New Life Begins

New Life Begins
27. Taruhan


__ADS_3

Chery berlari bak kesetanan setelah ia mendapat kabar dari Vino, bahwasannya Christ membawa lari setelah hampir membuat nyawa Denis melayang.


Chery menyalakan mesin mobilnya, sialnya mobilnya tak bisa ia starter. Biasanya tidak seperti ini. Apalagi hatinya sudah ketar-ketir, rasanya ingin menangis saja, bahkan saat ini tangannya masih saja tremor.


"Aku nggak tau Kak Sandi dibawa kemana? Tapi kita lagi cek CCTV. Syukurnya Bang Christ ketangkep CCTV, dan sekarang polisi lagi kejar dia,"


Iya, Chery takut dan semakin frustasi saat si sialan Clara malah mengabarinya kalau Sandi ditusuk oleh kakaknya. Darahnya mengalir kemana-mana. Dan Clara mengatakan ini, karena Chery harus tahu keadaan Sandi sebenarnya. Roland dan Vino mana mungkin akan jujur bukan? Mereka tidak ingin membuat Chery khawatir. Dan lagi, Clara juga sempat berterima kasih, dan menyuruh Chery untuk bersabar kalau-kalau saja hal buruk terjadi pada Sandi nantinya.


"BRENGSEK! BRENGSEK! BRENGSEKKK!"


Tin! Tin! Tinnn!


Chery menggedor-gedorkan kepalanya pada stir mobil. Benar-benar keras sampai dahinya kini terlihat begitu kemerahan. Bahkan bunyi klakson tak sengaja berkumandang akibat Chery yang menghantamkan dahinya barusan.


Dan detik ini juga, Chery pun menangis. Begitu histeris sampai-sampai membuat Anjing tetangga menggonggong di tengah hari ini.


"Sandi! Lo harus balik! Lo harus balik, Ndi! Gue butuh lo! Anak kita butuh lo, Ndi!"


"Kamu harus baik-baik ajah, Ndi."


Adapun Clara mengatakan hal itu, bukan semata-mata ingin membuat Chery takut atau apa pun. Clara hanya ingin Chery siap seperti dirinya.


Iya. Ia lihat dengan mata kepalanya sendiri kepergian Denis.


Denyut jantung Denis awalnya kembali, namun selang beberapa detik tubuh Denis mengejang kembali. Matanya mendelik lebar, dan busa keabu-abuan pun keluar dari mulutnya yang tengah dipasangi masker oksigen. Hanya berselang beberapa detik, nyawa Denis pun melayang.


Dokter sudah mencoba semampunya untuk menyelamatkan Denis. Namun, denyut jantung Denis tak kembali, racun yang bersemayam di tubuh Denis langsung menyerang jantung dan otaknya.


Denis pun dinyatakan telah tiada.


Kematian Denis pun diambil untuk memperkuat bukti, agar Christ mendapatkan hukuman yang setimpal. Agar para atasan di sana, tak terpengaruh lagi untuk membantu Christ. Karena kasus Christ yang sekarang, bukanlah kasus yang kecil lagi.


Besar. Benar-benar besar, karena di balik kecelakaan yang menimpa Arsen lampau telah terkuak. Dari para sopir truk sampai para perawat dan polisi yang menjadi bawahannya sudah mengaku, karena ingin mendapatkan keringanan hukuman.

__ADS_1


Vino mendekati Clara, lalu memberikan sapu tangannya agar Clara mau menghapus air matanya. Clara menerimanya, dan saking tidak kuat dirinya, ia pun memeluk Vino kuat-kuat.


Vino hanya menghela napas pasrah, lalu ia pun mengelusi punggung Clara supaya tenang. Karena bagaimana pun juga, Vino sudah pernah merasakan bagaimana rasanya ditinggal orang yang paling kita sayang.


Dan itu sangat menyakitkan.


"Gue tau Denis nggak pantes gue tangisin. Soalnya dia itu bajingan banget. Tapi gue juga udah terlanjur sayang ama dia," jujur Clara, yang hanya ditanggapi anggukkan kecil dari Vino.


Vina yang baru saja datang bersama Roland, mengatupkan bibirnya rapat-rapat melihat Denis yang sudah ditutupi kain putih, dan Vino yang kini tengah memeluk Clara.


Eunggg, entah kenapa? Rasa-rasanya Vina risih.


Roland menyenggol bahu Vina pelan, dan Vina pun langsung menatapnya. Cuek sekali, kemudian Roland pun menyengir sok tahu akan keadaan hati Vina yang kini memasuki mode badmood.


"Cemburu lo?" Ejek Roland yang ingin sekali Vina tonjok-tonjok itu ekspresinya.


