New Life Begins

New Life Begins
32. Selamat tinggal semuanya [Part 1 END]


__ADS_3

Dingin nan keras sudah related sekali untuk Christ, sudah sembilan bulan lamanya ia berada di balik jeruji besi ini. Kesehariannya sungguh membosankan, sampai-sampai rasanya dia sudah rela untuk mati detik ini juga.


Iya. Christ memang menunggu harinya untuk eksekusi, namun jangan kira, dirinya tidak akan mati kalau Sandi masih hidup. Dan hari, ia mendengar kabar bahwasannya Sandi telah bangun dari tidur panjangnya.


"Gue nggak mau mati sendirian. Lo harus ikut gue, brengsek!" Gumam Christ, lalu ia keluarkan sebuah benda dari saku tahanannya.


Iya, sebuah serbuk putih yang akan membawanya keluar dari sini.


Christ membuka plastik benda tersebut, lalu menelannya sampai habis. Tak berangsur satu menit pun, tiba-tiba tubuh Christ mengejang, dan busa putih pun mulai keluar dari mulutnya. Tahanan yang lain pun dibuat terkejut, dan seketika kegaduhan terjadi beberapa saat sampai membuat Sipir penjara mendatanginya.


Cepat-cepat sang Sipir pun mengevakuasi Christ, membawanya keluar dari sel, dan menghubungi ambulan secepatnya untuk dibawa ke rumah sakit.


Christ bukannya bunuh diri dengan sengaja meminum racun, tapi serbuk putih yang ia telan hanyalah rekayasa semata. Christ akan bangun dalam hitungan menit dari sekarang.


Saat ini, ia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ia mulai membukakan kedua matanya, ia lihat ada seorang petugas medis yang kini terkejut melihatnya sudah sadarkan diri.


"Kamu nggak papah?" Tanyanya khawatir.


Christ sengaja menaik-turunkan dadanya dengan kedua matanya yang sengaja ia delikkan ke atas, seolah-olah dia kesulitan untuk bernapas, padahal masker oksigen sudah diterpasang di wajahnya.


Si Petugas medis sontak mendekatkan wajahnya, yang langsung mendapatkan tonjokkan dari Christ dengan tangan kirinya yang bebas tak terborgol.


Tepat mengenai salah satu mata si Petugas, membuat Petugas itu terdorong ke belakang. Christ secepatnya bangkit, lalu melepaskan masker oksigennya untuk ia liliti ke leher si Petugas. Mencekiknya kuat-kuat, lalu Christ hantamkan kepala si Petugas pada dinding mobil.


"Di belakang kenapa? Kok berisik?" Teriak temannya yang menyupiri di depan sana. Namun tak ada jawaban, tapi tak membuat si temannya ini berhenti. Dia malah semakin menambah kecepatan mobilnya, karena ia pikir di belakang sana, pasien sedang kontraksi lagi. Mengingat pasien yang ia bawa adalah pasien yang tengah keracunan dan dalam keadaan gawat darurat. Jadi, ia pun menghiraukan kegaduhan yang ia dengar dari belakang tersebut.


Berkali-kali ia lakukan sampai si Petugas kepayahan, dan ia pun tak sadarkan diri.


Christ langsung meraba-raba saku si Petugas untuk mendapatkan kunci borgolnya. Setelah Christ dapatkan, Christ pun menukar setelan baju yang ia pakai dengan si Petugas. Tak lupa, Christ juga menyempurnakan si Petugas dengan menancapkan infus dan memakaikan masker oksigennya pada si Petugas tak berdosa itu.


Perjalanan panjang pun berakhir.


Cepat-cepat pintu ambulan pun dibuka, dan langsung dikeluarkan si Petugas medis yang dibuat mampus oleh Christ tersebut. Christ tentunya ikut keluar, dia pun ikut mendorong ranjangnya untuk dibawa ke ruang UGD.

__ADS_1


"Tidak tahu apa yang ia telan. Vitalnya sangat tidak stabil, dan jantungnya sempat terhenti." Katanya sok menerangkan, yang diangguki oleh dokter yang ikut mendorong ranjang tersebut.


Christ pun terhenti di depan UGD, lalu ia memutar arah. Dia pun berjalan ke arah meja informasi untuk menanyakan keberadaan Sandi, yang ia dengar kalau Sandi pasti dilarikan di rumah sakit ini.


Disaat sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, Christ pun bergegas.


Lantai empat bangsal VVIP.


