New Life Begins

New Life Begins
13. Takdir


__ADS_3

Sudah tiga harian Archery mengurung diri di kamar setelah menonton video Arsen, membuat Sandi dibuat pusing karena banyak hal yang tertunda, bahkan tidak bisa ia selesaikan. Tentunya masalah pekerjaan.


Jangan melihat covernya saja. Seorang Sandi yang dikenal baik hati ini, ternyata ya memang cukup nekat juga.


Sandi berdiri di depan kamar Archery yang didesain dengan kaca transparan. Posisi Sandi saat ini berada di halaman dalam rumah. Sandi membawa sebuah kursi yang ia bawa dari meja makan.


Keputusannya sudah final. Masa bodo dia merusak properti orang. Yang terpenting sekarang adalah dia bisa melihat sosok Archery, yang Sandi sendiri bingung, tiba-tiba jadi seperti ini.


Prankkk!


Pecah sudah. Dan membuat pintu masuk yang cukup bagi Sandi. Serpihan kaca berserakan dimana-mana setelah kursi itu berhasil menerobos kamar Chery.


Tanpa menunggu lagi, Sandi masuk.


Srettt!


"Akhhh ...." Sandi meringis saat lengan kirinya tersayat kaca ketika ia berhasil masuk ke dalam kamar Chery.


Penghuni kamar masih terbengong di atas kasurnya. Sorot matanya bak ikan mati. Keadaannya kacau. Bau tak sedap pun menguar dari tubuhnya yang selama tiga harian ini tak diguyur.


Chery baru akan ke kamar mandi, jika dirasa ingin buang hajatnya saja. Setelah itu, dia kembali merana di atas kasurnya.


Rambutnya kusut, pakaiannya masih sama tiga harian yang lalu terakhir Sandi lihat.


Sandi memegangi lengan kirinya dengan tangan kanannya. Darah mengalir cukup deras, lantaran lukanya juga cukup lebar. Ia mendekati Chery, lalu memosisikan dirinya terduduk di tepian ranjangnya.


"Ayo keluar. Makan Mba. Udah tiga harian Mba nggak makan, kan?" Tanya Sandi yang tak digubris Chery.


Chery masih monoton. Masih saja seperti orang linglung.


"Mba kenapa sebenernya?" Tetap saja, Chery tak menjawab.


"Apa saya bawain makanannya ke sini? Mau gitu?"

__ADS_1


Chery masih bisu. Namun Chery sedikit melirik sepreinya yang sudah terhias oleh bercak darah Sandi.


Sandi menghela napas sejenak, kemudian ia bangkit. Saat Sandi hendak melangkah, tiba-tiba lengan kirinya dicekal oleh Chery, sontak Sandi pun kembali terduduk.


"Elo kok goblok banget sih?!" Chery langsung menggulung lengan Sandi yang terluka dengan selimut. Sementara Sandi hanya mengaduh, karena memang lukanya lebar, dan tentu saja terasa sakit.


"Lo diem di sini, jangan kemana-mana!" Titah Chery yang diangguki oleh Sandi.


Chery akhirnya turun dari kasurnya, lalu ia mengambil kotak P3K di dalam kamarnya.


Dengan telaten, Chery membalut luka Sandi sehati-hati mungkin.


Sandi menatap penuh arti Chery. Seandainya Sandi tidak terlihat seperti Arsen, Sandi yakin, Chery tak akan melakukan hal sebaik ini. Paling-paling Chery akan mengabaikannya.


Ya, itulah yang ada dipikiran Sandi saat ini.


"Kita panggil Dokter ajah ke sini. Gue trauma ama Rumah Sakit." Kata Chery yang diangguki oleh Sandi.


Tatapan yang entah apa di dalamnya, Sandi benar-benar tak paham.


"Apa gue berhak makan, Ndi?" Dan tiba-tiba saja Chery mulai terisak.


Sandi yang bingung harus bagaimana, tangan kanannya yang tak terluka bergegas mengelusi punggung Chery dengan lembut.


"Maksud Mba gimana? Manusia ya perlu makan, Mba. Saya ajah yang numpang gratis di sini makan pake nggak tau malu. Mba yang jelas-jelas pemilik rumah ini ya wajib makan, Mba." Ucap Sandi sehalus mungkin.


Chery menggeleng pelan, lalu ia usap air matanya. Namun lagi-lagi air matanya keluar. "Arsen mati karena gue, Ndi. Dia ngelakuin semua ini buat gue. Apa gue berhak makan? Apa gue berhak ngelakuin segala hal, sementara Arsen udah nggak ada?"


Sandi terdiam. Dia cerna baik-baik ucapan Chery.


