
Sherly pikir, hidupnya akan lebih panjang saat ia bisa kembali melihat.
Sherly pikir, bahwa Tuhan mengabulkan doanya. Iya, Sherly pernah berdoa, kalau ia ingin menyusul kakaknya saja.
Sherly pikir, setelah ia ikhlas menerima kepergian kakaknya, ia akan mencoba hidup bahagia dengan Vino.
Tes!
Air mata Sherly jatuh begitu saja. Mati-matian ia tahan agar tak menangis, namun setitik air mata yanh jatuh itu, membuat hatinya bergetar, dan ia pun terisak. Sherly pun memilih untuk tertunduk.
Jika Tuhan mau mengabulkan doanya lagi. Sherly ingin hidup untuk hari ini dan seterusnya.
Dulu, Sherly harap kematian Sandi hanyalah sebuah mimpi buruk di malam hari, saat ia bangun pagi, dia pasti akan menemukan sosok kakaknya yang akan siap berangkat kerja.
Sherly memang dulu buta, tapi Sandi takkan lupa untuk meminta doanya, agar pekerjaannya hari ini lancar dan berkah. Dan kakaknya itu, pasti akan memeluknya.
Christ memanyunkan bibirnya sok lucu. Lalu kepalanya ia turunkan untuk bisa melihat wajah Sherly yang tertunduk.
"Kok nangis sih?! Harusnya bahagia dong, tau kakaknya masih idup. Nggak berbakti banget sih jadi adek!" Ketus Christ dengan suara bayi yang dibuat-buat.
Iya, Sherly sudah membaca isi pesan Vino. Dan itu terjadi beberapa menit yang lalu. Dan setelah membaca semua pesan Vino, Christ berubah drastis. Sherly pun jadi takut.
Dan, baru beberapa menit yang lalu pula, Sherly membuatkan secangkir teh untuk Christ. Namun Christ malah menambahkan sesuatu yang tak Sherly tahu. Christ mengatakan, kalau ia hanya menambahkan gula miliknya saja. Lalu menyuruh Sherly untuk meminumnya.
"Cepet minum tehnya keburu dingin loh," Christ pun membenarkan posisinya, lalu menangkup paksa kedua pipi Sherly.
Sherly tentunya memberontak, tapi tenaganya kalah jauh dengan Christ yang laki-laki.
Salah satu tangan Christ mengambil teh yang ada di meja, yang tentunya isi dalam teh tersebut ciprat sana-sini karena berontakan dari Sherly.
Srettt!
Tangan Christ yang menangkup Sherly tadi, turun ke leher Sherly secepat kilat. Mencekiknya tanpa ampun, sampai Sherly pun ambruk jatuh ke belakang. Christ pun langsung mencekoki Sherly dengan teh yang sudah ia campur dengan obat tidur tersebut.
Memang hanya sedikit, bahkan setetes berhasil masuk ke mulut Sherly. Tak lama kemudian kantuk luar biasa menyerang, karena memang Christ menggunakan dosis yang tinggi. Berontakan Sherly pun kian surut. Dan Sherly jatuh ke alam mimpi.
Christ dengan wajah tanpa ekspresi pun segera bangun, lalu ia berjalan ke area dapur. Sambil bersiul dan bersenandung. "Cap cip cup, kembang kuncup, satu dua tiga mana yang cakep?!" Christ pun tersenyum lebar, lalu ia ambil pisau berukuran kecil yang biasanya untuk memotong buah. Ia pun kembali berjalan ke tempatnya tadi.
__ADS_1
Christ berjongkok di samping Sherly yang tak sadarkan diri. Lalu ia ambil lengan kanan Sherly, dan tanpa belas kasih, Christ pun mengiris urat nadi Sherly.
Sherly terkesiap sesaat karena perih yang mulai menghujami area pergelangan tangan kanannya.
Darah pun mulai mengalir dengan derasnya.
Christ pun kembali menatap ponsel Sherly. Lalu mengoperasikannya, saat gambar pola muncul, Christ tersenyum sesaat, lalu ia dekatkan ponsel itu pada Sherly.
Mencoba kesepuluh jari Sherly agar menemukan sidik jarinya yang terdaftar.
Ponsel pun berhasil terbuka.
"Maafin aku ya, Vin. Aku udah nggak kuat hidup lagi. Aku sayang kamu."
