
Seperti yang dijanjikan oleh Sandi pada Christ kemarin. Sandi datang tanpa siapa pun.
Sandi berdiri di depan pintu bangsal yang tak diterakan namanya. Namun Sandi yakin, kalau di dalam sana, Denis adalah pasiennya. Tak menunggu lama, Sandi pun menggeser pintu bangsal tersebut, dan menemukan sosok Christ yang tengah mengupas apel dengan santainya di tepian bangsal Denis.
Ah, bukan tepian lagi. Tapi lelaki gila itu tengah menduduki salah satu kaki Denis di sana.
"Beneran dateng nih, kirain bakalan tega biarin si Babi mati," ujar Christ lalu memakan apel yang ia potong kecil di genggamannya.
Sandi pun masuk, lalu menutup pintu tersebut. Ia menghela napas sejenak, kemudian berjalan mendekati Christ.
Sandi menarik kursi yang berada di samping bangsal Denis. Lalu menarik paksa kerah Christ, sampai laki-laki itu tertarik bangun, dan Christ pun duduk secara terpaksa.
Christ tidak marah, justru ia malah terbahak.
"Seenggaknya hormatin sedikit orang yang lagi sakit," titahnya, membuat tawa Christ semakin pecah.
Christ mengangguk-anggukan kepalanya. Memang niatan mengejek, Christ pun bangkit. Lalu ia menatap jam yang melingkar manis di lengan kirinya. "Aaahhh ..., udah waktunya ini."
Christ mendorong tubuh Sandi jauh-jauh. Sandi yang tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya bisa pasrah.
Christ menatap pintu bangsal, dan di sana ia melihat seseorang yang akan menjadi pelengkap cerita yang akan ia buat hari ini. Senyum sumringah terpancar jelas di wajah Christ, Sandi yang melihatnya justru bingung.
Bahkan tidak ada hal yang lucu.
Christ kembali mendekati Denis, Sandi spontan ingin melangkah, karena Sandi tahu, pasti Christ akan melakukan hal gila.
Christ menggerakkan tangannya berisyarat, 'kalo lo maju, Denis mati sekarang!'
Alhasil, Sandi kembali terdiam di posisinya.
__ADS_1
Melihat aksi gila Christ yang kini mengambil paksa bantal yang ditiduri oleh Denis. Christ tersenyum manis pada Denis, lalu bergantian menatap Sandi yang sudah paniknya bukan main. "Lo, boleh kok nolongin dia." Katanya lalu membekap Denis tanpa ampun. Selang beberapa detik monitor di samping bangsal Denis berbunyi tak karuan, Denis meronta-ronta karena pasokan oksigennya tiba-tiba saja hilang.
Sandi tak tahan lagi, ia pun berjalan mendekat, lalu mendorong tubuh Christ agar menjauhi Denis.
Christ pun terdorong. Sandi mengambil bantal yang menutupi wajah Denis, dan membenarkan posisi masker oksigen Denis yang terlepas karena bekapan tadi.
Baru saja Sandi memegangnya, pintu bangsal Denis tiba-tiba tergeser.
"Sen, lo apa-apaan sih! Mentang-mentang Denis masih ngejar Chery, jadi lo mau buat Denis mati gitu, ya!" Maki Christ tepat saat seseorang yang baru saja menggeser pintu bangsal Denis berhasil masuk.
Clara terkejut bukan main, kedua tangannya menutupi mulutnya tak percaya. "Ya Tuhan Denis!" Clara pun berjalan cepat mendekati ranjang Denis.
Sandi telah membenarkan posisi masker oksigen Denis, namun tubuh Denis masih saja mengejang, dan bunyi monitor pun tak henti-hentinya tenang.
Clara spontan menarik Sandi lalu mendorongnya. Lalu Clara memencet tombol darurat agar Dokter dan perawat lainnya datang.
"Gue udah bilang bukan, kalo Arsen itu jahat. Tuh liat buktinya, bentar lagi Denis mati." Ucap Christ begitu enteng.
Iya, Clara ada di sini karena Clara mendapat pesan tak dikenal. Namun, foto profil yang terlihat jelas adalah foto Arsen. Jadi, Clara memercayainya. Bahwasannya, ia harus datang ke alamat rumah sakit yang dituju, dan di pesan tersebut juga tertera nomor kamarnya. Clara pikir, Sandi telah menemukan Denis lalu mengabarinya.
