
"Ndi, ayo kita pulang. Udah malem loh ini,"
"Ndi, gue lupa bawa mobil. Jangan jalan jauh-jauh lah. Capek nanti,"
"Jangan nyakitin diri lo sendiri, sih, Ndi!"
"Ndi lo denger gue nggak sih?!"
"Ndi, ayo pulanglah. Gue capek seriusan!"
Akhirnya Sandi pun terhenti. Chery memutar balikkan tubuhnya, menatap jalanan yang tak pernah ia lewati. Ternyata, jauh juga ia berjalan kaki untuk mengejar Sandi.
Sandi masih menatap lurus ke depan sana. Terlihat sebuah jembatan yang di bawahnya mengalir deras sungai. Sandi kembali melanjutkan langkah tanpa Chery sadari.
Chery pikir, Sandi sudah akan pulang.
Chery kembali memutar tubuhnya. Ia terkejut, Sandi telah jauh berjalan, dan lebih parahnya lagi, Sandi justru telah sampai pada jembatan di samping jalan raya yang masih saja ramai. Sandi menatap ke bawah, sangat serius melihat riak sungai yang tinggi karena kemarin kota Jakarta dilanda hujan semalaman.
"Sandi!"
Chery berlari. Ia lupa akan rasa lelah yang menimpanya. Larinya semakin kencang saat ia lihat Sandi yang menumpu tubuhnya pada jembatan tersebut.
Tap!
"Lo jangan gila!" Chery menarik lengan kanan Sandi.
Laki-laki seperti tak berjiwa itu pun otomatis tertarik. Lalu ia tatap Chery. Masih wajah tanpa ekspresi yang tak menyesal untuk mati.
"Lo mau lompat gitu, huh?! Mau mati lo Anjing!" Kesal Chery serampangan.
Dengan polosnya Sandi mengangguk tanpa ragu.
Plak!
Sungguh! Kali pertama ini Chery menampar seorang Pria selain Bajingan Denis yang memang pantas ditampar.
Arsen maupun Christ tak pernah merasakan mulusnya tangan Chery, kalau untuk pasti akan sakit juga.
"Lo kenapa sih?! Kenapa mau mati! Lo mau nyusul Arsen?! Lo mau nyusul nyokap lo?! Lo mau nyusul bokap lo?!"
Sandi mengangguk.
"Lo mau ninggalin adek lo huh?!"
Sandi mengangguk.
"Lo mau apa kalo udah mati huh?! Nggak kasian ama adek lo?!"
Sandi mengangguk. "Lagian adek saya juga udah nganggep saya udah mati. Jadi, nggak ada alasan lagi bagi saya buat--"
"Kalo lo mati gue gimana?! Gue gimana Anjing?!"
"Maafin saya, karena--"
"Lo harus tanggung jawab!"
Chery pun menangis. Tapi Sandi masih kekeuh, tapi jujur Sandi sedikit ngilu melihat Chery yang seperti itu. Bagaimana pun juga, tanpa Sandi sadari, kalau ia sudah menaruh hati pada Chery.
__ADS_1
"Saya--"
"Kalo kamu mati, terus aku gimana?!"
Sandi terdiam. Jujur ia bingung maksud ucapannya. kenapa tiba-tiba Chery memakai aku-kamu?
Pluk!
"Please, Ndi. Aku nggak pernah yang namanya takut keilangan seseorang. Denger kamu ngomong gitu, aku takut." Jujur Chery sambil memeluk Sandi begitu erat.
Takut kalau tiba-tiba saja Sandi melompat dari sini.
Sandi tentunya terkejut, bahkan tiba-tiba saja tangannya tremor. Biasanya ia berani mengelusi punggung Chery, tapi mendengar ucapan Chery tadi, ia mendadak takut.
Iya, takut kalau-kalau saja Chery hanya berbohong hanya untuk melanjutkan balas dendamnya.
Tapi Sandi juga cukup merasa lega, karena ternyata bukan cuman dirinya yang menyukai Chery. Tapi juga ada timbal baliknya.
Chery menarik kepalanya, posisinya masih dengan memeluk Sandi. Ia tatap manik yang masih belum percaya akan ucapannya itu, dan--
Chu!
Kedua manik Sandi yang tadinya hanya dipenuhi keputus-asaan, kini diobrak-abrik. Terkejut, bahagia dan segala ***** bengek keindahan Tuhan menciptakan bibir untuk apa itu terpampang jelas di mata Sandi.
Sandi tak membalas.
Sungguh ia masih terkejut!