**Send!
Senyuman Christ kembali merekah, Christ juga tahu, kalau Vino pasti takkan memercayai isi pesan tersebut. Dan pasti langsung tahu siapa pembunuh kekasihnya ini.
Iya, Christ sengaja meninggalkan jejak. Karena Christ ingin menghukum Vino. Sebab Vino yang kini bersengkongkol dengan Sandi dan Chery. Dan peringatan keras untuk Sandi, bahwa Christ akan datang padanya cepat atau lambat.
Ketika Christ keluar dari pintu, ia pun berjalan ke arah mobilnya yang terpakir di halaman sambil melepas sarung tangan lateksnya.
Christ pun masuk ke dalam mobil. Ia sengaja tak meninggalkan area, karena ia ingin melihat betapa lucunya wajah panik Vino yang akan ia saksikan sebentar lagi.
Sungguh!
Vino ingin menangis saat ini juga setelah ia baca pesan yang Sherly kirimkan**.
'Bang Christ brengsek!' **Vino hanya bisa membatin.
Vino menyesali keputusannya yang menaiki Busway. Seharusnya, ia memilih untuk mencari taksi. Memang jarak rumahnya sebentar lagi akan sampai, tetapi jika boleh Vino turun, Vino akan turun lalu berlari sekencang-kencangnya untuk bisa sampai rumah.
Tetapi sudah terlanjur, satu pemberhentian lagi Vino sudah sampai.
Ting!
Pintu Busway pun terbuka. Vino cepat-cepat bergerak ke arah pintu, tetapi karena banyaknya penumpang membuat Vino kembali terdesak masuk ke dalam.
__ADS_1
Vino yang sudah sangat tersedak, mau tidak mau, sadar tidak sadar, tega tidak tega, mendorong beberapa penumpang untuk membelah jalanan. Ia pun berhasil menginjakkan kakinya keluar dari bus. Tak peduli, banyaknya ibu-ibu dan penumpang lain tengah mencemooh dirinya.
Vino pun bergegas. Ia seperti dikejar oleh setan. Larinya gila sekali. Bahkan ketika ia menyebrang, hampir saja mobil menghantam tubuhnya. Ia diklaksoni, lalu diumpat. Tapi Vino tak peduli.
Ia pun masih berlari kesetanan.
Jantungnya semakin cepat berdetak saat sudah sampai di pelataran perumahan dimana ia tinggal.
Vino bahkan sudah meneteskan air mata, tapi tanpa isakan.
Tangannya tiba-tiba tremor saat memegang handle pintu rumahnya. Dan benar saja, tidak dikunci. Lalu Vino pun masuk.
Baru beberapa langkah, jantung Vino seperti berhenti berdetak. Saking terkejut dan sakitnya melihat Sherly yang tergeletak dengan bermandikan darah.
"SHERLY!" Teriak Vino, lalu cepat-cepat ia menghambur.
Christ yang mendengar jeritan Vino dari dalam, ia tertawa terbahak-bahak.
"Anjirrr, suaranya lucu banget lo, Vin." Saking lucunya sampai Christ memukuli stir mobilnya, dan setitik air matanya pun jatuh.
"Yaudah, gue pamit pulang dulu yaaa ...." Christ pun meninggalkan area tersebut.
Kembali pada Vino. Tak seperti di sinetron-sinetron, yang mana pastinya Vino akan menangis. Meraung-raung bagai orang gila yang tak ada gunanya. Vino yang cekatan. Ia mengambil kotak P3K, lalu membungkus luka Sherly yang amat lebar itu. Setidaknya, Vino harus menghentikan pendarahannya.
Setelah selesai, Vino mengecek pernapasan Sherly. Dan Vino tak menemukan sak embusan pun. Vino mengecek suhu tubuh Sherly, dan masih hangat. Vino pun mulai melakukan CPR dan sesekali memberinya napas buatan.
Sherly pun merespon. Dada Sherly pun naik, mulutnya sedikit terbuka untuk mencari pasokan oksigen.
Vino pun sedikit bernapas lega. Lalu ia pun menggendong tubuh Sherly, kemudian melesat keluar.
Mencari taksi mana pun yang rela berhenti untuknya. Karena memanggil ambulan pun percuma pikir Vino.
"TAKSI! TAKSI! TAKSI!"
Sebuah mobil taksi pun berhenti, lalu Vino membuka pintu mobil, dan masuk dengan hati-hati.
"Ke rumah sakit, pak**."
__ADS_1