New Life Begins

New Life Begins
8. Sherly dan Vino


__ADS_3

"Vin. Aku kangen, Kak Sandi."


Entah itu ucapan keberapa kalinya? Gadis cantik berambut Bob itu pun kembali meringsut, masuk ke dalam selimut. Menggulung seluruh tubuhnya, lalu ia menghadap jendela kamarnya. Menikmati guguran-guguran indah bunga Sakura.


Lelaki yang tengah berada satu atap ini pun mulai mendekati kasur gadis tersebut setelah merapikan beberapa berkas yang ia kerjakan tadi. Lelaki bernama Vino Sebastian ini pun ikut menggulung diri di dalam selimut yang sama.


Vino memeluk gadis bernama Sherly Alvero dengan posisi menyamping, lalu ia elus lembut kepala Sherly. Sesekali menyelipkan anak rambut yang jatuh ke daun telinga Sherly. Wajahnya ia benamkan ke punggung gadisnya, lalu menghirup dalam-dalam wewangian yang sudah menjadi candunya sedari dulu.


"Jangan gini terus, Sher. Kak Sandi di sana pasti nggak tenang ngeliat kamu begini," tangan Vino pun berpindah haluan, memeluk Sherly cukup erat. Masih dengan posisi menyamping tentunya.


Sherly merasa air matanya kembali berlinang lagi, secepat mungkin ia mengusapnya. Ia tidak ingin Vino mengkhawatirkannya terus menerus. "Coba ajah aku nggak buta, ya, Vin. Kak Sandi nggak mungkin banting tulang sampe nyari kerja di Kota. Coba ajah aku nggak jadi beban ya? Kenapa aku nggak mati ajah gitu, ya, Vin? Jadi Kak Sandi bisa idup lebih lama," Rancaunya.


Vino semakin mengeratkan pelukannya.


"Sssttt ..., jangan ngomong gitu ah. Kak Sandi kerja keras kayak gitu, karena sayang ama kamu. Kamu itu bukan beban, Sher."


Sherly pun membalikkan tubuh, lalu ia peluk Vino. Membenamkan wajahnya di sana untuk mencari ketenangan.


Orang kedua yang amat Sherly butuhkan selain kakaknya adalah lelaki ini.


Iya, Vino Sebastian si Polisi tampan yang gagah berani. Kehidupan Vino sama seperti Sherly dan Sandi. Dia sudah menjadi Yatim-Piatu, bahkan sejak usia lima tahun. Tidak seperti Sandi dan Sherly, yang benar-benar menjadi Yatim Piatu saat dewasa. Saat ayahnya meninggal ketika Sandi berusia tujuh belas tahun. Sandi dan Sherly selalu mengulurkan tangannya, mereka menerima Vino dengan keadaan seadanya.


Lambat laun, mereka terlihat seperti keluarga. Vino juga sempat mendapati kasih sayang ayah Sandi dan Sherly kalau penyakitnya tidak kambuh, bahkan sesekali ia juga pernah merasakan pukulan ayah dua bersaudara itu.


Namun Vino masih sadar diri. Dia tidak ingin membebani Sandi dan Sherly terlalu lama. Ketika usianya menginjak jenjang SMA, Vino memutuskan untuk bekerja disambi dengan sekolahnya. Jadi, ia memutuskan untuk mandiri. Dia pindah ke tempat yang tak jauh dari kampungnya. Hanya memakan waktu 3 jam perjalanan memakai kereta. Tapi sesekali ia pulang. Beruntungnya, Vino lelaki yang pintar dan cerdas, dia selalu mendapat beasiswa sampai perguruan tinggi. Bahkan kini ia telah menjadi seorang Polisi.


Vino sesekali memberi finansial kepada Sandi dan Sherly, namun Sandi selalu saja menolaknya. Sandi selalu mengatakan, kalau uangnya lebih baik di tabung untuk masa depan. Bahkan kerap kali, Sandi menggoda Vino supaya cepat tercapai target dananya lalu menikahi adiknya.

__ADS_1


Vino merindukan godaan itu.


Vino benar-benar pulang saat mendapati kabar, kalau Sherly mengalami kecelakaan. Naasnya membuat gadis yang ia sukai mengalami kebutaan permanen. Jadi, mau tidak mau Vino kembali ke kampung halaman, dan menjadi Polisi di daerah sana dengan susah payah.


