
Clara berulang kali memencet bel rumah Arsen.
Tak ada jawaban.
Clara ingin menghubungi Chery, tapi ia juga tak memiliki kontak Chery. Bahkan id IG, FB, Line, Twitter bahkan Tiktok pun sudah Clara cari, tapi Clara tak menemukannya. Mungkin saja, Chery menggunakan nama samaran.
Clara yang sudah kehabisan ide pun, mengirim DM ke semua akun Arsen, karena memang lelaki itu selalu memakai dengan namanya. Tapi tetap saja, Clara tak mendapat jawaban.
Clara baru ingat, Denis pernah mengatakan, kalau Arsen sebenarnya sudah tiada. Sosok Arsen yang sekarang, entah itu siapa, Clara tak kenal dan juga tidak ingin kenal.
Kenapa Clara berani mendatangi kediaman Arsen? Apa Clara tak takut akan diamuk oleh Chery?
Masa bodo bagi Clara. Itu urusan nanti. Sekarang ada yang lebih penting.
"Kenapa nggak dibuka-buka sih?! Yakin deh, kayaknya Chery lagi sama Denis. Tiba-tiba hapenya mati. Dia kalo gini, ya berarti lagi ama Chery!"
Tin-tin!
Clara cepat-cepat berbalik saat ia dengar klakson mobil mengintrupsi dirinya, dan ia lihat kalau Chery dan suaminya keluar dari mobil.
Chery terkejut lagi murka. Bukan. Bukan karena Chery tahu kalau wanita itu adalah pelakor hubungannya dengan Denis dulu, tetapi Chery teringat ketika Clara menyamar menjadi perawat, dan membuat Sandi hampir mati.
Sandi bersikap seperti biasa, karena memang dia tidak kenal dengan wanita yang masih berdiri di depan pintu pagar itu.
Tap!
Chery langsung menggenggam tangan kanan Sandi erat, lalu ia sembunyikan Sandi di balik punggungnya yang mungil. Mata nyalang menatap Clara.
"Mau apa lo ke sini, Anjing!" Bukan sapaan ramah si Tuan Rumah yang Clara dapat, tapi Clara memaklumi. Karena dia juga merasa bersalah, terlebih lagi saat melihat Sandi.
Clara menghela napas kasar, lalu ia dekati Chery dengan langkah yang pelan.
Chery otomatis termundur, menubruk tubuh Sandi.
"Mau apa lo, Anjing!" Chery masih belum puas mensarkas.
"Lo tau dimana Denis? Biasanya kalo hapenya mati, ya lagi ama elo, kan?" Tanya Clara yang entah kenapa terdengar seperti tuduhan bagi Chery.
Chery menghedikkan bahunya. "Mene ketehe! Ngapain gue urus tuh Monyet!" Sandi malah terlihat menahan tawa, melihat Chery yang memang serampangannya bukan main.
"Udah 3 hari ama ini dia nggak balik. Gue udah coba telpon, sms, wa, dm semua akun media sosialnya. Tapi ama dia nggak dibales, jadi gue berani-beraniin ke sini." Jelas Clara, yang malah mendapat tatapan jengah dari Chery.
"Selingkuh kali tuh orang," ceplos Chery yang langsung mendapat pelototan dari Clara.
"Lo kalo ngomong kayak Anjing!" Clara juga tak kalah ceplosnya.
Chery maju selangkah, dan Clara pun termundur selangkah. "Anjing ngomong Anjing!" Teriak Chery.
__ADS_1
"Sini lo maju Njing!" Tantang Chery.
"Ayo sini Njing!" Clara pun meladeni.
Srettt!
Mereka pun saling adu jambak, membuat Sandi mau tidak mau harus turun tangan.
Sandi pun berdiri di tengah-tengah, dan berusaha melepaskan tangan keduanya. "Udah ihhh malu, diliatin tetangga."
Ya memang benar apa adanya sih. Beberapa tetangga yang melihat adegan tersebut pun langsung mencibir. Maklum Netizen.
"Duhhh padahal masih manten baru, udah selingkuh ajah suaminya."
"Padahal istrinya cantik banget, bisa-bisanya diselingkuhin."
"Orang tua ceweknya salah milih mantu itu."
"Kasian banget istrinya, ya. Selingkuhannya padahal nggak secantik istrinya."
"Bentar lagi jadi janda itu istrinya. Apa mau dimadu kali, ya itu."
Tak kala Chery pun mencuri dengar. Ia pun melepaskan Clara, begitu pula dengan Clara. Sandi pun bernapas lega.
Iya, Sandi juga mendengar. Tapi dia tidak peduli, toh dia sudah biasa digosipi. Asal gosipnya tak mencemari Chery-nya saja.
