
Siang menjelang sore, suasana pun kian tegang. Chery masih saja menangis, sesekali memberontak ingin mendekat ke arah petugas polisi dan Timsar untuk ikut mencari Christ dan Denis. Namun, Vino menjaganya ketat. Tak mau Chery yang keadaan normal saja dia nekat, apalagi di keadaan seperti ini bukan?
Sekitar dua puluh menitan, Christ dan Sandi berhasil dievakuasi. Secepatnya Tim Medis memberikan pertolongan pertama pada mereka.
Chery dan Vino mendekat, bisa mereka lihat betapa pucatnya Christ dan Sandi yang berada di dalam air begitu lama. Ditambah pula luka-luka yang menghujami tubuh mereka.
Kedua Dokter itu masih berupaya melakukan CPR pada Christ dan Sandi, namun sudah lima menit berlangsung, Keduanya tak merespon sama sekali.
Chery sudah pusing setengah mampus melihat kedua lelaki yang amat dia sayangi seperti ini. Rasanya Chery juga ingin terjun dari atas jembatan sana dan pergi menyusul mereka. "Bang, Sandi. Bangun! Woy!" Teriak Chery masih dengan tangisan histerisnya.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Christ pun terbatuk-batuk, lalu dengan segera Dokter itu memberikan masker oksigen pada Christ untuk membantu pernapasannya. Kedua mata Christ terbuka setengah, kesadarannya mulai terkumpul, banyak suara masuk ke telinganya. Dirinya masih dihantam lelah, namun sayup-sayup ia mengalihkan pandangannya ke samping. Melihat Sandi yang masih diupayakan untuk terbangun seperti dirinya. Christ menyeringai, namun dirinya yang masih lemah tak berdaya pun kembali jatuh ke alam bawah sadar, dan segera di bawa ke mobil ambulan untuk dilarikan ke rumah sakit.
Dokter yang menangani Sandi masih melakukan CPR, bahkan ia mengintrupsi salah satu perawat untuk membawakan alat pemacu jantung.
Chery masih belum bisa bernapas lega, tubuhnya semakin meringsut lemas ketika ia lihat jantung Sandi dipacu namun masih tetap tak ada respon dari Sandi.
Brukkk!
Chery terkulai lemas di kaki Vino. Tangisannya berhenti ketika ia lihat pacuan ketiga pun Sandi masih belum sadarkan diri. Dokter kembali melakukan CPR untuk Sandi.
"Ndi bangun. Gue butuh lo, Ndi." Ucap Chery dengan nada sehalus mungkin. Bahkan seperti angin lewat, saking hilang semua tenaga yang dimilikinya.
Lima menit kemudian, Dokter yang memberikan CPR pada Sandi menggelengkan kepalanya, lalu menatap Chery dan Vino bergantian. Berisyarat kepada mereka, agar mereka mau mengikhlaskan kepergian Sandi.
Chery dan Vino menggelengkan kepalanya kompak, tentu mereka tidak menerimanya. Mereka yakin, Sandi masih bisa diselamatkan.
"Dokter, jangan berenti. Sandi masih belum bangun. Suami saya belum bangun," Chery bersikeras lalu ia pun merangkak mendekati Sandi.
Vino juga ikut mendekat, jatuh terduduk sama seperti Chery. Air mata Vino pun jatuh, ia juga tidak bisa menerima kepergian Sandi. Jaraknya terlalu dekat dengan Sherly, bahkan sampai sekarang pun Vino masih merindukan Sherly-nya.
Sang Dokter menghentikan aktivitas CPR-nya, dan ingin menyatakan kematian Sandi, namun Chery malah mendorongnya, menatapnya begitu sengit nan benci. "Bisa-bisanya lo nyerah gitu ajah. Dasar Dokter nggak guna!" Sarkas Chery, lalu ia pun mengambil posisi untuk melakukan CPR pada Sandi.
Sementara Vino membisu. Ia tidak akan mencegah apapun yang ingin Chery lakukan.
Salah satu tim medis lainnya ingin menghentikan apa yang dilakukan Chery, karena perilaku Chery saat ini sama saja melukai harga diri para Tim Medis.
"Ndi, bangun. Lo katanya mau liat perut gue besar, huh?!"
"Bangun, Ndi!"
__ADS_1
"Anjing banget lo!"
"Sandi, Anjing!"
Chu!
Chery memberikan napas buatannya, lalu ia kembali menekan-nekan dada Sandi. Ia lakukan itu selama lima menitan, dan ...,
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Chery segera ditarik ke belakang oleh salah satu tim medis, begitu pula dengan Vino yang sudah mengundurkan dirinya dengan sukarela.
Secepatnya Sandi diberikan masker oksigen sama seperti Christ tadi.
"Kamu tahu ini dimana? Kamu tahu siapa kamu?" Tanya sang Dokter yang diangguki oleh Sandi dengan begitu lemah.
Sandi pun akhirnya dibawa ke mobil ambulan. Chery memaksa ikut, sementara Vino memakai jasa polisi yang mau mengantarkannya ke rumah sakit. Iya, karena Vino dan petugas polisi lainnya juga ingin mengambil keterangan.