Oh, ini menyangkut kematian Arsen. Jelas Sandi memakluminya.


Pluk!

__ADS_1


Isakan Chery terhenti saat Sandi memeluknya. Tidak begitu erat lagi tanpa paksaan. Begitu nyaman bagi Chery yang memang membutuhkan sandaran saat ini.


"Mba ..., Mas Arsen udah mempersiapkan segalanya untuk Mba, itu ya untuk Mba bahagia. Yang Mba harus lakuin sekarang ya bahagia. Menerima apa yang udah Tuhan kasih lewat Mas Arsen. Adapun kematian Mas Arsen, itu udah takdir dari Tuhan, Mba. Nggak ada hubungannya sama Mba. Walaupun Mas Arsen nggak ketemu saya. Walaupun Mas Arsen nggak ketemu ama Mba, kalau Tuhan mentakdirkan Mas Arsen meninggal, ya pasti bakalan terjadi, Mba. Dan nggak ada kecuali juga buat saya dan Mba."


Chery menarik tubuhnya dari dekapan Sandi, lalu menatapnya begitu dalam. "Tapi Arsen mati gara-gara nikahin gue, Ndi! Jalurnya dia mati karena gue, Ndi! Coba ajah gue nggak pacaran ama Denis yang gila harta, Arsen nggak bakalan mati sia-sia kayak gitu."


Sandi menggelengkan kepalanya keras.


"Takdir Tuhan itu indah Mba, kalo Mba mau tau. Kematian Mas Arsen memang udah jadi takdirnya, Mba. Umur nggak ada yang tau Mba. Bahkan yang masih bayi ada juga yang meninggal, remaja, dewasa bahkan manula apalagi. Hikmah dari semua itu harus kita ambil, Mba," tutur Sandi lagi.


"Emang apa hikmahnya dari orang-orang yang udah mati, Ndi?! Nggak ada hikmahnya buat orang yang masih idup! Nggak ada hikmahnya dari kematian Arsen yang jelas-jelas gara-gara gue, Ndi!"


"Hikmahnya ya kita harus bersyukurlah, Mba. Mas Arsen udah berjuang, Mba harus melanjutkan hidup. Mas Arsen mau Mba bahagia. Nggak ada salahnya Mba coba buat bahagia,"


"Caranya gimana, Ndi? Gue pikir, gue lebih baik nyusul Arsen ajah. Gue mau ketemu Arsen di sana. Mau gue tonjok itu orang! Seenaknya ajah pergi, buat gue ngerasa bersalah! Buat gue nyesel udah nelantarin perasaan dia! Gue--"


"Ya coba Mba pertama maafin diri sendiri dulu, Mba. Maafin diri Mba yang bodoh. Maafin diri Mba yang egois. Maafin diri Mba yang nggak bisa bales perasaan Mas Arsen. Terus Mba coba hidup dengan senyamannya Mba gimana. Hidup sebagai Archery Addison yang nggak bakalan menyesali sesuatu." Potong Sandi yang tak mau lagi, Chery berujar seenak jidatnya.


"Terus juga kalo Mba jalurnya bunuh diri buat nyusul Mas Arsen, emang Mba bakalan ke Surga gitu? Wong Mas Arsen kan meninggal bukan karena bunuh diri, tapi dibunuh. Kan dia nggak salah, nah yang salah itu bunuh diri. Bunuh diri itu dosa Mba. Terus kalo matinya karena dosa, ya pasti masuk neraka Mba."


Skakmat!


Chery hanya bisa membisu. Chery cerna baik-baik ucapan Sandi yang memang ada benarnya.


"Tapi, Ndi, gue nggak tau harus kayak gimana?"


Sandi hanya tersenyum.


Lagi dan lagi, Sandi dengan tanpa sadarnya, ia malah memeluk Chery. Mengelusi rambut panjang kusut Archery Addison. "Kalo Mba perlu bantuan, saya siap membantu, Mba. Saya tuntun Mba sampai Mba ngerti apa maksud dari Mas Arsen, supaya Mba bisa bahagia."


Chery membalas pelukan Sandi, yang demikian membuat keduanya semakin nyaman dengan posisi mereka pastinya.


"Lo salah, Ndi. Maksud dari Arsen itu, kebahagiaan gue dimulai dengan adanya lo di samping gue. Arsen itu sebagai perantara supaya lo bisa ketemu gue. Dan gue masih ambigu ama kebaikan Arsen, dan ketulusan lo, Ndi. Apa gue yang bego dan tolol ini pantes dapet kebaikan dari lo berdua?!"

__ADS_1


__ADS_2