New Life Begins

New Life Begins
11. Roland sembuh?


__ADS_3

Roland masih dalam sesi perawatannya. Terbaring di sofa kesukaannya yang sudah menemaninya bertahun-tahun selama sesi hipnotis yang ia jalani tahunan ini.


Meskipun dalam sesi ini, semenjak ia meninggalkan kediaman Arsen, Roland tak bisa lagi memasuki alam hipnotis yang sudah terjadwal semestinya.


Iya, sudah hampir sebulanan ini, Roland tak merasakan kehadiran sosoknya yang lain. Sudah hampir sebulanan ini pula, Psikiater yang bertanggung jawab atas dirinya tak bisa memanipulasi alamnya lagi.


Psikiater ini tentunya merasa lega.


Dengan senyumannya yang tak pudar sejak awal sesi ini berlangsung, tanpa ragu lagi, lelaki paruh baya itu pun berkata. "Selamat, Roland, akhirnya kamu bisa dinyatakan sembuh juga."


Roland pun terpaksa membuka mata.


Merah dan tak lama akhirnya berair.


Roland ternyata menangis. Entah kenapa rasanya, dia hanya merasa cukup lega.


Roland merasa, sosoknya yang akhirnya hilang itu, seakan merasa sedikit sepi, sosok yang menemaninya selama ini. Membuat hidupnya seperti memiliki teman, namun juga menyengsarakan hidupnya.


Roland merasa, sosoknya yang feminim itu, selalu berusaha melindungi Arsen. Titik fokusnya selalu berada pada kakaknya itu.


Sejujurnya, ada sedikit perasaan takut.


Sosok feminim yang selalu terkagum-kagum tiba-tiba hilang, dan dia juga merasakan sosok Arsen yang ia temui sebulanan yang lalu terasa asing.


Roland takut.


Takut, kalau-kalau saja, Arsen yang berada di kediaman kakak tercintanya itu bukanlah Arsen yang dulu.


"Udah jangan nangis. Saya tau kamu udah lega sekali. Saya juga merasa bangga sama kamu, Roland. Kamu nggak nyerah buat sembuh." Ucap Psikiater itu sambil memegangi kedua bahu Roland bangga.


Roland justru menanggapinya dengan tangis, ia melepaskan kedua tangan rapuh itu. Tangisnya kian mengencang, membuat si Psikiater kalang kabut untuk menenangkannya.


"Kenapa kamu masih nangis?" Tanya si Psikiater.


Roland menghapus air matanya. Ia pikir, menangis terlalu lama dapat membuat pikirannya semakin kacau. Jadi, sebisa mungkin dia menghentikan tangis itu, "Dokter bilang, kalo titik saya ada di kakak saya. Bang Arsen, kan?!"


Si Psikiater mengangguk.


"Terus, Dokter juga bilang, kalo jiwa saya yang lain cuman bisa ilang, kalo kakak saya juga ilang, kan?!"


Si Psikiater terdiam. Mulai menelisir maksud ucapan pasiennya ini.


Roland menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Hatinya ngilu untuk bersuara. Takut ucapannya ini akan diiyakan oleh si Psikiater. "Dalam artian, kakak saya harus mati, kan, Dok? Terus, yang saya temuin kemarin itu siapa, Dok?!"


Si Psikiater menghela napas sejenak, lalu ia hapus jejak air mata Roland.


Roland adalah pasien jangka panjangnya. Jadi, si Psikiater ini sudah menganggap Roland seperti anaknya sendiri. "Kapan-kapan, saya mau coba ketemu ama kakak kamu. Saya mau tau, maksud sebenarnya ucapan kamu. Kakak kamu udah meninggal jasadnya, apa karena ada karakter baru dalam tubuh kakak kamu, Land." Katanya, cukup membuat tenang Roland saat ini.


Roland menghapus air matanya yang lagi-lagi keluar.

__ADS_1


Bagi Roland, Arsen adalah sosok yang sangat istimewa.


Istimewa karena, Arsen selalu saja mengalah untuknya.


Hal apa pun itu.


Roland bukanlah sosok adik yang baik dan sempurna untuk Arsen. Namun demikian ..., Arsen adalah sosok kakak yang baik dan sempurna untuk Roland.


Memang semenjak kedatangan Arsen, Roland sangat bahagia. Namun kebahagiaan itu tak berselang lama.


Insiden kebakaran menjadi titik awal kekacauan dalam hidupnya.


Rasa bahagia kehadiran Arsen justru malah mendatangkan malapetaka bagi Roland pasca kebakaran.


Setidaknya. Roland hanya ingat awalannya dia bisa terjerat dalam dua jiwa satu tubuh itu. Di usianya yang masih sangat muda. Usia yang dimana dia baru saja menjejalkan bahagianya menjadi anak kelas dua SD.