Tapi ini yang di dapat?
Sandi mencoba membunuh Denis?
Tidak bisa! Karena rencana Christ yang ingin mengkambinghitamkan Sandi sepertinya akan gagal setelah Clara berkata, "bajingan nggak tau diri lo! Polisi udah pada dateng ke sini buat nangkep lo, anjing!"
Christ hanya bisa terkejut, lalu menatap Sandi penuh murka.
Sandi pun akhirnya tersenyum penuh kemenangan, "maaf saya nggak tepatin janji. Saya bukan Mas Arsen yang punya segalanya. Saya cuman punya teman-teman yang bisa saya andalkan. Kalau saya sendirian nekat kalahin Mas Christ, itu nggak akan bisa Mas. Jadi, saya yang bukan siapa-siapa pasti butuh bantuan," terang Sandi.
__ADS_1
Christ tertawa getir, lalu ia berjalan mendekati jendela. Bisa ia lihat Roland yang tengah berjalan bersama Vino. Dan beberapa polisi terlihat menyebar, dan ia juga lihat beberapa Reporter lengkap dengan kameranya juga ada di sana.
Iya, sebelum Sandi datang kemari. Dia menemui semuanya, termasuk Clara. Mengatakan kalau ia akan menemui Christ yang berkemungkinan akan mencelakai Denis.
Clara terkejut, kemarin dia juga mendapat pesan. Clara kira itu dari Sandi, ternyata tipu muslihat Christ.
Iya, Christ ingin menjatuhkan harga diri Sandi sejatuh-jatuhnya, agar ketika Sandi mati nanti, yang bisa dikenang hanyalah kebiadaban Sandi yang direkayasa oleh Christ.
"Semua bukti yang saya punya dari Mas Arsen, sudah saya serahkan ke pihak yang berwajib Mas. Emang butuh lama cari polisi yang jujur, tapi Tuhan memang baik, Mas." Kata-kata Sandi membuat Christ muak, lalu ia pun berbalik lalu mendekati ranjang Denis.
Sandi pun mengambil langkah ingin menghadang Christ, namun gerakan tangan Christ begitu cepat mengambil sesuatu dari dalam saku jaketnya.
Jleb!
Kedua mata Sandi membesar seperkian detik ketika Christ memeluknya seperti ini. Pisau berukuran kecil yang Christ keluarkan tadi masuk dan merobek kulit halusnya.
Christ tak segan, ia memutar-mutarkan pisaunya agar Sandi lebih menikmati lagi rasa sakitnya.
Clara berteriak histeris, melihat tetesan darah di bawah kaki Sandi dan Christ. Dan bersamaan pula, bunyi monitor di samping ranjang Denis melengking panjang.
Sandi menepuk-nepuk punggung Christ. Napasnya tiba-tiba tercekat begitu saja.
"Lo keluar sekarang!" Titah Christ pada Clara. "Cepet panggil Dokter kalo mau Denis idup! Soalnya percuma lo teken tombol darurat. Dokter tanggung jawab Denis, itu suruhan gue bego!" Clara pun hanya bisa menurut, lalu ia keluar dari kamar Denis.
Christ mendorong tubuh Sandi, sengaja mendudukannya di kursi roda yang ada di sana. Sandi yang kehilangan banyak darah pun tak bisa melawan lagi. Dia pun hanya bisa pasrah sambil menahan sakit yang mulai menghujami tubuhnya.
Christ mencabut paksa pisaunya, membuat Sandi mengerang sesaat, sontak kedua tangan Sandi menutupi luka di perutnya.
Christ pun menyuntikkan obat tidur di leher Sandi secara paksa. Salah satu tangan Sandi spontan memegangi lehernya yang perih, ia tatap wajah Christ yang tengah menyeringai, rencananya boleh gagal tetapi rencana untuk bertemu Arsen bersama Sandi tentu tidak boleh gagal. "Ayo kita mati bareng ajah." Ajaknya, lalu pandangan Sandi pun mengabur.
__ADS_1
Christ menyempatkan diri untuk mendekati Denis, lalu ia menyuntikkan sesuatu pada infus Denis. Kemudian ia pun melenggang bersama Sandi yang terduduk di kursi roda sebelum orang-orang yang Sandi maksud kemari.