
"Yakin udah bisa masuk kerja? Tapi ya kerjaan lo cuman tanda tangan, tanda tangan ajah sih." Ucap Chery sembari memakaikan dasi hitam polos pada Arsen.
Arsen mengangguk paham, lalu mundur selangkah, sesudah Chery memahatnya untuk bagian akhir.
Iya. Dari pakaian dalam sampai pakaian luar, Chery memodifikasikan tubuh Sandi, yang harus terlihat persis seperti Arsen biasanya.
Diam-diam Arsen menghela napas lega. Karena jujur saja, entah mulai sejak kapan? Kalau dekat-dekat dengan Chery, sangat tidak baik untuk jantungnya. Tapi, Sandi juga sadar diri. Siapa dirinya dan apa posisinya.
Tanpa Arsen sadari, Chery pun berbuat demikian.
Namun, satu hal yang Chery pasti. Perasaan yang saat ini ia rasakan bukanlah, rasa cinta ataupun kasih sayang, melainkan rasa bersalahnya pada Arsen, karena belum sempat membalas perasaannya yang tulus itu.
Ya, itu yang Chery yakini saat ini.
"Kalo ada yang nggak ngerti tanya, ya. Terus jangan sampe deket-deket ama Denis. Bahaya banget itu Anjing!" Ceplos Chery yang mendapat balasan tawa kecil dari Arsen.
Arsen kembali mengangguk, lalu ia berjalan mendekati ranjang tidur untuk mengambil tas kerjanya.
Chery menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung harus melakukan apa lagi. Dia pun mengikuti langkah Arsen. "Apa gue ikut lo kerja aja, ya? Seriusan gue takut lo kenapa-napa," tanya Chery yang berharap mendapatkan jawaban 'Ya.'
Arsen berbalik, lalu menatap Chery yang seperti memohon. "Tapi Mba, apa nggak bakalan pada curiga, kalo Mba ngikutin saya terus?" Balasnya yang malah balik tanya.
Chery menggeleng pelan, "semua pada paham kok apa makna Manten Baru. Apa-apa ya harus berdua." Ucapnya, lalu mendekati lemari pakaiannya.
Chery mengambil baju atasan berwarna putih berenda dibagian ketiak sampai lengan dan rok hitam selutut. Pakaian sederhana tapi disulap mewah, karena Chery yang memakainya.
Pakaian Chery beresleting, Arsen yang disuruh untuk menunggu kesiapan Chery masih berada di dalam kamar, jadi Chery yang tidak bisa menyeleting pakaiannya pun mau tidak mau mendekat ke arah Arsen, lalu memunggunginya.
Arsen yang paham pun membantu Chery.
Putih nan mulus.
Kedua telinga Arsen memerah. Rasa-rasanya, jiwa kelelakiannya mulai muncul hasrat. Namun sebisa mungkin ia tepis.
Dengan tangan sedikit tremor, Arsen menyeleting pakaian Chery.
Chery yang sadar kalau jantungnya ingin melompat, cepat-cepat berbalik. Menatap Arsen yang terlihat jelas gugupnya.
__ADS_1
"Maaf, Mba. A-anu. Saya nggak pernah dimintain tolong ama cewek selain adek saya. Jadi, saya agak--"
"Kulit gue bagus nggak?" Tanya Chery random.
Iya. Sama seperti Arsen. Chery juga gugup setengah mampus.
Arsen mengangguk antusias. Dengan wajah polos mantan jomblonya itu, Chery cukup gemas.
"Yaudah syukur kalo menurut lo bagus. Jadi mata lo nggak tersakiti," lalu Chery berjalan cepat, mencari keberadaan tasnya yang tadi sudah ia siapkan.
"Mba. Saya keluar duluan ajah, ya." Pamit Arsen yang dijawab gelengan oleh Chery.
"Bantuin gue dulu napa sih?! Bantu cariin tas gue. Gue lupa taro mana!" Ketus Chery.
Arsen hanya bisa pasrah.
Iya pasrah.
Tas koleksi milik Chery tidak satu-dua. Hampir ratusan malah. Jadi, ya, pasti akan memakan waktu lama.
"Hmmm," sahut Chery.
"Pentingnya saya jadi Mas Arsen itu apa, ya, Mba?" Tanyanya, dan detik itu juga Chery langsung menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Arsen dengan tatapan yang sulit diartikan.
