New Life Begins

New Life Begins
7. Posesif


__ADS_3

"Udah sih nurut ajah! Gue cicipin dulu. Kalo ada racunnya gimana? Lo mau sekarat lagi huh?!" Bentak Chery, lalu merebut burger yang berada di hadapan Arsen.


Hal ini juga berhasil menarik perhatian pengunjung Cafe lainnya. Beberapa pengunjung pun bangkit lalu meninggalkan cafe tersebut.


Seorang pelayan pun mendatangi meja mereka, "maaf Tuan dan Nyonya. Kalau kalian masih ribut--"


"Kami minta maaf udah ganggu. Kita nggak bakalan ribut lagi." Chery kemudian tersenyum canggung, lalu menganggukan kepalanya pelan.


"Maaf banget, saya udah lancang. Saya bakalan bayar semua makanan yang ada di sini," ucapnya masih dengan mempertahankan senyum canggungnya. Si Pelayan itu pun langsung melirik Chery, menilainya dengan secara keseluruhan.


Bisakah ia mempercayai gadis ini?


Rasanya, ucapannya itu hanyalah bualan.


"Anda sudah mendengar kabar bukan? Kalau keluarga Addison dan Cloude itu menjalin tali keluarga? Nah, mereka ini Archery Addison dan Arsena Cloude." Tutur Christ, lalu menyerahkan ponselnya yang tengah menampilkan pernikahan mewah beberapa minggu yang lalu.


"Saya akan tanggung jawab. Cafe ini kayaknya cocok dimasukin di iklan. Saya bisa ngaturnya. Itung-itung ganti rugi, pelanggan pada kabur gara-gara adek saya ini. Saya juga pastiin keuntungan lainnya buat Cafe ini. Kami tulus meminta maaf," tuturnya lagi membuat pelayan tersebut mengerti. Dirasa urusannya telah usai, dia pun kembali pada pekerjaannya.


"Dek, lo kok segoblok ini sih?! Cinta sih cinta. Tapi jangan ngerugiin orang lain juga dong ah!"


Tuk!


Christ menyentil dahi lebar adiknya itu.


Chery mengusap-usap dahinya yang memerah sambil menatap sebal kakaknya tersebut.


Sementara Arsen, dia merasa seperti obat nyamuk. Namun jujur saja, Arsen senang melihat keakraban Christ dan Chery. Mengingatkan pada adiknya Sherly di kampung.


Entah bagaimana kabarnya? Arsen tidak berani mencari.


Iya, karena Sandi Alvero sudah dinyatakan meninggal dunia saat kecelakaan mobil kemarin.


Sandi memang serasa dijebak takdir, namun mau bagaimana lagi? Toh ini sudah terjadi, yang lebih penting lagi, Sherly, adiknya sudah bisa melihat dunia lagi.


"Jadi, kemaren lo keracunan apaan? Apa adek gue ini maksa masak, jadi lo keracunan makanan yang dia buat gitu?"


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Chery yang sedang mengunyah makanan milik Arsen pun tersedak. Buru-buru Arsen memberinya air putih, yang diterima langsung oleh Chery, dan meminumnya sampai habis.


Christ malah terbahak melihat wajah Chery yang memerah akibat tersedak.


"Jadi bener keracunan makanan yang lo buat. Lagian sok-sokan sih loh! Rasa kayak ****** juga, segala mau disajiin buat suami. Kebanyakan gaya lo!"


Tuk!


Lagi-lagi Christ menyentil dahi lebar milik Archery.

__ADS_1


"Sakit Anjing!"


"Dihhh anjing ngomong Anjing!"


"Auahhh! Males banget kalo ada lo, Bang!" Chery memberikan burger yang telah lulus dari yang namanya racun itu.


Arsen menerimanya, dan menatap gigitan lebar milik Chery di burgernya.


Bolehkah ia gigit?


Tapi apa ini tidak termasuk ciuman tak langsung kan?


Tapi kalau Arsen tidak memakannya, dia juga tidak enak hati dengan Chery. Terlebih lagi, gratis bagi dirinya bukan?


Sayang kalau tidak dimakan. Mubazir yang ada.


Arsen pun mau tak mau mulai menggigit burgernya.


Chery melirik Arsen sesekali. Entah kenapa rasanya hati Chery terasa aneh.


Iya aneh. Dulu saat Arsen masih hidup, Chery tidak segugup ini duduk bersebelahan dengan Arsen. Bahkan saat ini titlenya Arsen palsu.


Apa karena rasa bersalahnya yang menumpuk?


"Jadi, Bang. Gue mau minta bantuan lo," Chery bersuara setelah menghabiskan burgernya.


