
Pemakaman Sherly baru saja usai. Selama pemakaman, hujan gerimis ikut menyertai kepergian Sherly. Hari ini semua berkumpul di kediaman Arsen, baik itu Sandi, Chery, Vino, Roland dan kekasihnya yang bernama Vina Agustin, serta Clara yang terbilang tak ada hubungannya apa-apa pun hadir.
Ya, sebenarnya tujuan Clara hanya ingin mencari informasi ke sana-sini saja tentang Denis. Dia sudah buntu.
Bahkan dia sampai berani mendatangi orang tua Denis, dan jawaban dari orang tuanya, kalau Denis sedang melakukan perjalanan bisnis.
Tapi Clara tahu, kalau sebenarnya Denis menghilang entah kemana?
Vino masih setia memeluk figura berukuran sedang milik Sherly, juga masih setia terduduk di bawah dengan tubuh yang menyelendeh di tembok. Bibirnya kering, matanya memerah. Benar-benar pucat seperti orang yang tidak makan tiga hari tiga malam.
Dalam hati Vino, dia sudah tak bersemangat hidup.
Dan jika kalian menanyakan keberadaan Christ?
Tentu saja si pelaku pembunuhan Sherly takkan hadir.
"Jadi, seriusan kalo Polisi anggep kematian Sherly jadi kasus bunuh diri?" Vina bersuara, membuat atensi semua orang kecuali Vino menatapnya.
Iya, Vina merupakan anggota baru yang tahu kebenaran Sandi dan lain segalanya. Jadi, wajar saja kalau dia ingin bertanya-tanya.
Ah, perlu diketahui, kalau Vina ini seorang Reporter yang bijak. Dia juga bisa jaga rahasia, maka dari itu Roland mengajaknya untuk bergabung.
Ya, kisah antara Roland dan Vina terjadi begitu saja. Vina yang penasaran dengan yang namanya kepribadian ganda yang menimpa pada Roland pun, menjadi awal kisah mereka.
Vina tahu dari mana, kalau Roland pemilik kepribadian ganda?
Tentu dari ayahnya, yang berprofesi sebagai Psikiater Roland.
Bagaimana hubungan mereka?
Mungkin daripada kekasih, mereka terlihat lebih mirip sebagai sahabat.
Roland yang penasaran dengan rasanya mencintai, dan Vina yang bersedia karena bisa menjawab rasa penasarannya.
Jadi, mereka sepakat untuk berkencan.
Balik lagi pada pertanyaan Vina barusan.
__ADS_1
Sandi menganggukan kepalanya pelan, wajahnya sebelas dua belas dengan Vino. Sama-sama pucat dan tak ada semangat-semangatnya. "Sidik jari Sherly ada di pisaunya. Kita juga tau, kalo Sherly dibius pakai obat tidur, tapi aku juga nggak tega kalo Sherly diautopsi, hasilnya pun pasti akan beda," jawab Sandi, yang lagi-lagi teringat akan adiknya.
Pandangannya pun teralih pada Vino. Jujur Sandi tak kuasa, karena dirinya Vino dan Sherly terlibat.
Sandi juga tidak tahu, kenapa Christ melakukan hal kejam seperti itu?! Setahu Sandi, dia tak melakukan apa-apa selain menyamar menjadi Arsen.
Apa karena dia menyukai Chery?
Apa karena Chery juga menyukainya?
Christ seseorang yang Siscon, bahkan dia terobsesi dengan adiknya sendiri. Jadi, kemungkinan besar jawabannya memang seperti yang Sandi pikirkan.
Tapi Sandi seseorang yang amat bijak.
Dia tak ingin membohongi dirinya sendiri. Dia juga mencintai Chery, dan akan memerjuangkan Chery. Bahkan jika nyawa taruhannya. Dia juga memikirkan bagaimana perasaan Chery, kalau Sandi meninggalkannya.
Chery lagi-lagi menahan napasnya. Rasanya ia ingin menangis, tetapi Chery tahan, karena Chery sadar kalau kematian Sherly jelas ulah kakaknya. Jadi, Chery pikir, dia tidak berhak untuk menangis.
Chery menangis ketika sedang sendirian, namun ketahuilah semua orang yang ada di sini tahu, kalau Chery benar-benar ikut terpukul.
Chery menggenggam tangan kanan Sandi. Menyalurkan rasa semangatnya, padahal dirinya juga hancur. "Maaf," hanya kata itu yang selalu keluar dari mulut Chery. Seperti Chery yang ceria dan bebas hilang begitu saja.
