New Life Begins

New Life Begins
18. Obsesi


__ADS_3

Keluarga Addison, memang sudah turun-temurun susah sekali memiliki anak. Bahkan tak jarang beberapa generasi mengadopsi anak bibi maupun budenya. Yang terpenting masih satu garis keturunan, masih memiliki hubungan darah.


Tapi tidak untuk seperti keluarga Addison saat ini.


Christ Addison memiliki jarak yang cukup jauh dengan Archery Addison. Sekitar 10 tahunan. Itu pun kelahiran Archery penuh dengan drama, dan kehamilan ibunda Chery juga tak diduga-duga, maka dari itu, Christ sangat menantikan kehadiran adiknya.


Putih. Bersih. Sangat cantik lagi menawan.


Christ terpaku pada adiknya sendiri.


Ia senang bukan kepalang, dan ia sudah memantapkan hati, kalau dia akan menjaga Archery sepenuh hati.


Mungkin dimulai dengan bahwasannya ia dengar, kalau Archery saat dewasa akan dinikahkan dengan Arsen. Christ menjadi berlebihan terhadap Chery.


Siscon.


Ya, Christ tak keberatan jikalau dirinya dikatakan seperti itu. Ya, karena memang kenyataannya seperti itu.


"Bang, gue cinta ama Chery, Bang. Terima gue jadi adek ipar lo, ya." Arsen mengatakan kalimat ini di bangku kelas 3 SD. Dan kali pertama pertemuannya dengan Arsen, Christ juga sudah mencoreng nama Arsen tebal-tebal.


Hati Christ ngilu mendengarnya. Entah pikiran dari mana, bahwasannya ia menegaskan pada dirinya sendiri, kalau Chery adalah miliknya. Ia sayang Chery. Ia cinta Chery. Ia inginkan diri Chery.


Seutuhnya.


Ya. Christ yang saat itu sedang kuliah di luar negeri, dia tentu tak pernah menjumpai Arsen. Baik Arsen si Anak Kandung maupun Arsen si Anak Angkat.


Ketika libur semester, Christ hanya berdiam diri di rumah. Tentunya dengan menahan Chery untuk tidak pergi kemana pun.


Chery boleh main, asalkan di rumah. Bahkan teman-temannya pun harus ke rumahnya, kalau ingin bermain dengan Chery.


Chery memang tumbuh menjadi sosok yang sangat sempurna.


Memiliki kelopak mata indah yang menawan. Bentuk mata yang sempurna dalam kamus wanita. Memiliki bibir yang tipis, begitu ranum warnanya. Hidung mancung, lagi berwajah tirus.


Christ memang gila. Dia akui dirinya.


Semakin Chery tumbuh, semakin pula dirinya menggila akan cintanya.


Dia sudah terobsesi sepenuhnya dengan adik kandungnya itu.


Christ selalu berada di balik layar.


Bahkan jika seekor semut pun menggigit kulit Chery, maka Christ dengan senang hati akan menginjaknya sampai tak berbentuk lagi.


Christ pikir saingan terberatnya adalah Arsen, namun Christ bisa bernapas lega, karena memang Chery tidak sama sekali tertarik dengan Arsen.


Pernah beberapa bulan Chery memuji Arsen tanpa lelah, membuat Christ setiap kali melihat Arsen, ia ingin mencekiknya. Tapi tak lama Chery bersikap seperti itu, selebihnya, Chery hanya menganggap Arsen adalah sahabatnya.


Christ masih belum bisa bernapas lega. Saat menginjak usia SMA, Denis muncul. Mengambil hati Archery-nya. Chery bahkan berseri-seri saat memberitahukan bahwa dirinya telah resmi berpacaran dengan Denis.


Detik itu juga, Christ sudah memasukkan nama Denis ke dalam Death Notenya.


Kebencian Christ semakin menjadi, saat tahu, kalau Denis adalah tipikal bajingan. Dia berani menduakan Archery-nya.

__ADS_1


"Gue pastiin lo mati di tangan gue, Anjing!!" Seperti sebuah keharusan bagi Christ saat itu.


Terus menjadi gila.


Sebelum hari pernikahan berlangsung, Christ melihat Archery yang tengah tertidur di sofa ruang tamu. Mungkin Archery lelah, karena sebulanan ini sibuk mengurusi ini-itu untuk pernikahannya esok.


Christ mendekat, ia tatap dalam-dalam wajah adiknya. Titik fokusnya terhenti di bibir ranum adiknya. Gejolaknya sudah tak tertahan lagi, apalagi besok ia sudah menyandang status istri orang lain.


Chu!


Christ mencium bibir Chery tanpa adanya dorongan maupun paksaan.


Christ menikmatinya. Sungguh, meskipun hanya tempelan ringan dari sebelah pihak.


Cekrek!


Christ cepat-cepat membenarkan posisinya.


Deg!


Mata Christ membelalak sempurna.


Arsen datang tanpa permisi. Masih memegangi ponselnya setelah berhasil memotret sepasang kakak dan adik itu. Tangannya tiba-tiba tremor. Raut wajah tak percayanya menguar.


Christ menelan ludahnya dalam-dalam.


Dan di hari itu juga, rahasia terbesar Christ terbongkar. Dan Christ tidak mau Chery tahu akan dirinya yang seperti ini.


Christ hanya ingin Chery kenal sebagai kakak yang baik.


Bisa mati muda kalau begini ceritanya.


Christ pun meminta Arsen untuk menemuinya.