Chery bahkan sekarang berjinjit, dan memasukkan lidahnya ke dalam mulut Sandi.
Chery bahkan memainkan lidahnya agar Sandi membalasnya.
Cukup lama, bahkan beberapa orang yang berada di dalam kendaraan mereka sekedar untuk lewat menatap mereka. Ada yang takjub bahkan jijik.
Tin! Tin!
Beberapa orang yang lewat akhirnya mengklaksoni mereka, membuat Sandi sadar. Spontan Sandi mendorong tubuh Chery.
Wajah Chery merah padam, tapi bukan Chery namanya kalo ia masih belum puas.
Tap!
Chery menarik tengkuk Sandi, memaksakan bibir dan lidah Sandi. Chery juga pemain yang licik, bahkan ia meremat bagian sensitif Sandi, membuat Sandi lagi-lagi terkejut. Sandi pun jalan termundur, dan tanpa babibu lagi, Sandi mendorong tubuh Chery dan--
Byurrr!
Sandi memilih untuk menceburkan diri bersama Chery.
'Anjing!' Runtuk Chery dalam hati.
Chery tidak habis pikir dengan jalan pikir lelaki ini.
Padahal Chery sudah jujur akan perasaannya, dengan dalih Chery juga yakin kalau Sandi memiliki perasaan yang sama.
Chery dengan cepat menarik Sandi ke permukaan. Mengingat lelaki ini tidak bisa berenang sama sekali.
Chery lirik Sandi yang benar saja masih kesulitan untuk menggerakkan kakinya. Tapi Sandi justru menarik-narik tangannya.
__ADS_1
Chery lantas turun ke bawah, mensejajarkan wajahnya dengan Sandi. Chery memegangi kedua bahu Sandi, mengintrupsi lelaki bodoh ini supaya mengikuti langkahnya.
Tapi--
Chuuu!
Sandi mencium bibir Chery tanpa permisi. Ekspresi Chery sama terkejutnya dengan Sandi di atas sana.
'Emang beneran Anjing ini orang. Untung sayang ....'
Sandi maupun Chery lupa dengan fakta bahwa Sandi bukanlah perenang, yang mana Sandi tentunya masih belum bisa mengatur napasnya di dalam air.
Sandi meremas baju kuat-kuat, asupan oksigennya sudah habis. Tautan bibirnya sontak terlepas begitu saja.
Chery hari sungguh dibuat bosan dengan yang namanya terkejut. Ia lihat Sandi telah merapatkan kedua matanya. Tubuhnya seakan siap ditelantarkan oleh arus.
Cepat-cepat Chery kembali menarik lengan Sandi, dan membawanya ke permukaan.
Setelah sampai di sana, Chery cepat-cepat menarik kedua tangan Sandi. Menyeretnya bak boneka. Dengan susah payah ia bawa Sandi ke pinggiran. Secepatnya Chery memompa dada Sandi sekuat tenaga, agar Sandi memuntahkan air yang ia minum.
"Sandi bangun!" Chery memang tipikal gadis yang cengeng. Dia menangis sambil terus memompa dada Sandi.
Sandi tak merespon sedikitpun, dan Chery tanpa pikir panjang memberinya napas buatan, lalu memompa dadanya lagi.
Sandi masih belum sadarkan diri juga.
"Bangun brengsek!"
Masih sama. Tangisan Chery pun semakin menjadi.
Chery satukan kedua tangannya, lalu ia pukul dada Sandi kuat-kuat, dan--
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Sandi akhirnya terbangun, kedua matanya mulai membuka secara perlahan.
"Anjing banget sih jadi cowok! Kalo mau mati nggak usah ajak-ajak bisa?! Balas dendam gue belum selesai bego!" Amuk Chery sambil mencoba menghentikan tangis.
"M-malu ...," Sandi berujar tak jelas.
"Ahhh, lo ngomong apa?" Ulang Chery masih mencoba menahan tangis.
Sandi menetralisir pernapasannya, lalu berkata, "aku malu kalo ciuman di atas sana, jadi aku pikir cari tempat sepi ajah."
Spechless ....
Chery terdiam beberapa detik.
Otaknya masih belum mampu menerima ucapan ambigu Sandi.
Ngbug!
Sandi pun bangun, dengan kedua tangannya dengan memegangi Chery, dan sedikit merubah posisi Chery. Lalu ia posisikan dirinya sama seperti Chery. Sejajar, dan--
Chu!
Kali ini Sandi yang mencium Chery. Perlahan-lahan ********** secara asal-asal, karena baginya ini kali pertamanya.
__ADS_1