
Tidak ada angin tidak ada hujan, entah kabar dari mana? Yang mengatakan Chery sakit itu bisa terdengar?
Christ dan Denis sudah bertemu saja di kediaman Arsen pagi ini.
Chery tentu baik-baik saja. Karena tiga harian kemarin, dia memang mengurung diri, tapi karena daya tahan tubuhnya yang kebal, jadi Chery tak sedikitpun merasa kalau tubuhnya tidak enak.
Setelah Sandi menerobos masuk kamarnya dengan gila, Chery meminta Dokter pribadinya datang, dan meminta diinfuskan, karena memang Chery mengalami dehidrasi. Syukurnya tidak parah. Dan memang sebenarnya Chery meminta Dokter pribadinya datang niat awalannya karena ingin mengobati luka Sandi yang cukup parah.
"Kok gue denger lo sakit, tapi yang parah kok si Arsen sih, dek?" Tanya Christ yang melihat lengan kiri Sandi terbalut perban.
Sandi sebisa mungkin memasang wajah tenang-setenang mendiang Arsen.
"Lagian siapa sih yang bilang gue sakit?" Tukas Chery yang sudah merasa risih semenjak kedatangan dua laki-laki yang tak diharapkan kehadirannya ini.
"Lagian kamu kan biasanya lagi rajin ngintilin Arsen pas kerja. Tiga harian kamu kemana sih, Yang? Kan aku khawatir." Denis yang berucap. Sungguh membuat semuanya yang ada di sana ingin muntah detik itu juga.
Chery sok mual, lalu menatap Denis jelas tak sukanya. "Khawatirin ajah tuh si Clara-Clara itu. Lo jadi mau nyelingkuhin si Clara ama gue? Kan kita udah putus, babi!"
Denis shock.
Sandi mati-matian menahan tawa.
Dan menggelegar sudah tawa Christ.
"Anjing lo akhirnya ketauan!" Christ menepuk-nepuk tanpa ampun bahu kanan Denis. Karena mereka duduk bersebelahan.
Denis yang merasa risih pun menepis tangan kurang ajar Christ.
"Ry, kok kamu ngomong gitu sih?!" Denis tak terima.
Chery kembali sok mual.
"Mau bukti?!" Tantang Chery, lalu mengambil ponselnya. Masuk ke galeri untuk mencari foto Clara yang ia punya.
Itu pun dari file yang Arsen beri.
Chery tunjukkan tepat di hadapan Denis.
Dan bayangan saat Clara menyamar sebagai perawat pun terlintas. "Dan lo, kan yang nyuruh dia buat racunin Arsen kemarin! Anjing banget sih loh! Pembunuh lo, ya!"
__ADS_1
Plak!
Chery menamparnya dengan ponselnya. Begitu keras, sampai yang ditampar begitu ambigu.
Denis memegangi pipinya yang kini memar, lalu ia tatap lagi Chery dengan wajah tak percaya. "Anjing sakit bego!" Final, Denis tak mau bersandiwara lagi.
Plak!
Tadi pipi sebelah kiri, dan sekarang pipi sebelah kanan ditampar oleh Christ yang tak terima adik kesayangannya diangjing-anjingkan.
"Anjirrr! Kakak-adek mainnya kasar! Cuihhh!" Denis pun bangkit, lalu menatap Chery-Christ-Sandi bergantian. Lalu kembali menatap Chery. "Gue emang bajingan! Tapi gue bukan pembunuh!" Kukuhnya lalu menatap Arsen. "Racunin apaan sebenernya? Gue racunin, lo?! Gue emang nyuruh Clara buat lo supaya nggak cepet sadar! Tapi gue nggak racunin lo apa-apa, Sen!" Bentak Denis, lalu ia pun melangkah pergi.
Baru saja dua langkah, Denis kembali berbalik. Menatap mereka bertiga penuh murka, dan tatapannya semakin nyalang saat netranya bertemu dengan manik teduh Sandi. "Semua karena lo yang buat Arsen seolah-olah masih idup! Sandi Alvero. Gue bakalan buktiin kalo lo bukan Arsen!" Kemudian menatap Chery yang juga menatapnya penuh murka. "Ry, nggak nyangka gue, ternyata lo cewek semenarik ini. Anjir banget nggak sih?! Kalo sekarang gue naksir lo beneran!" Lalu Denis tertawa ambigu.
"Gimana pun caranya, lo endingnya bakalan ama gue. Titik nggak ada koma!" Dan Denis pun benar-benar lenyap di balik pintu.
Christ menatap Chery dan Sandi bergantian dengan menyilangkan tangan di depan dada. Gayanya sok pintar kian berpikir.