Namun, sampai saat ini pun, baik Roland maupun si Psikiater, masih belum mengetahui, siapa dibalik sosok feminim yang kemarin masih bersemayam di tubuh Roland.


Dan apa pula hubungannya dengan Arsen?


"Makasih, Dokter."


Di lain tempat, Arsen dan Chery yang sudah merampungkan pekerjaan hari ini tak berniat untuk berkunjung kemana-mana.


Tidak ada shoping seperti masa gadis seorang Archery.


Bagi Archery, semua itu sudah tidak menarik lagi.


Archery sekarang sudah cukup sibuk menjaga Arsen-nya yang semakin ke sini, semakin membuatnya salah tingkah. Tapi juga membuatnya nyaman.


Seperti sekarang ini, mereka tengah berada di parkiran bawah tanah.


"Lo, bisa nyetir kan, ya?"


Arsen tersenyum kaku, tak lupa juga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


Chery paham dengan wajah-wajah tolol seperti itu.


"Masa gue lagi sih yang nyetir!"


Kedua tangan Arsen meremat celananya polos. "Ya, mau gimana lagi Mba. Wong saya ajah, nggak pernah kepikiran punya mobil. Motor ajah saya nggak punya, Mba. Paling bisa ngejalanin motor juga itu udah untung-untungan." Jujur Arsen membuat Chery sedikit menyesal dengan ucapannya tadi.


"Yaudah deh, lo ke sini." Ucap Chery yang diangguki oleh Arsen.


Arsen pun berjalan mengitari depan mobil untuk bertukar tempat duduk. Namun, tiba-tiba mobil yang dikemudikan oleh orang biadab, tanpa babibu, malah mengarah pada Arsen yang posisinya sudah sangat minggir tersebut.


Tap!


Chery spontan menarik Arsen. Memeluknya kuat-kuat, takut Arsen terserempet mobil kurang ajar itu!

__ADS_1


Si mobil berhenti setelah gagal usahanya ingin menyerempet Arsen. Si Pengemudi pun, memundurkan mobilnya sehingga ia bisa melihat Chery yang masih setia memeluk Arsen palsu tersebut.


Saat tepat si Pengemudi sudah sejajar dengan Chery dan Arsen, si Pengemudi memamerkan deretan gigi putihnya yang juga rapi. "Sorry ..., sengaja. Hahaha ...!" Katanya tanpa dosa.


"Denis Anjing!" Pekik Chery, yang masih setia memeluk Arsen.


Sementara Arsen, ia memilih untuk diam. Dia bingung harus menanggapi perbuatan kelewatan Denis.


Iya, Arsen hanya takut akan salah ucap.


Wajah sok suci yang minta ditonjok ini pun berubah raut di detik berikutnya. "Sampe kapan mau peluk-pelukan kek gitu? Gue tabrak juga lo bedua!" Kesal Denis yang muak melihat mereka yang sok romantis.


Baik Arsen dan Chery pun langsung salah tingkah.


Mereka berdehem dan membuang wajah kompak.


Tak lupa curi pandang, yang akhirnya Chery tertangkap oleh netra Arsen.


Denis spechless.


Mereka pikir, Denis bukan benda hidup?


"Ry!" Bentak Denis membuyarkan rasa dag dig dug antara Arsen dan Chery.


Chery menatap nyalang Denis. "Apaan sih?! Pergi sana!" Usirnya, namun Denis malah tertawa getir.


Chery-nya memang telah pergi.


Dia bisa apa?!


Tapi rencananya juga tidak boleh gagal!


Harta Arsen sudah Denis tetapkan menjadi miliknya. Dan itu tidak ada perubahan.


"Arsen udah mati, kan?!"


Atensi Arsen pun beralih pada Denis. Sebisa mungkin ia coba untuk tetap tenang.


Chery siap melayangkan Kata-kata mutiaranya, namun tertahan, saat Denis membunyikan nama yang sudah tabu ia dengar.


"Sandi Alvero, itu lo, kan, Njing!" Jujuknya pada Arsen, yang berhasil Denis tangkap samar raut khawatirnya.


'Bangsat! Tau dari mana sih?! Anjing banget!' Chery meruntuk.


**Arsen yang stay cool pun, memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celananya. "Jangan cuma bisa ngomong. Kalo iya gue bukan, Arsen, coba buktiin ajah." Lalu Arsen pun menarik salah satu pergelangan Chery, dan mereka pun meninggalkan area parkir dengan berjalan kaki.


Denis masih menatap mereka. Di matanya ada tatapan iri, kesal, kecewa, senang, dan kebencian yang mendalam.


"Dulu Arsen, sekarang lo! Liat ajah nanti, tau-tau lo udah nyusul si Arsen! Brengsek**!"

__ADS_1


__ADS_2