
Hari ini tepat bulan kesembilan dimana Sandi yang masih betah memejamkan matanya. Benar sekali, bahkan Chery hanya tinggal menunggu hari saja untuk ia melahirkan. Dan tepat hari ini pula, ia akan dinikahkan secara paksa oleh orang tuanya.
Pada bulan ketiga Sandi koma, orangtua Chery menyuruhnya untuk menceraikan Sandi. Alih-alih Arsen, kedua orangtuanya juga sudah tahu identitas asli Sandi. Yang tentunya identitas yang sudah diperbarui oleh keluarga Cloude. Namun, Chery menolak keras, ia tetap pada pendiriannya. Ia akan menunggu sampai Sandi terbangun, atau sampai Sandi yang memutuskan sendiri untuk meninggalkan dunia ini.
Chery yakin, Sandi masih berjuang untuk kembali. Karena mau mengalami serangan jantung berulang kali pun Sandi masih ada. Sandi masih di dunia ini. Chery yakin, Sandi masih ingin melihatnya dan juga buah hatinya.
Benar bukan?
Terlebih lagi, pada bulan kelima yang sudah jelas sekali, bahwasannya Chery akan memiliki anak kembar, Chery semakin bersemangat. Ia tak bosan-bosannya menceritakan kesehariannya dan si buah hati pada Sandi. Meskipun tak ada respon, namun Chery yakin, ia masih mampu untuk bertahan.
Tap!
"Gimana kerasa nggak anak kamu nendang-nendang kayak gini? Dua loh ini di perut aku. Makanya kamu cepet bangun, ya. Aku mana sanggup ngurusin anak dua, mending kalo anaknya anteng kayak kamu, gimana kalo dua-duanya serampangan kayak aku? Yang ada aku mati muda nih!" Dengan hati-hati Chery menggenggam lembut tangan Sandi yang bebas akan infus. Menyuruh tangan lemah tak berdaya itu mengelusi perutnya yang semakin membesar. "Kamu pasti bangun kan?" Dan tak ada hari selain deraian air mata pada akhirnya.
Chery menangis untuk kesekian kalinya.
"Ibu nggak paksa kamu buat cerai ama Sandi-Sandi itu. Tapi kamu juga harus liat masa depan kamu. Apalagi anak kamu bakalan kembar juga! Sandi nggak bisa diharapkan lagi, Ry! Kamu nurut sih ama Ibu. Kalo kamu nggak mau lepasin Sandi, kamu harus nikah lagi! Ibu ama Ayah nggak mau tau!"
Itu ucapan Ibunya ketiga kandungan dan Sandi yang masih terlelap dalam komanya di bulan ketujuh. Bahkan ucapan ibunya Chery anggap perang, saat ia, Vino dan Roland lengah, diam-diam ibunya mengambil keputusan untuk melepaskan Sandi.
Semua prosedur pencabutan alat bantu Sandi orangtuanya yang urus, bahkan Sandi dipindahkan kamar pun Chery sempat tak tahu. Beruntung, Clara yang pernah berpura-pura menjadi perawat selama semingguan kala itu pun berhasil menemukan Sandi, dan lagi-lagi Sandi pun lolos dari maut. Iya, Clara tentunya mencari Sandi dengan caranya sendiri. Sama seperti saat ia memantau Sandi yang endingnya dia dan Denis dituduh meracuni Sandi.
Bulan kedelapan, Sandi masih berjuang.
__ADS_1
Tak ada tanda-tanda ia akan bangun. Bahkan lebih parahnya lagi, air mata Sandi mengalir dengan sendirinya. Chery hanya meyakini, kalau itu tandanya Sandi akan terbangun sebentar lagi. Bukankah Sandi meresponnya?
"Itu artinya dia minta direlain bukan sih?" Itu kata Vina yang sudah berpengalaman menulis berbagai artikel. Bahkan dari narasumbernya langsung. Tentunya terpercaya.
Chery sempat menyerah dalam satu waktu. "Kalo iya kamu udah nggak sanggup, kamu boleh kok pergi." Alhasil, Chery menangis tersedu-sedu. Dia yang termakan ucapan Vina pun sungguh menyesal. Pasalnya, saat itu ia merasakan genggaman yang benar-benar samar dari tangan Sandi. Tapi entahlah, karena mungkin saat itu ia sedang emosional, jadi ia pikir Sandi membalas genggamannya.
Finalnya, orangtua Chery masih memaksanya untuk menikah lagi. Dan ini harus, kalau tidak orangtua Chery tidak segan-segan untuk mengirim Sandi keluar negeri. Dan itu bukan sekedar ancaman, karena Chery pun pernah kecolongan.
