
Angin berembus sedang, dedaunan maple gugur dari pohonnnya, ranting-ranting yang kurus pun saling berderit ditarik angin.
Sandi terduduk di padang rumput. Di depannya terdapat sungai yang sesekali berkecipukan airnya ketika ikan-ikan di sana naik ke permukaan. Rambut pendeknya juga sesekali ikut diterbangkan oleh angin lalu kembali seperti semula.
Entah sudah berapa lama dia di sini. Sandi tak pernah menghitungnya. Dia hanya akan bangkit, lalu mencari jalan pulang, tapi sungguh dia sudah lelah. Lagi-lagi dia kembali ke sini lagi. Padahal hari-hari kemarin, dia sudah berjalan jauh dari sini. Tapi hari esoknya, dia akan kembali lagi ke sini.
Memang indah pemandangan dan suasana di alam sini. Awalnya Sandi pun betah hidup di sini. Di alam bawah sadarnya. Namun ia merindukan seseorang bernama Chery, yang tiba-tiba saja kemarin ia ingat.
Sandi tak mengenal siapa pun di sini, karena tak ada seorang pun selain dua anak kecil yang selalu menemaninya sejak awal dia ada di sini. Dia bahkan tak mengenal dirinya sendiri.
Dua anak kecil ini pun, terkadang hilang kalau sudah menjelang malam, dan mereka akan datang kembali di saat siang datang.
Dia kesepian. Dia ingin pergi dari tempat ini secepatnya, namun seolah-olah ada yang membelenggunya. Jadi, Sandi hanya bisa menunggu seseorang datang untuk menjemputnya. Hanya mengandalkan kehadiran dua anak kecil tersebut yang datang dan pergi seenaknya sungguh semakin membuat Sandi takut.
Dia takut tak akan bisa kemana-mana, dan tiba-tiba saja, sebuah nama Archery Addison terlintas.
Namun Sandi masih bingung, siapakah Archery Addison ini?
"Ayah, apa Ayah nggak mau pulang? Apa Ayah nggak kasian ama Ibu? Ibu nangisin Ayah terus loh," tanya salah satu anak tersebut.
Kedua mata Sandi membesar seperkian detik. Dia terkejut, selama ia di sini bersama kedua anak ini, baru kali ini dia mendengar suaranya.
"Ayah?" Bingung Sandi sambil menunjuk dirinya sendiri.
Anak kecil satunya pun turut mengangguk, "hari ini kita mau pergi dari sini Ayah, apa Ayah nggak mau ikut kita?"
Sandi makin bingung sendiri. Pasalnya memang mereka tahu jalan pulang? Bahkan Sandi yang satu-satunya orang dewasa saja tak bisa menemukan jalan pulang, apalagi mereka bukan?
"Kita di sini temenin Ayah sampe Ayah mau pulang, tapi Ayah kenapa sih nggak mau pulang? Ayah nggak kangen ama Ibu?"
"Waktu kita udah abis di sini Ayah, jadi kita harus pergi duluan. Jadi, Ayah mau ikut kita pulang apa masih mau di sini?"
"Ayah, ayo ikut kita ajah, Ayah."
Sandi memandang keduanya nanar, dua meremat pelipis kanannya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Lagi-lagi nama Archery Addison melintas di otaknya. Dia pun menghela napas sejenak, lalu kembali menatap kedua anak kecil yang mengatakan kalau mereka adalah anaknya.
"Kalau kalian anak saya, terus Ibu kalian siapa?" Tanya Sandi yang mendapat gelengan kompak dari kedua anak tersebut. "Loh, kok kalian malah geleng sih?"
Kedua anak kecil tersebut menghedikkan bahunya dengan begitu kompak lagi, "cuman Ayah yang tau nama Ibu, kan," ucap mereka kompak.
Sandi semakin kencang meremat kepalanya yang bertambah pusing. "A-a-archery Addison ...," bunyinya membuat kedua anak kecil tersebut tersenyum begitu sumringah.
"Ibu ...." Teriak kedua anak kecil tersebut kegirangan saat melihat sosok wanita yang kini berjalan mendekati mereka.
Kedua anak kecil itu pun bangkit, lalu menghambur ke pelukan ibunya.
Sandi ikut bangkit, lalu ia membalikkan tubuhnya untuk melihat perempuan yang dipanggil Ibu oleh kedua anak kecil tersebut. Kalau dia dipanggil Ibu, berarti dia istri Sandi bukan?
Tes!
Tiba-tiba air mata Sandi lolos saat kedua netranya bertemu dengan netra si wanita yang sama berpakaian putih sepertinya.
"Ndi, kamu mau pulang bareng aku, kan. Ayo kita besarin anak-anak kita, Ndi. Kamu mau pulang. kan?" Tanya si wanita itu dengan nada yang begitu tulus nan khawatir.
Wanita ini hanya takut, kalau lelaki di hadapannya ini akan memilih untuk menetap di sini.
