New Life Begins

New Life Begins
6. Christ Addison


__ADS_3

Sudah hampir semingguan Arsen berada di rumah sakit. Dengan penjagaan ketat pula, tapi siapa sangka, bahwasannya dari kedua keluarga tidak ada yang tahu kalau ia tengah dirawat.


Chery berbohong pada ibu dan mertuanya, dia mengatakan kalau mereka sedang berbelanja madu dan tidak bisa diganggu untuk saat ini. Iya, karena Chery berbohong, kalau dia berbulan madu di pulau yang tak ada sinyal sama sekali.


Kondisi Arsen berangsur membaik, bahkan lelaki tampan itu tengah melahap sarapannya. Untung saja, dia cepat mendapatkan pertolongan saat Denis meracuninya.


Dan perlu diketahui juga, sejak Arsen tersadar empat hari yang lalu, sifat Chery menjadi begitu posesif terhadap Arsen.


Hal sekecil apa pun yang berkaitan dengan Arsen, dia menjadi sentimentil.


Arsen yang sudah menghabiskan sarapannya pun hendak turun dari ranjang. Dia ingin pergi ke kamar mandi.


Baru saja Arsen ingin menyeret tiang infusnya, tiba-tiba Chery bangkit dari duduknya, dan mengambil alih tiang infus Arsen. "Gue temenin," tutur Chery yang tidak menerima penolakan.


Arsen menghela napas pasrah. Jujur saja, Arsen cukup risih dengan kelakuan Chery akhir-akhir ini. Arsen malah lebih menyukai sifat Chery yang angkuh dan tidak pedulian.


Bukan.


Bukannya Arsen tidak suka dimanja atau tidak suka diperhatikan. Hanya saja, hubungan mereka hanya terikat kontrak. Arsen juga sudah menjelaskan, kalau masalah kemarin ia diracuni hanya sebuah imbas dari keterkaitan kontrak, dan Arsen masih hidup saat itu saja sudah menjadi kesyukuran tersendiri.


Arsen tidak menyalahi Chery. Sungguh!


Hanya saja, dari lubuk hati terdalam Arsen, dia benar-benar merasa aneh. Padahal ia tidak menyukai sedikit pun wanita angkuh di hadapannya ini. Namun, tingkahnya yang posesif ini, malah terlihat cukup menggemaskan di mata Arsen.


Arsen merasa dilema.


Bolehkah ia merasa seperti ini?


Merasa sedikit bahagia karena menjadi sosok Arsen palsu?


Merasa bahagia karena Chery memperhatikannya?


Tidak! Ini salah bukan?!


Jangan besar kepala Sandi Alvero!


Chery memperhatikanmu, karena wajahmu saja yang mirip dengan orang terkasihnya. Chery hanya mengontrak kehadiramu hanya untuk balas dendam pada Denis. Tidak kurang, dan tidak lebih.


Itulah sosokmu bagi Chery.


"Saya bisa sendiri Mba. Lagian saya mau pipis, masa iya Mba ngikut juga sih?" Kemudian Arsen terkekeh, membuat Chery mencebikkan bibirnya sebal. "Ya, gue tunggu depan pintu ajah!" Chery pun masih kukuh, "tapi kamar mandinya ada di ruangan sini juga Mba, jadi Mba bisa tungguin dari sini ajah." Tolak Arsen sehalus mungkin.


Kedua mata Chery memicing tajam, namun malah terlihat lucu di mata Arsen.

__ADS_1


"Kalo Arsen yang asli, dia pasti udah kesenengan gue giniin," ucapnya tanpa sadar ucapannya akan menjadi duri bagi Arsen palsu ini.


"Saya kan bukan Mas Arsen, Mba. Lagian di dalem sini cuman ada kita berdua, Mba. Saya masih Sandi Alvero, Mba." Balas Arsen menyadarkan Chery bahwa dunia dan dirinya begitu kejam.


Chery lantas kembali terduduk. Bukan lagi di samping ranjang Arsen, melainkan sofa yang berada di ruangan.


Entah kenapa? Ucapan Arsen barusan, merupakan dinding bagi Chery.


Mungkin dirinya keterlaluan.


Rasa bersalahnya pada Arsen selalu saja ia rasakan saat melihat Sandi.


Entah apa yang ada di pikiran Chery. Apa kalau Arsen masih hidup, Chery bisa semena-mena seperti ini? Apa jika Arsen masih hidup, dia bisa seluwes ini? Berbicara sesuka hati, namun Chery tetap peduli terhadap sosok yang baru saja meninggalkan pergi ke kamar mandi itu?