Kenapa menyebalkan sekali? Tetapi kenapa juga ucapan Roland benar?


Memisahkan kedua insan itu setelahnya ia tersenyum sambil berkata. "Clara bisa minta waktunya bentar nggak? Gue mau wawancarain lo buat berita yang mau gue siarin bisa?"


Clara pun mengangguk. Sementara Vino yang baru saja ingin memberi sapa berupa senyum pada Vina pun diabaikan. Vina menatapnya jengah, dan ia pun mencebik lalu dia pun berlalu bersama Clara untuk mencari tempat.


Vino malah menjadi bingung sendiri. Iya, dia bingung sekaligus malu. Karena baru kali ini diabaikan oleh perempuan selain Sherly kalau lagi marah.


Huh? Marah?


Apa Vina marah padanya?


Entahlah Vino bingung, tapi daripada ia kebingungan sendiri, lebih baik ia kembali fokus pada kasus yang sedang ia jalani.


Iya. Nama baik Christ sudah tercoreng sana-sini. Kasus pembunuhannya pada Arsen, percobaan pembunuhan pada Sandi, dan lagi sekarang kasus pembunuhan pada Denis. Juga kasus pada Sandi saat ini, entah apa yang akan terjadi pada kakaknya itu. Yang jelas, Christ tidak bisa kabur lagi.


Dan bagi Christ semua itu tidak berlaku. Tidak ada pengaruhnya lagi, karena satu tujuannya saat ini.

__ADS_1


Mati bersama Sandi.


Sandi tergeletak di kursi belakang. Ia masih menggenggam erat perutnya. Napasnya semakin tercekat, kepalanya pusing bukan kepalang. Rasanya sudah tidak karuan lagi, tetapi ia juga harus menjaga kesadarannya. Ia harus kembali pada Chery-nya. Sandi terus menatapi pintu mobil yang berada di ujung kakinya. Tak terkunci, bahkan Sandi yakin, kalau ia bisa kabur lewat sana. Masa bodo dia akan terseret jalanan aspal nantinya, karena ia juga tahu, polisi sudah ada dimana-mana mengejar mobil Christ yang masih tak diketahui oleh polisi ini.


Sandi pun berusaha merubah posisinya menjadi terduduk bersamaan ringisannya yang keluar. Ia pun kembali mencengkeram perutnya. Darahnya belum saja berhenti mengalir, membuat Christ yang melihatnya lewat kaca yang ada di atasnya terkikik geli. "Sakit ya? Perih ya? Lagian lo sih! Ngeselin banget. Segala mau bongkar segalanya. Jadinya, rencana gue dicepetin kan! Padahal gue mau kasih lo racun yang sama kek si Arsen dulu. Gue mau liat lo mati pelan-pelan, terus abis gue bakalan nyusul lo. Lo sih ah! Gue jadi dikejar polisi kan!"


Sandi tak membalas perkataan Christ, dirinya sudah pusing mengatasi tubuhnya yang bisa hilang kesadaran kapan saja. Ia pun kembali fokus pada pikirannya untuk meloloskan diri.


"Ah! Chery!" Pekik Christ senang.


Sandi pun hanya bisa tercekat.


Iya, Christ melihat mobil Chery yang melaju di arah berlawanan. Dan Christ bermaksud ingin menyapa Chery dengan ...,


Tin! Tin! Tin!


Christ mengklaksoni Chery.


Chery yang sadar kalau mobil yang baru saja melewatinya itu Kakaknya---karena Christ sengaja menurunkan kaca mobil yang ia tunggangi tersebut. Cepat-cepat Chery mencari arah untuk berbalik. Lalu mengejar mobil Christ yang ngebutnya seperti sedang berada di sirkuit balapan.


Chery juga tak ngalah ngebutnya.


Namun naasnya. Ketika baru saja ia hendak kembali menambah kecepatan mobilnya, ia melihat betapa gila aksi kakaknya yang menceburkan mobilnya sendiri. Sengaja menabraki jembatan, lalu terjun bebas di sana.


Chery spontan memberhentikan mobilnya. Dia bungkam, hatinya seperti dihantam batu yang amat besar. Sakitnya sampai membuatnya ia sesak napas.


Di dalam sana, juga ada ayah dari bayi yang dia kandung.


Tes!


Air matanya lolos begitu saja. Chery pun turun dari mobilnya, ia berlari untuk mendekati jembatan yang kini antah berantah tersebut. Namun dua polisi mencekalnya, karena mereka takut Chery akan ikut terjun ke bawah. Karena kedua polisi yang mencekalnya kenal paras adik dari atasannya yang kini tengah buron tersebut.


"Sandi! Sandi! Sandiii!"

__ADS_1


__ADS_2