New Life Begins

New Life Begins
19. Sandi untuk Chery. Chery untuk Sandi.


__ADS_3

Pagi menjelang. Bagi Chery dan Sandi, hari kemarin merupakan hati terpanjang yang pernah mereka lewati.


Selepas acara terjun, dan berakhir dengan pengakuan dari keduanya, mereka pun kembali ke rumah.


Mandi, berganti pakaian, makan lalu berakhir di atas ranjang. Dan mereka lakukan secara bersamaan.


Tak seperti kemarin-kemarin lusa. Hari kemarin, merupakan titik awal bagi hubungan mereka.


Seperti saat ini. Tubuh mereka polos. Masih betah di dalam satu selimut. Bahkan sinar matahari yang masuk lewat celah-celah jendela pun tak mengusik mereka sedikit pun.


Sebenarnya, baik Chery maupun Sandi, mereka sama-sama sudah terbangun. Hanya saja, mereka gugup, jadi mereka berpura-pura tidur.


Chery ingin Sandi bangun lebih dulu, karena bagaimana pun ia wanita. Tidak mungkin kan, dia yang nenatap Sandi duluan?


Sandi ingin Chery bangun lebih dulu, karena bagaimana pun juga, Sandi merasa dia tidak kuasa atas segala hal. Rumah, bahkan kamar ini pun bukan punyanya, yang dia punya hanyalah cinta untuk Chery. Jadi, Sandi cukup segan dengan memikirkannya saja.


Tapi ...,


Keduanya saling memergoki saat salah satu mata mereka masing-masing terbuka untuk mengintip.


Keduanya menghela napas bersamaan, kemudian tertawa karena merasa lucu.


"Udah ah bangun. Kamu tuh jadi cowok peka coba!" Akhrinya Chery membuka kedua matanya, lalu menatap wajah bantal Sandi, yang ternyata laki-laki ini sudah melek.


Lagi menatapnya begitu dalam. Dan jujur saja, Chery sudah senam jantung saat ini juga.


Wajah Chery yang tengah bersemu pun disentuh Sandi. Lelaki itu mencubit pipi kanan Chery gemas, lalu ia tersenyum hangat. "Jadi, ini rasanya ya pegang pipi cewek. Ternyata enak banget, ya." Ungkapnya begitu polos.


Chery mengambil tangan Sandi, lalu menciumnya cukup lama. Kemudian ia tatap Sandi, tatapan yang begitu mengejek menurut Sandi. "Jangan-jangan, kemarin itu ciuman pertama kamu, ya?" Tuduhnya gemas.


Kini giliran pipi Sandi yang memerah. Ia pun mengangguk dengan begitu polosnya. Membuat Chery gemas, lalu Chery tangkup kedua pipi suaminya ini.


Ada sedikit candaan nakal yang terlintas di otak Chery. Iya, dia ingin menggoda suami sahnya ini.


"Pipi aku enakan dipegang?"


Sandi mengangguk polos. Sambil tersenyum polos juga tentunya.


"Ada yang lebih enak tau. Mau coba nggak?"


Senyum Sandi surut, lalu ia tatap Chery serius.


Ya, bagaimana pun juga Sandi adalah lelaki jantan. Jadi, dia juga sudah mengerti apa maksudnya.


"Yang atas ama yang bawah itu?"


Chery ngbug.


Padahal ia yang ingin menggoda, tapi mendengar Sandi berkata seperti itu, kenapa jadi dia yang tergoda?


"Dihhh mesum banget sih?!" Cibir Chery yang tak boleh goyah, kalau dia pihak yang harus menggoda.


Sandi tertawa nakal, lalu melirik Chery penuh gairah. "Ya kan namanya suami-istri. Nggak papahlah mesumin istri sendiri. Nggak dosa juga kan ya?"

__ADS_1


Chery menahan napasnya sejenak.


Jangan, Ry. Jangan termakan!


"Ya tapikan--"


Chu!


Chery spechless ....


Sandi tiba-tiba saja mencium bibirnya. Meskipun sebentar lagi ringan, tapi jatuhnya malah mabuk kepayang.


"Kok gitu?" Tanya Chery dengan raut mengambek.


Alis Sandi bertaut bingung, "gitu apanya?"


"Kenapa cium aku?" Tanya Chery lagi lalu memanyunkan bibirnya lucu.


Alis Sandi makin mengerut.


Ini Chery tidak ikhlas apa bagaimana sih?


"Lah emang kenapa? Emangnya salah cium istri sendiri?"


Chery mengangguk lucu.


"Kenapa kamu cium aku bentar? Kenapa nggak yang lama? Emangnya bibir aku nggak manis ya?"


