadar sesaat saking sesaknya sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya.


Sementara Vino dan Sandi yang menunggu di luar, mereka terus menatap ruang operasi yang tak kunjung membawa keluar Sherly.


Deg!


Seperti gempa yang datangnya tiba-tiba, seorang perawat keluar dari ruang operasi dengan berlari. Melewati keberadaan Vino dan Sandi untuk mencegah si Dokter bedah utama yang baru saja beberapa langkah lagi hilang dari persimpangan.


"Dokter pasien mengalami serangan jantung!" Teriak perawat itu, sang Dokter pun menghentikan langkah, lalu berbalik, kemudian ia berlari yang lagi-lagi melewati Vino dan Sandi yang mematung.

__ADS_1


__ADS_2