New Life Begins

New Life Begins
16. Asal-usul


__ADS_3

Pagi ini Roland kembali berkunjung ke kediaman Arsen. Dia melihat seluruh sudut. Tak ada yang diubah, hanya ada tambahan foto pernikahan kakaknya dan Chery dengan ukuran super jumbo, memperindah rumah mewah Arsen.


Roland menghela napas lega. Entahlah, dia merindukan sosok kakaknya yang telah tiada.


Iya, Roland sudah tahu akan fakta Arsen telah pergi. Dan sosok yang ada di hadapannya ini, bukanlah kakaknya.


Dan Roland ingin meluruskan segalanya.


"Gue bingung harus mulai dari mana?" Roland bersuara pertama kali. Melihat Sandi yang gugup, dan Chery yang masih saja bermuram durja perihal kemarin.


Kedua tangan Sandi berkeringat, netranya pun bertemu dengan netra Roland yang sedari tadi memancarkan ketenangan yang luar biasa.


Bukannya apa-apa, hanya saja, Sandi masih mengingat kejadian saat kali terakhir bersama Roland.


Jadi, Sandi takut sampai kepalang gugup seperti ini.


Padahal ada Chery di sampingnya. Tapi Chery saat ini sibuk dengan kesedihannya. Jadi, sudah Sandi putuskan, kalau ia akan menghadapi Roland seorang diri.


Sandi tersenyum kecil, lalu tangannya mempersilakan Roland untuk melanjutkan ucapannya.


Roland pun mengangguk, kemudian ia hidup dalam-dalam oksigen, lalu membuangnya secara perlahan.


"Gue udah tau, kalo Bang Arsen udah nggak ada. Dan gue juga nggak akan salahin, lo,"


Deg!


Baik Sandi maupun Chery, mereka tersentak serempak, lalu atensinya penuh untuk Roland.


Roland tersenyum apa adanya.


Bahkan ekspresi terkejut Sandi, sangat mirip dengan mendiang kakaknya.


"Gue sakit mental. Pemilik kepribadian ganda, dan terakhir kali gue kesini, nggak lama, jiwa gue yang lainnya ilang. Dan gue dinyatain sembuh pas periksa terakhir kali,"


Sandi dan Chery pun mengangguk paham. Mereka sudah tahu detail penyakit itu, tapi sebabnya mereka masih bertanya-tanya.


Roland memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku jaketnya, mengambil sebuah yang sudah cukup usang lalu ia berikan pada Sandi.


Sandi pun menerimanya.


Matanya membesar seperkian detik. Sandi terkejut, bahwa dirinya, ayah, ibu dan juga adiknya ada di sana.


Iya. Saat usia Sekolah Dasar.


Tapi yang membuat Chery dan Sandi terkejut adalah, bahwasannya ada lagi seorang bocah yang amat mirip dengannya.


Dia Arsen.

__ADS_1


"Dia kakak kembar, lo. Arsen Alvero." Ucap Roland membuat atensi Chery dan Sandi kembali tertuju padanya.


Roland menganggukan kepalanya pelan. Lalu ia ambil foto tersebut. Ia taruh di atas meja untuk melanjutkan penjelasannya.


"Ini gue ama kakak gue Arsena Cloude. Dan ini keluarga lo. Dulu bokap lo supir di rumah gue, dan ibu lo, ART di rumah gue. Itu yang gue tau dari cerita nyokap gue,"


Kedua mata Chery mulai berkaca-kaca. Tak disangka, semua benang merah mulai terlihat jelas.


"Kakak gue meninggal karena sakit. Dan nyokap gue frustasi saat itu. Nama kakak gue sama kakak kembar lo, jadi nyokap gue selalu bilang, kalo kakak kembar lo, Bang Arsen, itu anaknya,"


"Nyokap lo nikah muda waktu itu. Di taun itu, dia masih usia delapan belas taun. Dia juga tentunya frustasi, pas tau anaknya diambil ama nyokap gue, karena kesepakatan bokap gue ama bokap lo ..., waktu itu usia lo ama Bang Arsen mungkin sekitar kelas tiga SD, dan gue kelas 2 SD,"


Roland menjeda. Dia tatap Sandi dalam, Sandi tentunya masih berwajah ramah dengan mati-matian menahan air matanya supaya tidak terjatuh.


"Nyokap ama bokap lo, diberhentiin kerja, dan balik ke kampung halaman tanpa Bang Arsen. Bang Arsen juga udah mikir, kalo nyokap gue udah tenang, Bang Arsen bakalan balik ke keluarganya yang asli, tapi ...,"


"Tapi apa?" Tanya Chery penasaran.


Roland menghela napas sejenak, "nyokap lo datang tanpa diduga, dan minta supaya Bang Arsen kembali lagi jadi anaknya. Waktu itu rumah kosong, nyokap lo juga tau kata sandi rumah gue, jadi dia masuk tanpa ada yang tau. Bocorin gas rumah gue,"


Tes!