Sandi membalas genggamannya, lalu tersenyum semampunya, "bukan salah kamu, Ry. Semua udah kuasa Tuhan," lalu Sandi memeluknya.
Semua yang ada di sana menghela napas sejenak, lalu pandangan Roland berotasi pada Clara yang sejak tadi tak bersuara.
Ya, mungkin karena satu-satunya yang tak berkepentingan.
"Masih belum ada kabar dari Denis apa gimana? Kok lo, malah dateng ke sini sih?" Tanya Roland pada Clara.
Atensi semua yang ada di sana kecuali Vino pun langsung tertuju padanya.
Clara mengangguk, "iya nih, gue bingung harus kemana lagi? Hapenya silent terus. Nggak biasanya kek gini. Seenggaknya ya kalo dia lagi selingkuh, dia pasti ngabarin gue dan minta putus. Ini malah nggak sama sekali." Terangnya dengan wajah kecewa.
"Nggak didaftarin orang ilang ajah?" Saran Vina yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Clara.
"Percuma, gue emang pacarnya, tapi kan kekasih gelap. Mana bisa gue laporin dia ilang. Kalo Roland apa Chery ya masih bisa. Tapi, ya ortunya malah heboh nanti." Jelas Clara yang diangguki oleh Vina.
__ADS_1
Ingin sekali Sandi mengatakan, kalau dia juga mencurigai Christ, tetapi di sini ada Chery. Terlebih lagi, sepertinya tidak ada hubungannya Denis dan Christ untuk berseteru. Jadi, Sandi memilih untuk diam.
Toh, Denis juga sebagai tersangka utama atas kematian Arsen. Bahkan Sandi juga percaya kalau Denis juga yang meracuninya saat di rumah sakit. Padahal Clara sudah mati-matian menjelaskannya, bahwa ia hanya menyuntikkan Sandi semacam obat tidur, agar kesadaran Sandi terhalang.
Jadi, Sandi pun tak tertarik untuk tahu dimana keberadaan Denis saat ini.
Drettt! Drettt! Drettt!
Satu pesan masuk, dan baru saja ia memikirkan Christ, si pemilik nama itu malah mengiriminya pesan. Sandi pun bangkit, lalu dia berjalan ke arah kamar mandi.
Semuanya menatapnya, namun karena arahnya, mereka pun kembali pada topik pembicaraan mereka tentang Denis yang tak pulang-pulang.
Di dalam kamar mandi, Sandi membuka isi pesan tersebut. Matanya membelalak seperkian detik.
"Denis ...," lirihnya, karena ia iba melihat foto yang Christ kirimkan, dimana Denis yang sedang terbaring lemah dengan banyaknya selang dan kabel yang meliliti tubuhnya.
Gambar itu pun tiba-tiba hilang, di seberang sana Christ menghapusnya, membuat jantung Sandi berdetak tak karuan. Dan tak lama, sebuah gambar gif masuk. Sandi segera mengunduhnya, dan lagi-lagi matanya membelalak sempurna.
Terlihat Denis yang mengejang karena masker oksigennya lengser ke lehernya. Sandi yakin, kalau Christ sengaja mempermainkannya.
Lalu, gambar gif itu tiba-tiba juga menghilang. Lalu pesan pun kembali masuk.
Besok dateng ke sini, ya, kalo nggak mau Denis mati. Apa kudu Vino dulu ajah, ya, yang mati? Tapi karena gue kasian ama lo, yaudah yang jadi jaminannya si Denis ajah deh. Tapi inget sendirian, jangan keroyokan.
Sandi menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Kedua tangannya gemetar hanya untuk sekadar membalasi. Ingin sekali ia screenshot percakapan yang sedang berlangsung, tetapi percuma, pengaruh Christ lebih besar daripada fakta yang ada. Dan Christ pun menghapus pesannya secepat kilat. Keadaan Sandi yang linglung tentu saja membuatnya kalah cepat dengan Christ.
Lagi-lagi pesan terhapus, dan kembali masuk pesan baru.
Gue tau, lo orangnya baik hati. Nggak mungkin kan gara-gara lo nggak dateng, terus Denis mati. Ya, kalo Denis mati, berarti itu salah lo lah!
**Sandi tak habis pikir dengan Christ.
Sandi beralih menatap ke depan. Memang terhalang pintu memang, namun isi kepalanya penuh akan keselamatan Vino.
Sandi tak ingin lagi ada korban. Biarlah apa yang akan terjadi, Sandi akan mengikuti kuasa Tuhan. Jadi, dengan tangan yang gemetar, Sandi pun membalas pesan Christ yang semuanya sudah terhapus itu**.
Iya. Saya akan ke sana, Mas.
__ADS_1