Christ mengalihkan pandang menatap adiknya. "Jangan yang aneh-aneh, ya?!" Lalu kembali menatap ponselnya yang terus mendapati chat tak jelas dari Denis. Sembari menyeruput minumnya.


'Bang. apa jadinya kalo adek lo dibohongin ama Arsen? Orang yang ngaku Arsen itu bukan Arsen, Bang. Percaya deh ama gue. Arsen yang asli udah mati, Bang. Gue liat dengan mata kepala gue sendiri.'


Begitulah kira-kira isi pesan yang menyepami ruang chat Christ.


"Gue mau lo bantuin gue bongkar semua kebusukan Denis!"


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Sekarang giliran Christ yang tersedak minumannya sendiri.


Lagi-lagi Arsen cekatan, dia memberikan minumannya pada Christ, namun ditolak oleh laki-laki tersebut. Christ menunjuk-nunjuk minumannya. Arsen pun paham, dan kembali sibuk dengan makanannya.


"Bukannya lo cinta mati ama si Denis-Denis itu, dek?" Tanya Christ lalu menatap Chery dengan keseriusan.


Chery menggeleng, "dia itu brengsek ternyata!"


"Baru nyadar lo! Syukurlah, akhirnya tau juga dia brengsek,"


"Bang, lo tau dia nyelingkuhin gue?"

__ADS_1


Christ mengangguk tanpa dosa.


"Terus selama ini, lo diem ajah gitu, adek lo diginiin?" Chery sungguh tak percaya.


Arsen menatap kedua saudara ini bergantian.


"Ya kalo gue yang ngomong lo nggak bakalan percaya dek. Jadi, yaudah gue tunggu lo tau sendiri ajah. Kan sekarang udah tau tuh, ya syukur," katanya seenteng toge.


"Babi banget sih! Tega banget lo ama adek sendiri."


"Oke, balik lagi ke fokus yang sebelumnya. Kenapa lo mau ungkapin kebusukan Denis? Mau menjarain dia apa gimana?" Tanya Christ mode serius.


Chery menganggukan kepalanya kecil, lalu ia taruh sebuah USB di atas meja. "Lo, kan polisi Bang. Punya pangkat tinggi juga, kan. Bukti buat ngundang Denis ke Penjara," lalu Chery kembali menyeruput minumannya.


Christ mengambil USB tersebut, memandangnya cukup lama, "bukan lo kan dek, yang ngumpulin bukti ini?" Tanyanya, yang langsung diangguki Chery. "Gue dapet dari Arsen. Iya, kan, Sen!"


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Tiba juga giliran Arsen yang kini terbatuk, Chery pun cekatan memberikan minuman miliknya. Arsen meminumnya membabi buta agar tenggorokannya terasa lega.


Christ memandang intens Arsen. Namun begitu samar.


Arsen menatap kaku Chery, yang langsung diberikan kode oleh wanita itu, agar mengiyakan ucapannya.


Arsen pun mengangguk kaku.


"Jadi, lo mau bantuin gue kan, Bang?" Tanya Chery cukup memohon.


Christ kembali menatap USB yang berada di genggamannya. "Gue liat dulu deh isi filenya,"


"Dih si Abang nggak percayaan amat sih! Dia itu jahat loh, Bang! Udah sih penjarain ajah. Brengsek banget tau orangnya! Dia itu berani Bang bunuh orang!" Chery pun geram.


Christ justru tertawa menanggapinya, lalu ia cubit kedua pipi adiknya gemas.


Chery menepis kedua tangan kakaknya kasar, lalu ia bangkit. "Gue mau ke toilet dulu. Titip Arsen ya, Bang." Chery pun berlalu, meninggalkan Christ dan Arsen yang mendapati kecanggungan luar biasa.


Arsen menghela napas pasrah, lalu ia raih minuman miliknya sendiri yang belum terjamah sama sekali.


Tap!


Christ menahannya sejenak, "jangan diminum. Ada racunnya." Wajah Christ begitu serius, membuat Arsen menelan ludahnya ngeri.


"Hahahaha ...." Tawa Christ menggelegar detik itu juga.


Christ menyodorkan air mineral pada Arsen, mengkodenya dengan salah satu matanya yang berkedip. "Lo habis sakit, Sen. nggak bagus minum es. Nanti nggak sembuh-sembuh loh." Katanya lalu menyingkirkan minuman milik Arsen tersebut.


Menaruhnya di jendela, yang dimana air dari sedotan tersebut menetes.

__ADS_1


Seekor semut yang mendapati tetesan air tersebut pun langsung mendekat. Semut itu meminumnya, dan tak lama kemudian semut itu berjalan tak karuan sampai akhirnya terbujur lemas tak berdaya.


Baik Arsen ataupun Christ tak memerhatikan nasib malang semut tersebut.


__ADS_2