"Si Denis nekat juga ya orangnya. Udah ketauan sok-sokan nggak bersalah lagi. Najis banget gue!"
Baik Chery maupun Sandi. Mereka hanya terdiam.
Plak!
"Pulang sana!" Usir Chery setelah memukul kepala Christ cukup keras.
Mata Chery mulai berkaca-kaca. Christ tak bangkit juga, Chery pun memukulnya lagi. Lebih keras. Terus begitu sampai Christ memutuskan bangkit. "Iya. Iya. Iya. Ini gue pulang, Nyet!" Lantas berdiri. Dan tak lama ponsel Christ pun berdering. "Bentar mau angkat telpon dulu, baru pergi."
Sandi bangkit, lalu mendekati Chery yang tepat setelah Sandi berada di sampingnya, Chery langsung memghambur kepelukan Sandi.
Christ melirik mereka yang tanpa permisi beromantis ria tanpa memedulikan dirinya yang Jones.
Christ pun mematikan ponselnya, ia pun mendecih tak suka.
"Mentang-mentang kepengen berduaan gue diusir gitu, ya! Adek durhaka, lo! Yaudah gue mau balik ke kantor lagi. Gue diprotes ama Junior Baru gue. Lucu banget tau orangnya, dari kampung gitu wkwkwk. Gampang gue begoinnya." Dan lagi-lagi ponsel Christ berdering, Christ yang merasa gemas dengan si Penelpon pun mengangkatnya dengan suara yang ia lucu-lucukan. "IYA VINO SEBASTIAN SAYANGKU! INI ABANGMU SEDANG MELUNCUR!"
Kaget bukan main, tiba-tiba tangan Sandi yang sedang mengelusi punggung Chery tremor saat mendengar nama Vino Sebastian dibunyikan.
'Nama Vino Sebastian banyak dimana-mana, Ndi. Kamu harus tetap tenang.'
__ADS_1
Christ pun melenggang tanpa pamit. Dan dengan senyuman yang sulit diartikan.
Chery menarik tubuhnya dari dekapan Sandi, ia tatap kepergian kakaknya yang amat dia sayangi.
Iya. Archery menyayangi kakaknya dengan tulus. Sungguh, tapi kakaknya memang nomor terbelakang bagi Chery.
Chery tak menyangka saja, kalau kakaknya termasuk orang yang terlibat atas kematian Arsen.
Iya, kakaknya.
Kemudian Chery pun menatap Sandi. Tanpa diduga, Sandi menangis. Namun lelaki itu juga tidak sadar kalau dia sedang menangis.
"Lo kenapa?" Chery pun menghapus air mata Sandi yang mengalir.
Sandi tersentak. Cepat-cepat ia memundurkan langkah. Mengambil jarak. Ada secuil rasa ingin meninggalkan posisinya sebagai Arsen. Kembali menjadi Sandi Alvero lalu menemui Vino Sebastian yang pastinya bersama adiknya. Sherly Alvero.
Hati Chery sedikit ngilu melihat Sandi yang membuat jarak. "Lo kenapa nangis?" Ulang Chery, yang mendapat gelengan pelan lagi senyuman sehangat matahari pagi milik Sandi.
Chery tahu apa yang Sandi sembunyikan.
Nama Vino Sebastian bukanlah nama yang asing bagi Chery.
Chery memajukan langkahnya, lalu ia peluk kembali Sandi. Lelaki ini pun tak menolak. "Mau temuin Vino ama adek lo nggak?" Dan detik itu juga, Sandi menangis.
Semakin lama Chery mengelusi punggungnya, semakin pula isakan Sandi terdengar.
"Saya bukan kakak yang baik. Saya malah ninggalin adek-adek saya."
Chery hanya terdiam. Dia tidak berhak bersuara. Biarlah Sandi merancau sampai puas, karena posisi Sandi yang sulit ini, Chery ikut andil membuatnya.
'Sebaik apa pun manusia, kalo lagi capek, ya capek. Nggak perlu malu, Ndi. Meskipun lo cowok. Luapin ajah. Karena manusia itu wajar untuk ngerasain yang namanya lelah.' Chery hanya sanggup membatin.
Setelah Sandi tenang, mereka pun terduduk. Masih di tempat tadi.
Chery mengambil salah satu tangan Sandi. Menggenggamnya, membuat Sandi langsung menatapnya bingung.
Perlakuan Chery padanya, kenapa kian manis?
"Besok, kita pergi ke loker punya Arsen. Kita ambil hape Arsen di sana. Katanya, cuman lo yang tau kata sandinya."
__ADS_1