Setitik air mata lolos. Melewati pipi mulus Roland.


Roland mengingat betapa pedihnya bayangan masa lalu itu.


"Kita baru pulang sekolah, Bang Arsen juga seneng liat nyokapnya, tapi nggak buat nyokap gue. Tapi serius, lo mau lanjut?" Tanyanya pada Sandi.


Sepahit apa pun itu, Sandi akan menerimanya.


"Waktu itu, nyokap gue kekeuh bilang Bang Arsen anaknya. Bang Arsen orangnya bijak, dia milih untuk ngomong ama nyokapnya. Bang Arsen juga udah bilang kalo liburan bakalan pulang, tapi nyokap lo nggak mau. Dia nggak akan pulang kalo Bang Arsen nggak ikut,"


"Bokap lo nyusul, bawa lo juga. Mungkin supaya nyokap lo luluh dan mau pulang. Tapi nggak sama sekali. Nyokap lo masih kekeuh, dan bilang kalo lebih baik kita mati bareng-bareng. Dan itu nggak main-main!"


"Nyokap lo nyiramin bensin ke badannya sendiri, dan nggak ada nego lagi, dia nyalain pemantik. Api ngerambat terlalu cepet, dan akhirnya rumah gue kebakaran. Dan posisinya, gue ada di depannya. Semenjak itu, mental gue keganggu. Seakan-akan nyokap lo masuk ke tubuh gue. Mungkin karma bagi keluarga gue, karena ngambil anak orang seenak jidatnya."


Chery menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Air matanya maupun Sandi sukses terjatuh.


Terlalu ngilu dan ngeri memang.


"Tapi kenapa saya nggak ingat sama sekali?" Sandi yakin, jika dirinya tengah duduk di kelas 3 SD, pasti dia akan mengingatnya.


Tapi dia sama sekali tak mengingatnya.


"Baik gue, Bang Arsen ama lo. Kita masih kecil, dan rumah gue kebakaran parah. Kita semua sekarat, satu-satunya korban jiwa cuman nyokap lo,"


Kedua tangan Sandi merapatkan kedua telinganya, isakannya mulai terdengar. Kepalanya tiba-tiba saja pusing.

__ADS_1


Bukan pusing karena tiba-tiba ingatannya kembali seperti di film-film.


Dia hanya pusing, karena dia tidak pernah mengetahui kisah hidup ibunya. Sekalinya tahu, kenapa harus semiris ini?


"Kita bertiga kena trauma berat. Gue pun nggak inget sama sekali. Gue cerita berdasarkan cerita nyokap gue. Makanya nyokap ama bokap gue nggak ikut, dia nggak sanggup ngadepin lo,"


"Jadi, kalian bertiga amnesia permanen gitu?" Tanya Chery yang diangguki oleh Roland.


"Bang Arsen pun nggak tau kalo dia masih punya keluarga. Bang Arsen cuman tau, kalo dia bukan anak kandung nyokap ama bokap,"


'Sen, harusnya lo denger ini, Sen. Di sana lo lagi liat kita, kan. Lo buat kita semua bersatu, Sen. Seharusnya lo bertahan sedikit lagi, Sen.' Batin Chery menangis.


"Orang tua gue sembuyiin fakta ini dari gue ama Bang Arsen, pas gue bilang kalo gue sembuh, mereka baru bisa cerita faktanya. Tapi kita semua pun turut berduka ama kepergian Bang Arsen. Karena emang, kita udah bener-bener sayang ama Bang Arsen,"


Pluk!


Chery memeluk Sandi dari samping. Sandi tak membalas, malah ia seperti tak merasakan apa pun.


Otaknya benar-benar kacau.


"Jadi, gue mau minta maaf. Gue--"


"Pergi! Saya udah nggak mau denger lagi,"


"Maafin gue ama keluarga gue."


Roland pun bangkit dari duduknya. Lalu duduk bersujud di hadapan Sandi. Roland pun sudah terisak sejak tadi.


Sandi menggelengkan kepalanya keras.


Hidupnya sudah miris dari dulu ia terima.


Sekeras apa pun nasibnya masih ia jalani.


Tapi saat ini, dia pikir ibunya memiliki nasib yang lebih jelek dari dirinya.


Dan ia benci, karena tidak bisa membantu ibunya.


Dia malah melupakan ibunya yang menderita.


"Selama ini nyokap lo hidup di tubuh gue. Dia bener-bener sayang ama Bang Arsen--"


"Kalo kamu nggak mau pergi biar saya yang pergi." Sandi bangkit, tangannya pun dicekal oleh Chery, namun Sandi hempaskan begitu saja.


Chery tersentak. Tak biasanya Sandi seperti ini. Tapi Chery memakluminya.


Sandi benar-benar melenggang pergi.

__ADS_1


Entah kemana dia akan pergi? Karena Sandi pun tak memiliki arah tujuan yang jelas.


"Maafin gue ...."


__ADS_2