Arsen tidak ingin menyinggung. Hanya saja, ia penasaran.
"Bukannya apa-apa, Mba. Mba inikan tanpa bantuan saya juga udah bisa balas dendam ke Mas Denis. Apalagi Mas Arsen juga udah nyiapin bukti-bukti kejahatan Mas Denis. Terus gunanya saya itu untuk apa, ya, Mba?"
"Ya buat buktiin kalo Arsen itu bakalan jadi pemenangnya,"
"Gimana, Mba maksudnya? Saya kok nggak paham?"
Chery menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan. Dia pun mendudukan dirinya di tepian kasur, lalu menepuk-nepukan tangannya. Berisyarat pada Arsen agar mau duduk di sebelahnya.
Arsen pun menurut.
"Kehadiran lo di sini ya buat nikah ama gue lah. Buat kedudukan Arsen di atas segala-galanya. Jadi, dengan nikah ama gue, kedudukan Arsen jadi lebih tinggi. Dan buat balas dendam gue ke Denis. Gue mau buktiin ke Denis, kalo gue bisa idup tanpa si Anjing itu!"
__ADS_1
"Tapi Mba. Kalo Mba diselingkuhin ama Mas Denis, bukannya itu artinya Mas Denis nggak beneran cinta ama Mba. Terus buat apa? Segala buktiin kalo Mba bisa idup tanpa Mas Denis?"
"Ya, kan dia harus jatoh, Ndi. Jadi, posisinya gue ama Arsen harus di atas. Ngeliat kehancuran dia. Kalo dia tau Arsen udah mati, yang ada dia bakalan nghasut keluarga Arsen, Ndi. Lo tau kan dia itu selicik apaan?!"
Arsen terkesiap sesaat. Dia terkejut, karena kali pertama ini, Chery memanggilnya dengan nama Asli.
Diam-diam Arsen tersenyum samar. Hatinya cukup lega, karena Chery tak sepenuhnya, menganggap dirinya copyan Arsen.
"Tapi Mba, emang sepengaruh apa Mas Denis Mba? Kan Mas Arsen juga punya adik bukan?"
"Roland itu belum sembuh dari sakitnya, Ndi. Dan Denis itu salah satu orang kepercayaan bokapnya Arsen. Jadi, buat cegah si Anjing itu berbuat semaunya, ya, lo harus ada, Ndi. Kan guenya udah sadar, kalo nggak mau diperalat lagi ama si Anjing itu."
"Tapi, Mba. Bukannya Mba pernah janjiin kekayaan Mas Arsen kalo udah jatuh di tangan Mba, Mba bakalan cerai ama Mas Arsen. Jadi, kalo disaat Mba udah dapet, kita cerai gitu, Mba? Terus nasib saya gimana, Mba?"
"Ya, lo harus mati lah."
Lagi-lagi Arsen terkesiap dengan bunyi yang dilontarkan Chery yang terkesan ceplas-ceplos tersebut.
Chery yang sadar ucapannya salah, dia tertawa karena ekspresi Arsen yang terkejut.
"Maksud gue ya nggak beneran matilah. Ya, palingan kayak kemarin. Entar lo pura-pura kecelakaan terus dikabarin mati. Tapi, ya, maaf juga, lo juga nggak bisa hidup sebagai Sandi Alvero lagi."
Arsen hanya menganggukan kepalanya paham.
Tak apa. Yang penting, dia bisa hidup bebas dan tak tinggal lagi di panggung sandiwara.
"Oh gitu ya Mba. Tapi Mas Arsen hebat, ya, Mba. Bisa ambil keputusan cepat gitu. Udah milih saya ajah jadi dia. Kayak dia udah nyiapin ini dari jauh-jauh hari sebelum Mas Arsen meninggal."
Deg!
Kedua mata Chery membelalak seperkian detik.
Iya, ucapan Sandi ada benarnya juga.
Chery juga ingat, kalau Arsen memintanya untuk menemui korban tabrak lari dan menyuruhnya untuk melakukan semua yang sudah Arsen tulis di sebuah file. Dan tidak disangka juga, korban tabrak larinya sangat mirip dengan Arsen.
"Gue emang disuruh Arsen buat jagain, lo. Arsen bilang, lo kunci kehidupannya."
__ADS_1