New Life Begins

New Life Begins
31. Sandi. Sandi. Sandi.


__ADS_3

Vino menatap sendu wajah Sandi yang masih terlelap. Di satu sisi, Vino merasa bersalah pada Sandi, namun dia juga sungguh takut akan kehilangan Sandi, apalagi kepergian Sherly masih sangat membekas di hati Vino.


Iya, Vino dilema. Kehadiran Vina di hidupnya, ternyata bisa memberi warna lagi. Vino pikir, setelah kepergian Sherly, hidupnya sudah tamat. Dia tidak akan memulai kisah asmaranya lagi untuk siapa pun, namun karena kegigihan Vina, turut meruntuhkan keputusasaan Vino. Taman di hatinya mulai mekar lagi, karena Vina yang menuntut kebahagiaan Vino takkan pudar begitu saja.


Vino merasa bersalah. Sungguh.


Hatinya yang mulai terjamah lagi akan cinta, justru tumbuh disaat Sandi yang sedang berjuang untuk hidup.


Vino pikir, dirinya lebih bajingan daripada Christ yang saat ini masih menetap di balik jeruji besi.


"Kak, maafin aku. Padahal Kakak belum sadar. Tapi aku sama Vina malah udah ngerencanain pernikahan. Maafin aku, Kak. Kakak cepetan bangun, terus hajar aku sampe Kakak puas." Sesal Vino, lalu ia sandarkan kepalanya di sisi kanan kepala Sandi. Dengan hati-hati, Vino memeluk Sandi. Menumpah ruahkan semua perasaannya di sana. Sampai tak terasa air matanya berlinang, dan ia pun jatuh ke alam mimpi.


Vino tenggelam di dalam mimpinya yang tak indah dan tak juga buruk, ia terjebak di dalamnya, sampai-sampai ia tak merasakan, bahkan tak mendengar suara monitor mulai berirama tak setenang sebelum-sebelumnya.


Tangan yang hampir sembilan bulanan ini tak bergerak sedikitpun, itu mengejut beberapa detik, berlanjut dengan kedua matanya yang bergerak-gerak kecil.


Napasnya terbilang teratur, bibirnya tak bisa mengeluarkan suara apa pun, karena memang Ventilator masih setia terpasang sejak sembilan bulan ke belakang.


Kepalanya pusing bukan kepalang, semua anggota tubuhnya begitu lemas, dan ia tidak bisa menggesernya sedikit pun. Kilasan masa lampau tiba-tiba menghampirinya.


Bahkan untuk menoleh pun sulit, kedua matanya yang sudah benar-benar terbuka pun hanya bisa menatap langit-langit kamar yang sangat asing baginya.


"C-c-chery ...,"


Ingin sekali Sandi meloloskan kalimat tersebut, namun apalah daya. Dia masih sangat lemah, kesemuanya benar-benar kaku, bahkan Vino yang tertidur di sampingnya pun sampai tak terasa.


Ceklek!


Pintu pun terbuka, menampilkan sosok Vina yang masuk tengah memainkan ponselnya, karena ia masih bertukar kabar dengan Clara yang memantau pernikahan Roland dan Chery di gereja sana.


"Vin, lo udah makan belum?" Tanya Vina yang tentunya takkan terjawab.

__ADS_1


Vina mencebikkan bibirnya sebal, atensinya pun terpaksa ia alihkan pada Vino, yang pasti Vina yakini laki-laki pasti tertidur lagi, kalau sedang jatahnya menunggu Sandi.


Deg! Prankkk!


Vina terkejut bukan main, bahkan ponselnya sampai terjatuh dan retak. Namun, karena ponselnya yang mewah itu takkan rusak begitu saja.


"YA TUHAN VINO BANGUN! BANG SANDI! BANG SANDI!" Heboh Vina sampai membuat Vino terjengat lalu menatap Sandi dengan matanya yang masih belum terbuka lebar. Karena nama Sandi disebut-sebut, Vino jadinya takut kenapa-napa bukan?


Namun ...,


Deg!


Vino sama terkejutnya dengan Vina.


Mereka sama-sama melihat Sandi yang telah sadarkan diri.


"C-c-cepet telpon ambulan!--eh, bukan. Chery! Mba Chery! Iya, Mba Chery jangan nikah dulu!" Vino tak kalah hebohnya dari Vina.


Sementara Vino, dia menghubungi pihak rumah sakit. Meminta ambulan supaya datang untuk membawa Sandi ke rumah sakit.


