
Apapun yang Chery lakukan, meskipun minus sekalipun, Christ akan tetap menyukainya.
Seperti saat ini, Chery menatapnya penuh dengan benci.
Sesekali gemelatuk giginya terdengar, lalu ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Sejujurnya, Chery ingin menangis. Iya, kenapa bisa ia tidak tahu apapun mengenai kakaknya yang terbilang gila ini?
Bahkan Chery masih ingat betul, bagaimana Christ menemaninya sedari kecil sampai dewasa. Menyayanginya yang Chery pikir, wajar-wajar saja bagi seorang kakak kepada adiknya.
Chery juga menyukainya. Kakaknya yang penuh pengertian dan selalu ada untuknya.
Tapi, Chery tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya terpukul luar biasa, saat baru saja ia dapat kabar dari Sandi, bahwa Sherly telah meninggal.
Segila ini kah kakaknya?
Untuk apa ia melakukan semua ini?
Untuk dirinya kah?
Sungguh Chery tak menginginkannya! Chery tak menyukainya.
Tak ada kesan ramah sama sekali, tetapi Christ tetap menyukainya.
Baginya, Chery-nya itu selalu terlihat cantik dan menawan.
"Bang, bisa stop nggak, Bang? Apa tujuan apa sih sebenernya, huh?!" To the point Chery.
Christ tersenyum manis sebelum ia jawab, "biar lo sadar, kalo Sandi itu nggak pantes buat lo, dek." Katanya begitu lugas nan jelas. Lalu Christ tersenyum lagi.
Chery menggelengkan kepalanya tak percaya.
"M-maksud lo apa, Bang?" Tanya Chery dengan nada yang rendah.
Isak Chery sudah ingin mengamuk.
Senyuman Christ memudar detik itu juga, tergantikan wajah yang begitu serius, yang kali pertama ini Chery melihatnya.
Iya, biasanya Christ juga memasang wajah serius, namun ada kesan jail di dalamnya. Yang membuat Chery jengkel dan berakhir pula menjadi lelucon.
__ADS_1
Tidak untuk kali ini. Bulu kuduk Chery bahkan meremang.
"Gue diem ajah, ya, pas lo mutusin buat pacaran ama Denis. Oke, fine. Meskipun Denis bajingan, tapi dia masih punya masa depan yang cerah buat lo dek," aku Christ. Sementara Chery, dia malah bingung dengan alur pembicaraan Christ. Namun Chery memilih untuk diam.
"Dan lo malah nikahnya ama Arsen yang tulus cinta ama lo. Lo nikahnya sama orang yang sempurna kayak Arsen. Syukurnya, lo nggak cinta ama Arsen, sih. Tapi sayang, sempurnanya Arsen cacat kena umur. Suruh siapa dia tau rahasia terbesar gue. Mati kan tuh orang! Mampus ajah sih!" Ungkap Christ yang juga terdengar sebagai pengakuan, bahwasannya memang Christ terlibat dalam kecelakaan itu.
"Gue kira, Arsen mati lo bakalan jomblo lagi. Tapi gobloknya gue, Arsen malah ngasihin lo ke si Sandi yang asal-usulnya nggak jelas,"
Iya. Bahkan seorang Christ pun yang tahu segalanya, dia tidak tahu kebenaran Sandi adalah adik kembar dari Arsen.
"Lo boleh sama lelaki mana pun dek, asal jangan sama si Sandi. Dia itu miskin, dia itu nggak punya apa-apa. Gue yang sakit hati liat lo naro perasaan ke dia! Dia itu nggak bisa apa-apa. Iya, dia sekarang lagi jaya, tapi itu juga pake embel-embel nama Arsen. Dia itu nggak tau diri, kenapa bisa suka ama lo! Dia itu nggak berhak jadi orang yang lebih bahagia daripada gue yang udah suka ama lo, semenjak lo lahir ke dunia ini dek!"
Tes!
Air mata Chery akhirnya jatuh juga.
Hanya alasan konyol seperti itu, mampu membuat Christ bermain kotor. Bahkan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.
Segila ini kah kakak tercintanya ini?