"No ghibah no life ya! Tuh mulut bukan untuk ghibah. Apaan sih! Suami saya tuh orang baik, ya! Daripada ghibah mending itu mulut buat cari kebaikan sana! Ngurus diri sendiri ajah belum becus! Ini ngurusin urusan orang!" Amuk Chery yang tak terima Sandi dijelek-jeleki.
Sandi hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung harus bersikap seperti apa? Dia pun hanya memosisikan dirinya di samping Chery sembari mengelusi punggung istrinya dengan lembut.
Para ibu-ibu pun malah semakin mencibir, lalu kembali melanjutkan kegiatan masing-masing.
Clara yang menyaksikan Chery pun malah terkagum-kagum, dan bisa Clara simpulkan, tidak mungkin Denis ada di sini. Melihat Chery yang seperti itu, Clara yakin kalau Chery benar-benar menyukai suaminya.
"Kayaknya emang gue salah deh dateng ke sini. Yaudah maap, ya, gue balik." Pamit Clara.
"Yaudah sana balik! Lagian nggak ada yang ngundang lo juga!" Ketus Chery, dan Clara melotot lagi.
"Dah hush ... hush ... hush ...." Usir Chery, yang mendapat tendangan di tulang keringnya.
Iya, saking jengkelnya Clara karena mulut Chery yang sepertinya tak pernah disekolahkan itu.
Chery mengaduh, Sandi pun cekatan berjongkok dan mengelusi tulang keringnya. "ANJING LO EMANG!"
Clara hanya membalasnya dengan tangan yang terangkat ke udara. Kelima jari dikepal, dan jari tengah yang ia sembulkan.
**** you!
__ADS_1
Tap! Srettt!
Sandi yang romantis pun mengudara. Ia pun menggendong tubuh ramping istrinya ala bridal style. Membuat Chery lupa akan amarahnya tadi.
"Udah ah, kamu marah ajah cantik, apalagi senyumnya coba." Sandi memberi gombalan alayers yang mampu menerbitkan senyum bahagia Archery.
"Ayo kita masuk. Terus istirahat. Besok kan kita harus dandan rapih. Kamu nggak sabar ketemu ama adek ipar, kan?" Ujar Sandi yang diangguki begitu antusias oleh Chery.
Mereka pun masuk ke dalam rumah.
Tamu tak diundang memang kadang-kadang membuat Tuan Rumah kelimpuhan bukan?
Ada yang menyambut dengan baik. Ada juga setipe dengan Chery tadi.
Berbeda dengan kediaman Vino Sebastian.
Sherly membuka pintu, dan ia lihat tamu yang tak diundang itu adalah seorang lelaki tampan yang usianya sudah sangat matang untuk menikah. Tetapi lelaki ini, tak minat untuk menikah. Karena orang terkasihnya sudah dimiliki oleh orang lain.
Sherly melihatnya dengan seksama, dia pun tersenyum manis ketika melihat tag name di seragam kepolisian seperti kekasihnya.
Christ Addison.
Sebelumnya Sherly sudah diberitahukan oleh Vino, kalau atasannya ingin sesekali berkunjung ke rumahnya. Dan Sherly tidak sangka, hari itu akan datang juga.
"Kamu istrinya Vino apa pacarnya Vino?" Bukannya salam atau sapa, Christ malah mencandai Sherly.
Sherly pun tersipu.
"Bapak bisa ajah. Yaudah ayo, Pak, masuk," tawar Sherly masih mempertahankan senyuman indahnya.
Sherly dan Christ pun memasuki rumah sederhana yang Vino sewa. Memang cukup jauh dari tempat kerja Vino, namun karena biaya sewa perbulan cukup murah, jadi Vino pun mengambilnya.
Sherly pun menaruh ponselnya di atas meja, lalu ia pergi ke area dapur untuk mengambilkan minum.
Ponselnya berkedap-kedip, beberapa pop-up WA masuk. Christ yang terduduk dengan posisi sejajar dengan ponsel Sherly pun tentunya membacanya.
'***Yang kalo ada orang yang ke rumah jangan dibuka pintunya.'
'Kamu nggak akan percaya, kalo Kak Sandi itu masih idup. Aku tadi habis ketemu Kak Sandi ama istrinya.'
'Ceritanya panjang. Nanti aku ceritain semuanya***.'
"Jadi Chery udah tau semuanya? Arsen emang brengsek! Udah jadi ****** ajah lo masih nyebelin!" Gumam Christ bak angin yang lewat.
"Bapak mau saya buatkan kopi apa teh?" Tanya Sherly dari dapur.
Christ menatap Sherly. Memang tak akan dilihat oleh Sherly, tetapi Christ tetap tersenyum. Dengan sangat-sangat manis. "Saya mah apa ajah. Yang penting dibuatnya pake cinta ajah."
__ADS_1