"Archery Addison?" Bukannya menjawab Sandi malah bertanya untuk meyakinkan dirinya.
Si wanita menganggukan kepalanya antusias, dan detik ini juga wanita itu menangis saking bahagianya lelaki di hadapannya memanggil namanya.
Sandi berjalan mendekat pada mereka. Setelah sampai ia pun ikut dipeluk oleh kedua anak kecil tersebut, dan ia hapus jejak air mata di kedua pipi mulus istrinya itu.
"Kamu mau pulang kan bareng kita?" Tanyanya lagi memastikan. "Aku di sini selalu nungguin kamu, tentu aku mau pulang, Ry."
__ADS_1
Fiuuuhhhh!
Angin tiba-tiba berembus begitu kencang, baik Chery maupun kedua anaknya mengeratkan pelukannya terhadap Sandi. Mereka sama menutup kedua matanya masing-masing. Seperkian detik angin kencang itu berlangsung, saat telah usai, Sandi membuka kedua matanya. Dan yang ia dapatkan, bahwa dirinya sendirian lagi.
"Ry, kamu dimana?"
"Anak-anak kalian juga dimana?"
"Ry ...,"
"Chery,"
"Archery ...."
Deg!
Sandi membuka kedua matanya paksa setelah dadanya dipacu untuk yang ketiga kalinya. Dadanya kembang-kempis dengan napasnya yang memburu. Grafik monitor pun turut kembali berjalan.
Cepat-cepat salah satu perawat memasangkan kembali masker oksigennya. Namun Sandi memberontak, ia justru memaksa untuk bangun. "C-chery ...," lirihnya masih berusaha untuk bangkit. Namun Dokter segera menyuntikkan obat penenang untuknya, dan tak lama kemudian Sandi pun kembali terlelap.
Vino dan Roland yang setia di dalam kamar rawat Sandi pun akhirnya bisa bernapas lega kembali. Bahkan mereka saling berpelukan saking harunya melihat Sandi yang terbangun.
Dokter yang telah selesai menangani Sandi, pun langsung mendatangi kedua lelaki tampan itu. "Memang seperti keajaiban. Tuan Sandi bahkan sudah melewati masa kritisnya. Dia sekarang ini baik-baik saja, bahkan otot-ototnya yang seperti mangkir karena sembilan bulan koma mulai bekerja kembali. Tapi dia masih perlu melakukan terapi, jadi kalian bisa tenang. Saat ini, Tuan Sandi hanya tertidur."
"Terima kasih Dokter." Ucap keduanya berbarengan.
Dan Dokter memang tidak membohongi keduanya. Beberapa jam berlalu, Sandi pun kembali terbangun. Vino yang posisinya tengah duduk di samping ranjang Sandi pun spontan menghadang Sandi yang berniat melepas alat bantu pernapasannya. "Kak, jangan ihhh. Kakak tuh masih lemah."
Sandi tak peduli, ia tetap melepasnya lalu mengambil napasnya dalam-dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan. Vino hanya bisa menghela napas pasrah. Lalu ia bantu Sandi merubah posisinya menjadi bersenderan, dengan Vino juga yang mengubah sedikit ranjang Sandi yang otomatis itu.
"C-chery?" Satu kata dari Sandi saat ia pertama kali bangun ini.
Roland yang baru saja datang langsung mencebik, "duhhh dasar bucin!"
Sandi tak merespon ucapan Roland, dia serius menatap Vino yang tiba-tiba saja merubah raut wajahnya menjadi sedih.
Roland juga ikut memasang wajah sedihnya, "Chery ngalamin pendarahan yang hebat pas ngelahirin anak lo, Bang. Dia--"
Srettt!
Tap!
Brukkk!
Sandi langsung menyibak selimutnya, ia memaksa untuk turun dari ranjang. Namun kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah, membuatnya malah oleng dan akhirnya terjatuh dari ranjangnya. Vino dan Roland cekatan membantu Sandi untuk berdiri.
"Sabar sih Bang. Lo inj baru bangun dari koma. Yang bener ajah elahhh," sungut Roland cukup gemas.
"Nanti kita liat Mba Chery kalo, Kak Sandi udah stabil, ya." Bujuk Vino dengan nada yang begitu lembut, namun Sandi menggelengkan kepalanya keras.
Dan Sandi malah menangis detik ini juga.
"Aku mau liat Chery. Aku mau ketemu ama Chery."
Vino dan Roland pun hanya pasrah.
Keduanya mengantarkan Sandi ke ruang rawat Chery yang ternyata bersebelahan dengan kamarnya menggunakan kursi roda.
Tangisan Sandi semakin menjadi. Dan baru kali pertama ini Vino melihatnya, dan juga bagi Roland yang baru kali ini menyaksikan kalau laki-laki juga bisa menangis seperti itu. Sementara Vina dan Clara hanya spechless dan turut sedih melihat Sandi yang akhirnya terbangun malah dapat kenyataan seperti ini.