Arsen tentunya merasa takut, apalagi ia juga sudah percaya akan rumor, kalau Christ itu Siscon.


Maka dari itu, Arsen memilih untuk membuat video singkat untuk Chery dan Sandi kalau dirinya kenapa-napa setelah bertemu dengan Christ. Dan Arsen juga meminta Sandi untuk menemuinya di sebuah cafe, dan memintanya untuk mengambil tempat duduk di dekat jalan raya. Iya, alih-alih Arsen menjanjikan Sandi untuk menawari Arsen pekerjaan.


Mereka merupakan teman online, yang sengaja Arsen dekati tiga tahunan ini. Dan itu sengaja.


Bukannya Arsen tahu kalau dirinya akan meninggal.


Tapi pesan kasar yang Christ kirimkan untuk bertemu dengannya, membuat Arsen mati langkah.


'Ada hal yang harus gue omongin ke lo. Kita ketemuan di Coffee Shop deket Simpang lima. Ada hadiah buat lo yang cuman anak angkat, tapi besok bakalan nikahin adek gue yang beneran anak orang kaya.'


Hanya satu pikiran yang terlintas di benak Arsen.


Christ tahu dari mana kalau dirinya hanyalah anak angkat keluarga Cloude?


Tidak heran sih, Christ seorang Polisi dengan jabatan tinggi. Mungkin Rahasia Negara saja dia tahu.


Mau tidak mau Arsen menemuinya.

__ADS_1


"Lo mau tau nggak, hadiah apa yang gue kasih ke lo? Hadiah yang gue kasih udah masuk ke badan, lo. Gue saranin, lo jangan nyetir. Gue saranin sih kalo masih mau idup, lo ke rumah sakit secepetnya, lagian itu racun kerasanya agak lamaan kok."


Benar saja bukan?


Arsen menatap minuman yang baru ia minum beberapa teguk, lalu kembali menatap Christ yang tersenyum manis. Eye smile yang begitu memuakkan di mata Arsen.


"Bang, gue pastiin lo bayar semua yang lo lakuin, Bang. Dan gue pastiin, Chery bakalan benci ama lo seumur idupnya!"


Arsen pun bangkit, lalu meninggalkan Christ yang masih saja tersenyum manis. Bahkan ia melambaikan tangannya sok perhatian pada Arsen.


Christ memang tak main-main.


Benar saja, Arsen mulai merasakan sesak di dadanya. Tenggorokannya terasa terbakar, otot-ototnya mulai tegang, jantungnya bergemuruh hebat sampai membuatnya sakit.


Arsen pun menyempatkan dirinya untuk mengunggah percakapannya dengan Christ tadi yang berhasil ia rekam ke dalam Google Drive pribadinya, lalu ia merusakkan ponselnya setelah menelepon sekretarisnya untuk memberikan beberapa file pada Chery hari ini. Dan Arsen juga menghubungi Chery untuk menemuinya di sebuah Cafe yang sama dengan Sandi.


Mobil Arsen hilang kendali, saat ia berhasil memasuki area dimana ia akan bertemu dengan Sandi. Tapi naasnya, ia sudah tidak sanggup. Mulutnya mulai mengeluarkan busa putih. Matanya melotot dengan napasnya yang berat, namun sebisa mungkin ia mengontrol laju mobilnya.


Ia lihat ada seorang anak kecil yang tengah berada di tengah jalan. Tengah mengambil bolanya, dan Arsen berusaha untuk mengerem, tapi remnya tak berfungsi. Namun ia lihat Sandi berlari cepat, dan mendekap erat anak kecil itu, karena memang tabrakan tak bisa dihindari.


Brukkk!


Sialnya lagi, setelah Arsen menabrak Sandi, ada mobil yang tiba-tiba saja searah dengan mobil Arsen, lalu Arsen banting stir, dan--


Ckittt! Brakkk!


Mobil Arsen ditabrak dari kanan dan kiri. Seketika remuk, namun Arsen masih sanggup untuk membuka matanya. Masih ada hal yang harus ia lakukan. Ia terus berdoa pada Tuhan, agar malaikat yang menjemputnya bisa menunggu sebentar.


Arsen sudah tak merasakan apa-apa lagi.


Chery yang membeku beberapa detik, langsung menghambur.


Ia kenal dengan mobil yang ditabrak dari dua arah itu.


"Arsen ...!"


Ya, Christ masih ingat betul, bagaimana Archery-nya begitu panik.


Christ juga ingat dan tahu betul, bahwa Arsen sudah tiada hari itu.


Christ juga tahu akan kebenaran Sandi.


Christ tahu segala-galanya tentang adiknya.


Termasuk untuk saat ini, Christ tahu, kalau Archery-nya memiliki rasa untuk Sandi.


Dan Christ juga akan memasukkan Sandi ke dalam Death Notenya. Itu pasti.


Siapa pun yang mau mengambil Chery-nya, Christ pastikan kalau dia akan menyesal.


Seperti keadaan Denis saat ini.


Christ memang meracuninya, namun Christ masih memiliki rasa belas kasihan. Karena Christ pikir, Denis masih berguna.

__ADS_1


Saat ini, Denis terbaring di ranjang rumah sakit. Keadaannya kritis. Wajahnya tertutupi masker oksigen, dengan banyaknya selang dan kabel yang meliliti tubuhnya untuk membantunya menopang hidup.


Christ menatap Denis tak minat. "Tenang ajah, lo bakalan nyusul Arsen bareng ama si Sandi nanti. Tunggu ajah."


__ADS_2