Di dalam ambulan, Chery kembali menangis. Namun bukan tangisan takut dan kesepian seperti tadi, melainkan tangisan haru nan bahagia. Sandi-nya, menepati janjinya untuk kembali. Bahkan Chery tak henti-hentinya menghangatkan jemari tangan kiri Sandi yang terbebas infus untuk ia genggam.
Sandi masih dalam kesadarannya, meskipun nyaris matanya menutup, namun ia bisa lihat dengan jelas wajah Chery yang berlinang air mata namun tetap amat cantik baginya.
"Jangan tutup mata kamu, ya." Pinta Chery yang diangguki oleh Sandi. Chery pun tersenyum di dalam isakannya. Lalu ia cium punggung tangan Sandi begitu lama.
Chery terdorong ke depan, dan tiba-tiba saja mobil ambulan terhenti. Hati Chery kembali diremat, ia tatap wajah Sandi yang ternyata tengah menatapnya.
Tes!
Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya, sebisa mungkin Sandi tersenyum dikondisinya yang amat lemah. "M-maaf, ya." Katanya begitu lemah.
Chery menggeleng kuat, lalu ia lihat ke arah depan. Petugas di sampingnya sudah mengintrupsi agar mobil kembali berjalan, namun tak ada respon.
Tiba-tiba pintu dibuka paksa, lalu sepasang tangan menarik paksa ranjang Sandi untuk dikeluarkan. Chery menahannya, karena ia takut antek-antek kakaknya masih berkeliaran.
"Tenang Bu, ini kami emang diminta supaya pasien ganti mobil. Mobilnya ini mogok," katanya, lalu Chery meminta penjelasan pada petugas yang duduk disampingnya.
Petugas itu pun mengangguk, lalu Chery pun membiarkan mereka mengambil Sandi bersama dirinya yang ikut keluar.
Deg!
Chery terkejut bukan main setelah ia dan Sandi benar-benar keluar.
__ADS_1
Kakaknya tengah menodongkan pistol ke arahnya, lalu bergantian ke arah Sandi.
Dan benar saja, antek-antek kakaknya ini masih ada dimana-mana. Orang yang menyupiri ambulan Sandi tadi merupakan salah satunya, namun tidak untuk petugas yang duduk bersamanya tadi.
Mereka kini berada di tengah-tengah jalanan sepi yang Chery juga tidak tahu di daerah mana kini mereka berada.
Yang jelas, Sandi semakin melemah dan sangat butuh pertolongan.
"Kita mati bareng di sini, dek. Lo harus liat kita mati!" Tegas Christ, lalu menarik pelatih pada pistolnya.
Dorrr!
Chery tak bisa berekspresi apa-apa lagi.
Bahkan tubuh dan wajahnya terkena percikan darah Sandi.
Christ tertawa terbahak-bahak, luka tusukan yang ia ukir pada perut Sandi membesar, dan ia mengagumi karyanya itu.
Sandi memuntahkan darah di balik masker oksigennya. Alat bantu pernapasan yang ia pakai saat ini seperti tak ada gunanya. Sandi kembali jatuh ke alam bawah sadar perlahan.
"Silakan lo pergi dek. Bawa Sandi ke rumah sakit. Dia masih belum mati kok, gue emang sengaja nggak nembak dia ke otak atau bagian vital lainnya. Biar lo nostalgia ke si Arsen. Dia mati pelan-pelan di depan, lo!" Katanya lalu menyeringai tajam.
Petugas yang tadi duduk bersama Chery memeriksa nadi dan denyut jantung Sandi. Memang masih ada, namun begitu samar. "Bu, kalo kita masih diem ajah di sini. Kemungkinan besar pasien nggak ketolong lagi." Timbrungnya, menyadarkan lamunan Chery yang tadi kemana-mana.
Chery menatap Sandi. Kedua matanya terpejam erat dengan darah dimana-mana mengotori wajah tampannya.
"Gue tunggu lo di alam baka, ya!" Ucapnya sambil menodongkan pistolnya pada pelipisnya
Dorrr!
"Aaakkkhhh brengsek!" Ringis Christ, saat bahunya terasa amat perih bersamaan ia menjatuhkan pistolnya.
Dari kejauhan sana, terlihat Vino beserta gerombolan polisi datang.
Dua antek Christ spontan meloloskan diri, namun tembakan melumpuhkan kaki mereka, dan mereka pun berhasil dibekukan.
"Kamu nggak boleh mati segampang itu, Bang. Kamu harus bayar semua dosa-dosa kamu di balik jeruji besi, Bang!" Vino mendekat, lalu memborgol Christ.
Christ tertawa sarkas. "Padahal lo kesayangan gue tau. Makanya lo nggak gue abisin kek si Sher--"
Plak! Plak!
__ADS_1
Vino menampar pipi Christ berulang, wajahnya kesal setengah mati. "Kamu nggak pantes sebut nama Sherly!" Tegas Vino, yang lagi-lagi mendapat seringaian dari Christ.
Vino beralih pada Chery, "Mba bisa bawa mobil kan. Ngebut juga bisa kan? Ugal-ugalan juga nggak papah. Gaspolin ke rumah sakit!" Kata Vino lalu Chery pun mengangguk paham.