Vino menggeser kursi yang berada di dekat ranjang Chery, lalu mengunci kursi roda yang dinaiki oleh Sandi. Dan mereka berempat pun memilih untuk keluar. Memberi ruang untuk Chery dan Sandi.
Kedua tangan Sandi yang masih gemetaran akibat tidur panjangnya pun meraih tangan Chery yang tak tercancapi infus. Sandi menciumnya begitu lama. Masih dengan tangisnya yang sepertinya takkan mereda.
__ADS_1
"Kamu ajak aku pulang, tapi kamunya sendiri malah pergi. Kamu curang, Ry."
Tak ada respon dari Chery. Yang terdengar hanyalah suara monitor yang berjalan cukup tenang.
"Bangun, Ry. Maafin aku. Jadi suami aku nggak ada tanggung jawabnya ke kamu,"
Biarkanlah Sandi berkeluh kesah hari ini.
"Aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi. Jadi, bangun ya, Ry. Anak kita kembar loh, aku mana sanggup ngurusin mereka tanpa kamu."
Sandi pun mencium kening Chery. Dan Chery tak berkutik sedikitpun.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Sandi sampai terbatuk saking lamanya menangis. Dadanya mulai sesak dan kepalanya kembali pusing.
"Lebih baik Tuhan ambil aku ajah. Harusnya aku nggak usah bangun kalo kamu jadinya kayak gini. Aku lebih baik mat--"
Plak!
Deg!
Sandi terkejut dan spechless secara bersamaan.
"Kamu kalo ngomong nggak bisa dijaga ya! Enak banget kamu bilang mau mati. Mau mati! Tuh anak kamu tuh kembar! Siapa yang jaga kalo kamu mati! Aku juga nggak siap nikah lagi ama orang lain!"
Iya, tadi spontan Chery menampar bibir Sandi yang asal ceplos itu.
"Kamu bangun?" Sandi masih ambigu. Otaknya tidak bisa merespon apa pun.
"Kamu tau nggak, gimana susahnya aku ngandung. Pas lagi periksa kandungan, yang lain dianter suami. Emangnya aku, apa-apa sendiri. Kamu malah enak tidur!"
"Kamu bangun?"
"Aku nangisin kamu terus. Aku juga nggak pernah absen ke gereja. Doa supaya kamu cepet bangun, tapi kamu kok malah ngomong gitu sih?!"
"Kamu bangun?"
"Gimana rasanya ngeliat aku yang tidur tadi? Nggak jawab omongan kamu. Sakit nggak? Sedih nggak? Itu yang aku rasain pas kamu nggak bangun-bangun!"
"Kamu bangun?"
Oke. Oke. Oke ...
Chery di sini memang berakting. Dia memang mengalami pendarahan, tapi bisa teratasi. Dan dia ingin mengejutkan Sandi karena bagaimana pun ia kesal dengan Sandi yang sembilan bulan ini membuatnya frustasi setengah mati.
Chery menatap Sandi penuh arti. "Iya aku bangun. Aku sengaja mau jailin kamu, jadi aku minta Vino ama Roland supaya bilangin kamu, kalo aku lagi kritis hehehe. Tapi Dokter bilang keadaan kamu juga belum stabil, jadi jailinnya nggak boleh berlebihan."
Pluk!
Chery pun memeluk Sandi begitu erat, begitu pula Sandi yang membalas pelukannya semampunya.
"Jangan tinggalin aku lagi, ya. Aku nggak bisa idup tanpa kamu, Ndi. Bilang selamat tinggal buat semuanya. Semua kenangan buruk, semua masa lalu nggak enak. Ayo mulai baru keidupan kita, Ndi. Sama anak-anak kita. Kita mulai dari awal lagi. Kamu yang bernama Sandi Alvero adalah suami aku. Archery Addison."
Dan tak lama kemudian, baik keluarga Addison maupun Cloude datang dengan membawa si Kembar.
Tak ada lagi tangis, melainkan tawa dan kabar baik yang menyertai.
Pernikahan antara Vino dan Vina, serta Roland dan Clara akan diadakan secara bersamaan bulan depan.
Dan bulan depan pula, eksekusi Christ akan dilaksanakan tanpa adanya gangguan dari pihak manapun.
Bagi Chery, kehidupannya memang rumit, namun Tuhan telah memberikannya kesempatan kedua untuk bahagia. Dia berjanji, bahwasannya ia takkan lagi mengingkari hatinya jika memang mau berkata iya, maka akan ia katakan ya. Begitu juga sebaliknya. Ia tidak mau menyesal di kemudian hari.
__ADS_1
Bagi Sandi, kehidupannya juga tak kalah rumit. Namun ia yakin, bahwasannya Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu memperbanyak rasa ikhlas dan sabar.
FIN