Sandi yang selama ini tak sadarkan diri pun, sejak tiga menit yang lalu ia terbangun. Kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah pun, membuatnya tak bisa berlama-lama. Dan ia pun, jatuh ke dalam alam mimpinya untuk kesekian kalinya.


Dan Vino yang melihat dengan jelas Sandi kembali merapatkan kedua matanya, kembali heboh. "KAK! KAK! KAK SANDI BANGUN!"


Dan tak berlangsung lama, sebuah mobil ambulan datang. Dokter penanggung jawab Sandi pun turut datang bersama beberapa tim medis.


Sang Dokter pun langsung memeriksa Sandi, ia buka mata Sandi untuk menyorotkan lampu berbentuk pena yang ia pegang. Melihat pupil Sandi dengan seksama. Lalu ia tempelkan stetoskopnya pada dada Sandi. Sementara para perawat yang ikut datang bersama dokter tersebut, sibuk mengamati grafik pada monitor milik Sandi.


"T-tadi saya liat, Kak Sandi bangun!" Vino mulai takut, kalau-kalau saja yang ia lihat tadi hanyalah ilusinya.


Dokter tak menjawab. Dan ini membuat Vino semakin memikirkan yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Vina juga liat Kak Sandi bangun tadi, Dok!" Vino yakin, kalau Sandi tadi benar-benar sudah bangun.


Sang Dokter pun selesai memeriksa keadaan Sandi. Ia bernapas sejenak, lalu menatap Vino dengan senyuman yang penuh akan haru. "Dia memang sudah bangun, namun karena kondisinya yang masih sangat lemah, jadi ia tertidur kembali. Tapi tenang saja, dia sudah bangun dari komanya. Dia sudah melewati masa kritisnya." Terang Dokter tersebut membuat Vino mengembuskan napas panjang yang begitu amat lega.


"Tuan Sandi akan saya bawa ke rumah sakit. Karena kami harus mengganti selang dan alat-alat lainnya. Dan juga obat dan lainnya ada di rumah sakit. Saya tidak membawa yang cocok untuk kondisi Tuan Sandi yang sekarang, fasilitas rumah sakit lebih memumpuni. Jadi, saya akan membawanya." Lanjutnya lagi, dan Vino pun hanya menganggukan kepalanya paham.


Sementara Vina masih sibuk menghubungi Clara yang belum saja menerima pesan maupun telponnya.


Bahkan Vina yang berada di luar sini, sudah mulai melihat beberapa tim medis yang mulai mendorong ranjang Sandi keluar dari kamarnya. Vina pun mencegat Vino yang tadi ikut mendorong ranjang Sandi keluar. "Lo mau kemanain Bang sandi?" Tanya Vina masih dengan rasa yang bercampur aduk.


Senang karena Sandi bangun. Kesal karena Clara tak kunjung menjawabnya, dan takut kalau Sandi yang dibawa ke rumah sakit nanti akan kenapa-napa lagi.


"Tenang ajah, aku sama kamu ikut. Hubungin Claranya di jalan ajah. Kak Sandi nggak bisa lama-lama di sini lagi, dia harus secepetnya dapet penanganan yang tepat, Vin."


Vina yang cepat pahamnya pun, akhirnya ikut dengan Vino. Mereka masuk ke dalam mobil ambulan, dan akhrinya Clara menjawab panggilannya.


"Apaan sih lo, kenapa? Gue lagi serius juga nontonin ceramahannya pak Pendeta. Bentar lagi mereka sah tuh! Serius gue jengkel banget!" Saut Clara dari seberang sana.


Sungguh Vina ingin mengutuk Clara, kenapa perempuan ini tak membaca pesannya, dan malah curhat tentang dirinya. Namun karena bukan waktu yang tepat, Vina pun to the point saja.


"BANG SANDI BANGUN! DAN KITA LAGI PERJALANAN KE RUMAH SAKIT!"


Dan detik itu pula, pendeta menyaringkan suaranya. "Dengan ini kalian telah--"


"STOPPP!" Clara bangkit dari duduknya, membuatnya menjadi pusat perhatian saat ini.


Roland dan Chery yang ada di jauh sana pun menatapnya.


"SANDI--"


Belum sempat Clara menyelesaikan kalimatnya, Chery malah sudah turun dari panggung sana. Wajahnya tidak bisa dijelaskan lagi. Dia frustasi setengah mati, ia angkat tinggi-tinggi gaunnya, dan berlari dengan tergopoh semampunya, melihat kondisinya yang sedang hamil besar. Dan Chery pun mulai menangis.

__ADS_1


__ADS_2