Sepuluh menit kemudian, Christ telah sampai, dan ia sempatkan diri untuk mencuri jas kedokteran di salah satu ruangan yang tak berpenghuni. Mungkin, sedang istirahat atau kemana Christ tak peduli.


Christ juga tak lupa memakai masker, lalu ia geser pintu bangsal Sandi. Bisa ia lihat, Sandi yang kini ditemani oleh Chery.


"Chery, Abang kangen ama kamu, sayang."


Ingin rasanya Christ memeluk Chery seerat-eratnya, lalu membisikan kata-kata rindu untuk orang terkasihnya. Namun, hal itu hanyalah kelakukan fana yang takkan mungkin ia rasakan.


Christ berjalan cepat mendekati ranjang Sandi. Dan si pemilik ranjang, sepertinya masih belum sadarkan diri. Namun Christ yakin, kalau Sandi sudah baik-baik saja, karena Sandi tak lagi dililiti banyak selang dan kabel. Hanya tersisa masker oksigen dan selang infus untuk memulihkan Sandi.


Chery yang mendengar pintu digeser pun langsung menoleh, "bukannya tadi dokter udah--" Chery cepat-cepat menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tidak percaya apa yang ia lihat.


"Abang mau apa?! Pergi!" Usir Chery yang tak diindahkan oleh Christ.


Christ menatap Chery begitu haru. Iya, dirinya tak menyangka, kalau Chery akan cepat mengenalinya, bahkan ia sudah memakai masker dan mencuri beberapa seragam orang-orang tak berdosa ini.


Ya, mau gimana-gimana juga, Chery sudah mengenal Christ sepanjang hidupnya. Samaran murahan seperti ini tidak mempan untuk Chery.


Langkah Christ terhenti. Tatapannya terhenti di perut Chery yang amat besar. "Kamu beneran hamil anak Sandi?! Kenapa kamu nggak gugurin, Dek!"


Tap!


Christ pegang kuat-kuat bahu Chery, yang jujur saja Chery mulai takut dengan kakak kandungnya saat ini.


Mata Christ menyiratkan siapapun yang menghalanginya akan ia langkahi, meskipun Chery sendiri.

__ADS_1


"Abang cuman mau ajak Sandi ke akhirat bareng abang, dek."


Chery pun tercekat mendengar kalimat yang keluar dari mulut kakaknya itu.


Plung! Bugh!


Christ mendorong tubuh Chery begitu kuat, membuat punggung Chery terbentur tembok, lalu ia terjatuh dilantai dengan sebegitu kerasnya.


Iya, sangat keras sampai-sampai membuat perut Chery mulas, dan tak lama kemudian Chery liat, kalau darah dari area sensitifnya mulai mengalir.


Sakit bukan main, Chery mulai terisak.


Hatinya lagi-lagi diremat tanpa ampun, padahal tadi pagi ia sudah bisa bernapas lega.


"Abang jangan gila!" Teriak Chery histeris melihat Christ yang membabi buta membekap Sandi dengan bantal.


Sandi meronta-ronta. Kedua tangannya mencengkeram erat kedua tangan Christ. Berusaha untuk melepaskan bantal yang menutupi keseluruhan wajahnya. Karena sesak bukan main.


"Semua gara-gara lo! Gue harus liat lo mati duluan, baru gue nyusul lo!"


Christ terus menekan bantalnya kuat-kuat, selang infus yang tadinya dialiri cairan bening, kini sudah tercampur dengan darah Sandi yang naik ke permukaan.


Chery hendak bangkit, namun perutnya mulas, dan sepertinya perutnya mulai kontraksi karena benturan keras yang ia dapatkan tadi. "Abang! Abang stop! Jangan bunuh Sandi, Bang! Adek nggak bisa idup kalo Sandi mati!" Tangis Chery mulai menggelegar.


Christ tak menghiraukan, ia menikmati detik-detik Sandi yang sekarat.


Dan tak berselang lama, kedua tangan Sandi melemah, dan jatuh begitu saja.


Chery membatu, tiba-tiba kepalanya pusing. Dadanya benar-benar sesak melihat tangan Sandi yang terkulai lemas tak berdaya.


Christ pun akhrinya menolehkan kepalanya, dan bersamaan banyak orang yang masuk ke dalam bangsal VVIP ini.


Dokter beserta polisi, dan juga Vino dan Roland.

__ADS_1


Beberapa polisi yang datang langsung membekukan Christ. Lelaki ini justru tersenyum bahagia. "Kalo lo nggak bisa idup tanpa Sandi, lo ikut ajah ke akhirat bareng gue ama Sandi, dek."


__ADS_2