"Aaakkkhhh! Lama-lama gue bisa gila!" Teriak Chery sambil menjambak-jambak rambutnya.


"Lah, emang dari dulu situ udah gila. Kenapa baru sadar sih?!" Cetus seseorang yang tanpa permisi masuk ke dalam ruangan VVIP Arsen tersebut.


Chery langsung mengalihkan pandang menatapnya. Ia terlonjak kaget saat mendapati wajah kakak satu-satunya yang amat menyebalkan itu tiba-tiba saja hadir.


"Kok, lo tahu sih gue di sini, Christ!" Chery bangkit, dan mulai mendekati pemilik nama Christ tersebut.


Dengan gaya sok angkuh tentunya.


"Eh, si Goblok! Ngapain sih tarik-tarik kuping gue. Sakit, Jing!" Christ pun menepis tangan Chery kasar, membuat Chery mengaduh pelan.


Christ langsung bangkit, memosisikan dirinya terduduk sila di atas ranjang, dan memerhatikan adiknya yang tengah mengomel tersebut.


"Bilangnya ada di Afrika mau jadi relawan. Sok-sokan bilang nggak ada sinyal! Bego banget sih jadi orang!"


Chery menatap kesal kakaknya. Ya, bukannya dia juga ingin meninggalkan jejak, hanya saja limit kartunya tak mencukupi membiayai rumah sakit yang ia pilih. Padahal ya sebenarnya, dia juga merupakan anak pemilik Rumah Sakit. Jadi, mau tidak mau, dia meminjam milik Christ.


"Gue kira, lo yang sakit, Kunti! Nggak sekalian mati ajah lo!"


Ya, sebenarnya Christ itu tipe-tipe Tsundere. Siscon juga. Namun ya begitu, gengsinya terlalu besar untuk bilang sayang.


"Anjing banget sih ngomongnya! Gue tabok tau rasa loh, Kutu Kupret!"


"Babi dasar!"


"Lo emang Anjing!"


"Dih, Anjing ngomong Anjing!"

__ADS_1


"Apaan sih, Monyet dasar!"


"Dih, Monyet ngomong Monyet!"


"Apaan sih ah! Nggak ada kelarnya ngomong ama lo, Kak!"


Christ pun turun dari ranjang, lalu ia mendekati adik kesayangannya ini. Ia memeluknya erat, yang dibalas peluk oleh Chery.


"Jangan sakit, ya. Nanti gue bisa ikutan sakit." Christ benar-benar tulus mengatakannya kalau kalian ingin tahu.


Chery menganggukan kepalanya paham, "dasar Siscon." Ia pun tertawa, dan diikuti tawa oleh Christ.


"Arsen sakit apaan? Kok bisa sampe semingguan di sini?"


Deg!


Chery baru sadar, kalau Arsen semenjak tadi belum juga keluar dari kamar mandi.


Chery pun melepas pelukan secara paksa, lalu melangkah tergesa ke kamar mandi.


Jujur saja, Christ merasa tersaingi.


Ternyata kehadirannya masih saja disepelekan oleh adiknya. Dia selalu menjadi nomor dua. Dari dulu seperti itu. Dan sepertinya dia menjadi nomor tiga saat ini. Karena Christ yakin, nomor satu selalu terisi untuk Denis.


Christ juga tahu, hubungan spesial antara adiknya dan Denis. Namun kalau boleh jujur, Christ lebih senang kalau adiknya bersama Arsen.


Entah kenapa? Dari dulu, Christ tidak pernah menyukai Denis. Melihat wajahnya saja, Christ ingin muntah.


Sekarang Arsen sudah menjadi suaminya, jadi pastinya di nomor dua. Christ juga tidak yakin dia menjadi nomor tiga, karena faktanya, Chery juga sangat mencintai ayah dan ibunya.


"Lo! Aaarrrggghhh!" Chery yang terlalu kesal melihat Arsen yang ternyata sejak tadi berdiri di depan pintu kamar mandi pun, langsung menarik paksa tiang infus milik Arsen, membuat lelaki itu mau tidak mau harus menurutinya.


Iya, sebenarnya Arsen sudah menyelesaikan hajatnya sedari tadi. Tapi ia tidak mau mengganggu kebersamaan Chery dan Christ. Jadi, dia memilih untuk tinggal lebih lama lagi di dalam kamar mandi.


Kekhawatiran Chery menjadi sia-sia bukan? Hahaha!


Christ menatap intens Arsen dari ujung kaki hingga kepala.


Asing.


Itulah yang dirasakan Christ.


"Sen, apa kabar? Lo, Arsen, kan?!"

__ADS_1


__ADS_2