"Bang! Kalo lo nggak berenti, lebih baik gue mati ajah!" Chery tak main-main dengan ucapannya.
"Jangan harap lo bisa mati, dek! Kalo lo mati, gue juga bakalan bunuh si Sandi. Lo nggak lupa kan, dia bukan siapa-siapa?! Abis Sandi mati, gue ancurin reputasinya. Bakalan gue bongkar kalo dia ngambil identitas orang lain. Jadi, dia bakal dikenal jelek ama orang-orang. Lo mau dia jadi kayak gitu, huh?! Udah mati tapi masih ajah kena sial!" Christ juga tak main-main dengan ucapannya.
Plak!
Kali pertama ini Chery menamparnya. Tangannya yang memerah pun bergetar hebat. Lalu Chery pun menangis histeris. Kedua tangannya menarik-narik kerah baju Christ dengan gilanya.
"Kembaliin kakak gue, Anjing!"
"Kembaliin kakak gue! Kembaliin kakak gue!"
Pluk!
Tak terasa Christ pun ikut menangis. Ia peluk Chery-nya erat-erat. "Maaf, ya, dek. Meskipun lo bilang bakalan putusin hubungan lo ama Sandi, gue nggak akan berenti, selama Sandi masih idup, lo pasti bakalan inget sama dia. Jadi dia harus mati."
Chery menarik tubuhnya dari dekapan Christ. Raut tak percaya begitu tampak jelas di wajah cantiknya.
Dia benar-benar sudah kehilangan kata-kata lagi.
__ADS_1
"Kenapa nggak lo ajah sih yang mati, Bang!"
Plak!
Dan kali pertama ini juga, Christ menampar Chery. Dia juga terkejut sendiri dengan apa yang baru saja ia lakukan.
Chery memegangi pipi kirinya yang terasa panas. Apalagi tenaga laki-laki jauh lebih besar daripada perempuan bukan? Bahkan di sudut bibir kiri Chery terlihat sedikit robek. Setitik darah juga terlihat.
Christ memandangi tangannya begitu nanar.
Kenapa bisa ia lakukan kekerasan pada orang tersayangnya? Orang tercintanya?
"Ayo tampar gue lagi, Bang. Bunuh ajah gue Bang! Kita mati bareng ajah gimana, huh?! Asal lo lepasin Sandi. Idup dia selama ngenes, Bang. Dia--"
Huekkk!
Mendadak Chery mual, membuat atensi Christ tertuju padanya.
Kaget. Kecewa. Sedih. Marah. Semuanya tertuang lewat tatapannya.
"Sandi Anjing banget! Dia udah nyentuh, lo!"
Chery membisu. Ia tertunduk dalam, membuat Christ seakan mendapat jawaban tak langsung.
"Kalo iya gue harus mati, gue bakalan mati bareng ama Sandi!" Final Christ, lalu ia melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Chery yang menatap kepergiannya begitu sendu.
Otaknya penuh akan siasat jahat, dan hatinya penuh akan umpatan pada Sandi.
"Gue nggak maafin lo, Anjing!"
Brukkk!
Chery jatuh terduduk sembari memegangi perutnya yang tiba-tiba saja kram. Jika memang ia hamil, itu pertanda baik. Namun sayangnya, tidak untuk di waktu ini.
Bukan rasa bahagia dan haru yang Chery rasakan, melainkan rasa takut yang amat tinggi. Chery percaya, jika kakaknya itu tak pernah main-main dalam ucapan, apalagi perbuatan.
Chery takut akan keberadaan nyawa di dalam rahimnya, justru membuat Sandi pergi meninggalkannya. Untuk selama-lamanya.
"Gue nggak nyalahin lo, tapi kenapa sih?! Lo harus ada disaat kek gini, huh?! Lo nggak kasian ama gue?! Lo nggak kasian ama bapak, lo?!" Rancau Chery, lalu ia pun kembali menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Cukup lama ia menangis, ia pun bangkit. Kemudian menghapus air matanya cepat. Chery kembali memegangi perutnya. "Kalo lo bener ada, berarti lo emang berambisi ada, dan Tuhan ngirim lo sebagai anugerah gue ama Sandi. Jadi, lo juga harus bantu gue, ya."