Istrinya ini benar-benar menggemaskan. Pantas saja Arsen menggilainya.


Chu! Chu! Chu!


Sandi mencium singkat bibir Chery tiga kali, lalu ia tersenyum, "manislah. Buktinya ajah, aku ketagihan," Chery yang mendengarnya pun tersipu. "Lagi dong, aku juga ketagihan ama rasa bibir kamu, Yang--"


"Opsss!"


Chery keceplosan. Cepat-cepat ia masuk ke dalam selimut.


Sandi yang terkejut beberapa detik kemudian, senyumnya merekah sempurna. Ia pun mengikuti jejak Chery.


Masuk ke dalam selimut, lalu menggelitiki istrinya.


Suara tawa Chery menggelegar. Apalagi Chery tipikal wanita yang gampang sekali gelinya.


Keadaan itu berlangsung beberapa menit, lantaran Chery yang meminta ampunan pada Sandi, agar tak menggelitikinya lagi.


"Mau mandi bareng kayak kemarin nggak?" Tawar Chery yang langsung diangguki oleh Sandi.


"Tapi gendong aku ya?" Pinta Chery yang lagi-lagi diangguki oleh Sandi.


"Mau gendong yang kayak gimana? Di punggung apa?--"


"Gendong di depan bisa?"

__ADS_1


Sandi tertawa sesaat, lalu ia mengangguk paham.


Istrinya ini memang menggemaskan.


Mereka pun berlanjut ke acar mandi, lalu turun ke lantai satu untuk persiapan sarapan.


Untung saja hari ini libur. Jadi, setidaknya mereka bisa menikmati kebersamaan seharian penuh. Ya, alih-alih untuk mengganti bulan madu mereka yang tak pernah terpikirkan.


Sandi dan Chery sudah ada di area dapur.


"Kamu emang bisa masak, Yang?" Tanya Sandi, yang tentu saja ia curiga, anak manja lagi konglomerat seperti Chery mana bisa?


Bukan rahasia umum lagi bukan?


Chery melipat kedua tangannya di dada dengan raut angkuhnya yang semakin menawan.


"Dihhh ngeremehin aku!"


Sandi beraut menantang lagi mengejek, "yakin bisa masak? Paling-paling liat Google kan?" Sungguh Sandi tak bosan mencandai istrinya ini.


Chery yang mulai termakan ucapan Sandi pun, ia mencubit pinggang Sandi tanpa ampun. Sandi mengaduh pun, Chery tak peduli.


"Nyebelin banget sih, awas ajah kalo udah jadi masakannya makan!" Kesal Chery dengan berkacak pinggang.


Sandi mengelusi pinggangnya yang tak berdosa. "Masa suaminya nggak dikasih makan sih?! Kan dosa kayak gitu,"


Chery tak mau kalah, "yang habisnya ngejek-ngejek gitu. Emangnya kamu bisa masak apa?"


Sandi tersenyum polos, lalu menggeleng pelan.


"Tuh, kan!"


"Ya kan, aku sibuk cari uang. Paling aku beli makanan sehabis kerja. Soalnya, adek aku juga kan nggak bisa liat. Aku juga nggak ada waktu buat belajar masak. Takut nggak enak juga, kan mubazir kalo nggak kemakan."


Chery bungkam. Kalau sudah menyangkut pahitnya kehidupan Sandi, Chery bisa apa?


Pluk!


"Selalu ajah aku yang kalah kalo adu argumen ama kamu," ucap Chery sembari memeluk Sandi erat. "Bukannya kamu kalah, cuman ajah kamu kasian kan ama aku. Aku nggak papah kok. Aku belum bisa gombal ajah, makanya aku ngomongnya pake kenyataan. Maaf ya kalo nyinggung kamu."


Chery menarik kepalanya, kemudian ia berjinjit.


Chu!


Chery mencium Sandi. Cukup lama sampai ciuman mereka bertahap intens.


Sandi tak ingin leher Chery sakit, ia pun mengangkat tubuh Chery ke atas meja dapur tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Cukup lama, sampai kedua perut mereka berbunyi, ciuman mereka pun usai. Lalu mereka tertawa bersama.


"Ganggu ajah ya perut." Kata Sandi yang diangguki oleh Chery.


"Oh iya, ini mah aku udah pertimbangin semua hal. Gimana kalo kita jujur ajah ke Vino ama Sherly, kalo kamu itu masih idup, Yang. Sekalian ajak Vino ama Sherly masuk ke rencana kita gimana? Kayaknya kalo mereka nggak tau apa-apa aku malah takut ya?"

__ADS_1


__ADS_2