Chery tahu, orangtuanya melakukan hal ini untuk dirinya dan masa depannya. Bahkan jika Sandi bisa berkata di dalam masa komanya, pasti Sandi akan mendukung kedua orangtuanya. Lelaki baik hati itu takkan mampu melihat Chery sefrustasi ini bukan?
"Ry, gimana kalo lo nikah ama gua ajah? Nanti kalo Bang Sandi bangun, kita cerai gimana?" Tawaran Roland benar-benar menggiurkan sampai-sampai membuat Chery langsung berkata iya.
Dan hari ini, pesta pernikahan akan dilangsungkan di gereja yang tamu undangannya begitu minim. Hanya beberapa kerabat dekat saja yang hadir. Mengingat ini pernikahan kedua Chery dan juga wanita ini tengah hamil tua.
"Aku nggak ada niatan buat khianatin kamu, Ndi. Kamu pasti ngerti kan?! Cowok yang aku cinta cuman kamu." Lagi-lagi Chery menangis, namun secepat kilat, Vina menghapusnya. "Awas make upnya luntur. Nggak lucu kan, lo malah jadi kunti, bukan jadi cewek paling cantik segereja." Candanya yang malah membuat tangisan Chery bertambah volume.
"Lagian candaan lo nggak etis banget sih elah!" Sindir Roland yang dapet acungan jari tengah dari Vina.
Chery menghapus air matanya sendiri, "gue cuman mau cantik buat Sandi. Nggak ada niatan buat jadi cewek cantik segereja." Katanya begitu polos.
Roland mengelus dadanya sabar. "Apalah dayaku yang hanya sebagai pengantin pengganti." Ucapnya sok drama.
"Drama banget sih Anying! Udah sana, entar telat!" Bentak Clara yang sebulanan ini emosian.
__ADS_1
Iya, bagaimana tidak emosian? Karena Roland sudah resmi menjadi kekasihnya. Namun, lagi-lagi lelaki yang ia sukai justru menjadi milik Chery.
Tidak Denis. Tidak Roland.
Lelaki buaya darat!
Tadinya ingin memaki seperti itu, tetapi keadaan Roland tidaklah sebrengsek Denis yang sukanya mendua. Meskipun nanti hanya mendapat jatah bekasan--nama Duren tanpa terjamah maksudnya. Clara rela menunggu Roland menduda secepetnya.
Clara pun keluar dari kamar Sandi, dengan langkah yang ia hentak-hentakkan saking kesalnya.
Iya, perjalanan cinta Roland dan Clara terbilang unik. Entah siapa yang duluan dipepet atau ngepepet, yang jelas mereka saling melengkapi satu sama lain. Sayangnya harus terpisah karena keadaan. Mereka saling mencintai dan menyayangi. Titik!
Chu!
Chery mencium kening Sandi begitu lama. Jejak air mata di kedua pipinya yang baru saja kering kembali basah, sungguh ia tidak rela meninggalkan Sandi barang kali sedetikpun.
"Yaudah, gue anter Chery dulu, ya, Vin. Entar gue balik lagi." Pamit Vina yang diangguki oleh Vino.
Vina menepuk-nepuk bahu Chery untuk menyudahi pamitannya dengan Sandi. Chery segera memosisikan tubuhnya seperti semula, ia pun menganggukan kepalanya, lalu pergi meninggalkan kamar Sandi dengan sangat tidak rela. Vina pun membantu memegangi belakang gaun pernikahan Chery yang terbilang minim akan yang namanya kemewah-mewahan.
Sekarang tinggal Roland dan Vino yang saling tatap. Karena canggung, mereka pun memilih untuk menatap Sandi yang masih terlihat begitu damai dalam tidurnya.
Roland mendekat lebih dekat lagi. Kepala Roland ia julurkan, menatap wajah Sandi dengan jarak yang begitu dekat. Wajahnya tiba-tiba sendu. Jujur, ia juga tidak suka dengan tawarannya sendiri untuk menikahi Chery. Namun, bagi Roland, ini sebagai penebusan dosanya terhadap Sandi dan Arsen. "Bang bentar lagi, gue bakal nikahin bini lo, Bang. Kalo lo beneran nggak mau dia nikah lagi, coba bangun, Bang. Gue tau lo denger gue. Jadi, please lo bangun. Cegah Chery supaya nggak ngucapin sumpah suci untuk kedua kalinya, Bang. Lo harus bangun, Bang. Buat Chery, buat anak-anak lo. Lo harus bangun!"
__ADS_1