Dan hal ini juga yang membuat Sandi meminta bantuan untuk menjaga Sherly, sementara dirinya ingin mengadu nasib di Kota besar dengan perbekalan seadanya. Semua tabungan Sandi habis karena biaya pengobatan. Sandi tak menyalahkan siapa pun, karena Sandi yakin, ini hanyalah sebuah ujian dari Tuhan.


Iya, orang yang menabrak adiknya kabur begitu saja. Dan Sandi sudah tidak minat mencari pelakunya, karena prioritasnya hanyalah kesembuhan adiknya.


"Kami sekeluarga benar-benar tulus meminta maaf. Kami akan bertanggung jawab. Bahkan biaya hidup kalian akan kami tanggung selamanya."


Baru saja berjalan dua minggu, bukan kabar gembira karena Sandi mendapatkan pekerjaan, namun malah kabar duka yang menghampiri.


Baik dari biaya operasi sampai pendonoran kornea benar-benar ditanggung oleh keluarga yang menjadi pelaku kecelakaan yang menimpa Sandi. Bahkan Sherly sudah kembali melihat indahnya lagi dunia.


"Aku dipindahin tugas ke Jakarta, kamu mau ikut aku kan ke sana?" Tanya Vino, yang langsung diangguki oleh Sherly.


Vino kembali mengelusi punggung Sherly lembut. "Yaudah nanti kita sama-sama ke sana ya."


Memang saat pemakaman Sandi, Sherly sedang dioperasi. Jadi, dia tidak bisa datang saat pemakaman. Besok-besoknya, Sherly malah menjadi takut, jadi dia memutuskan untuk tidak pergi.


Dia masih belum menerima kenyataan.


Namun, akhir-akhir ini pikirannya sudah terbuka berkat Vino. Syukurnya mendapat kesempatan untuk tinggal di Jakarta. Sesering mungkin, Sherly sudah meniati ingin berkunjung ke makam Sandi.


"Kak Sandi pernah bilang, kalo dia suka wangi bunga melati. Padahal serem kan ya. Tapi kita bawa melati ajah nggak papah kan ya?"


Bunga melati memang sedap wanginya.

__ADS_1


Entah kenapa Sandi menyukainya.


Benar-benar menyukainya, bahkan di belahan Kota Jakarta saat ini, Sandi yang telah berganti peran menjadi Arsen tengah menatap puluhan ribu bunga melati. Dia tengah menikmati wewangian yang membuatnya bernostalgia bersama Vino dan Sherly.


Chery mengajak Arsen ke toko bunga yang langsung dari pohonnya. Karena Chery pikir, dia setidaknya harus membawa oleh-oleh untuk mertuanya. Dan seingat Chery, kalau mertuanya itu sangat menyukai tanaman. Jadi, dia yang berbohong tengah berada di Afrika pun, memilih untuk membeli pohon atau bunga ala-ala Afrika untuk dijadikan oleh-oleh.


"Lo serem banget sih, dari tadi liatin bunga melati mulu. Mau jadi Kunti lo?!" Celetuk Chery yang berhasil menghancurkan nostalgianya.


Arsen menatap Chery yang mendudukan dirinya di samping Arsen, lalu kembali menatap ribuan bunga melati tersebut. Arsen menggelengkan kepalanya pelan lalu ia tersenyum lembut, "saya suka wanginya, karena di kampung saya, melati itu bisa ditemuin di jalan-jalan Mba. Kalau mawar jarang orang yang punya," Arsen malah bercerita, yang entah kenapa Chery tertarik mendengarnya.


"Terus? Apa hubungannya sama lo yang suka bunga melati?"


Arsen tersenyum lagi. Chery yang melihat senyuman semanis gula, dan seindah mentari itu pun hanya sanggup menelan ludah.


'Ya Tuhan. Arsen emang seindah ini, ya.'


"Hidup saya terbilang nggak mulus Mba. Setiap pulang kerja rasanya ampun-ampunan, tapi pas nggak sengaja nyium wangi melati, perasaan saya jadi tenang. Apalagi kalo udah liat adik saya yang nunggu di rumah. Rasanya bahagia."


Chery yang awalnya merasa sangat excited pun mulai pudar saat Arsen mengungkit keluarganya.


Ya, pasti Arsen merindukan keluarga aslinya.


Tap!


Chery tiba-tiba menggenggam tangan Arsen tanpa permisi. Arsen tentunya terlihat sedikit salting, "tenang ajah. Selama balas dendam ini belum gue menangin. Gue bakalan buat idup lo bahagia."


Baik Arsen maupun Chery, kedua pipi mereka mulai memerah.

__ADS_1


__ADS_2