
Plak!
"Maafin aku, Nis. Beneran, aku nggak tau kalo Arsen bakalan keracunan. Aku ngelakuin apa yang kamu suruh. Serius, Nis!"
Plak!
"Kamu boleh pukul aku sepuas kamu, Nis. Tapi jangan tinggalin aku ...,"
Plak!
"Aku cuman suntikin Arsen pake obat yang kamu kasih. Aku nggak boong, Nis."
Plak!
Plak!
Plak!
"Bangsat! Aaarrrggghhh ...!"
Prankkk!
Finalnya Denis membanting vas bunga yang ada di ruang tamu. Membuatnya berserakan, bahkan sedikit serpihan vas bunga tersebut melukai kaki mulus Clara. Posisi Clara tergeletak di lantai, tubuhnya memar sana-sini ulah Denis yang datang-datang mengamuki dirinya.
Denis mendekati Clara, lalu ia duduki perut Clara. Denis mencekiknya tanpa ampun, sampai Clara terbatuk-batuk sembari berusaha melepas cekikan Denis yang minta ampun.
"Jujur ajah lo, sebelum-sebelumnya, Arsen gue cekokin obat, dia nggak papah. Tapi kenapa Chery bilang, Arsen keracunan sampe hampir mati. Lo tambah dosisnya apa gimana, Anjing?!"
Memang seingat Denis maupun Clara, saat Arsen di rumah sakit, mereka berhasil menahan kesadaran Arsen sampai tiga hari karena obat yang mereka beri.
Denis tak peduli, Clara yang kian terus meronta, bahkan lidah Clara sudah menjulur saking tipisnya oksigen di dadanya.
Denis pun melepaskan cekikannya, bagaimana pun juga dia masih menyayangi Clara sebagai wanitanya.
Clara kembali terbatuk-batuk, lalu ia merangkak. Untuk menjauhi Denis sebisa mungkin setelah Denis kembali berdiri.
"Nis, percaya ama aku, Nis. Aku rela kotorin tangan aku untuk kamu, Nis." Ucap Clara, dan ia pun terisak.
Denis menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kedua telinga menuli, dia masih sibuk memikirkan Kata-kata Archery. Mengatakan kalau dirinya adalah pembunuh.
Denis pun terduduk di sofa, tak menghiraukan tangisan Clara yang kian pecah.
"Waktu Arsen kecelakaan sebelum dia nikah. Gue emang nyuruh orang rusakin mobilnya, tapi gue juga mastiin, kalo tabrakan itu nggak akan makan korban jiwa. Gue mau Arsen paham ama peringatan gue. Ya, tapi gue seneng liat Arsen mati! Gue liat pake mata-kepala gue sendiri, Arsen jelas-jelas udah mati!"
Denis kembali menelisik kejadian sebulanan yang lalu.
Kejadiannya memang cukup janggal.
Denis menggigiti ibu jarinya. Fokus pada pikirannya.
"Jalanan juga gue milih waktu yang sepi padahal ...,"
Kuku ibu jarinya terkelupas seperempat.
Denis ingat betul, saat itu ia membuntuti Arsen. Denis hanya ingin memastikan kalau rencananya harus berhasil.
Skenario anak kecil mengambil bola di tengah jalan pun memang skenarionya.
Denis yakin, kalau Arsen tak akan melukai siapa pun, terlebih anak kecil.
Namun tanpa diduga, Arsen malah menabraknya seolah-olah sengaja. Beruntungnya saat itu, anak kecil yang merupakan komplotan Denis tidak apa-apa. Sejujurnya Denis sempat kepikiran soal korban yang menyelamatkan anak kecil tersebut, namun Denis juga bukanlah manusia yang baik. Pikiran tentang korban itu hilang saat ia lihat dengan jelas kalau Arsen meninggal dunia.
"Mobil yang tiba-tiba dateng itu. Itu mobilnya siapa?"
Ya, kalau dipikir-pikir lagi, Denis juga sempat menghiraukan kedatangan tiga mobil yang datang secara tiba-tiba saat itu. Mungkin karena kecelakaan itu terlalu parah, dan Denis tentunya dibuat pusing.
Iya, bagaimana jika ada yang menyelidiki lebih dalam lagi?
Pasti posisinya akan bahaya bukan?
__ADS_1
Dan ....
"Polisi yang nanganin kecelakaan mobil Arsen, bukannya ...,"
1 detik
2 detik
3 detik
"Christ! Anjing emang itu manusia!"
Denis yakin, kalau Christ juga terlibat. Bukannya menuduh, tetapi Christ juga yang menutup kasus kecelakaan tersebut tanpa mengusut awal mula kecelakaan itu terjadi.
Rem mobil yang Denis rusak. Sama sekali tidak disinggung.
Di rumah Denis mengamuk, sementara si Dalang dari segalanya tengah asik meminum kopi di sebuah kafe. Bersama dengan Juniornya yang baru kemarin ditugaskan bersamanya.
"Lo mau ngusut kecelakaan yang nimpa kakak, lo, ya?"
Si Junior. Vino Sebastian. Mengangguk tanpa ragu.
"Kenapa lo mau ngusut kecelakaan itu lagi?" Tanya Christ kemudian menyeruput kopinya dengan begitu elegan.
"Saya mau kematian kakak saya jelas, Pa--eh, Bang." Ungkap Vino sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Christ tertawa renyah, lalu menaruh kopinya.
"Yaudah, buka lagi ajah kasusnya. Biar lo puas dan betah jadi bawahan gue. Hahahah ...."
Vino kemudian berdiri, lalu ia membungkukkan badannya memberi hormat sekaligus rasa terima kasihnya. "Terima kasih banyak, Bang. Maaf ngerepotin, Abang."
Christ yang merasa risih pun ikut berdiri, "nggak usah kayak gini juga. Bikin malu gue ajah lo, ah! Untung kafe ini udah gue boking. Jadi nggak ada yang liat, kan. " Ucap Christ yang cukup gemas dengan Vino.
Vino pun kembali berdiri tegap, lalu mereka kembali terduduk.
"Yaudah, Bang. itu ajah yang mau saya omongin. Saya mau pamit pulang. Adek saya udah nungguin dari tadi," Vino kembali berdiri bersiap untuk pergi.
Vino hanya tersenyum untuk menanggapi tawaran atasannya ini. "Udah ngopi, Bang tadi pagi di kantor. Adek saya suka ngomel kalo saya ngopi banyak-banyak." Ungkapnya yang hanya diangguki maklum oleh Christ.
"Yang nunggu ama ngomel, adek lo apa istri lo?"
Vino tersipu detik ini juga.
Christ yang gemas hanya tertawa ambigu. "Udah cocok lo, kalo berumah tangga. Tipe-tipe suami yang baek. Kayak adek ipar gue."
Vino menggigit bibir bawahnya pelan, lalu ia mengambil tas ranselnya.
"Gue penasaran ama bini lo. Besok gue boleh main?" Tanya Christ yang diangguki oleh Vino dengan begitu polosnya.
"Yaudah gih, cepet pulang. Kasian bini lo, gue tahan terus."
Vino pun mengangguk kemudian melenggang.
Christ menghela napas panjang, matanya yang ceria berubah dingin ketika pandangannya jatuh pada kopi milik Vino. "Padahal kopinya bisa bawa dia ketemu ama Arsen. Yaudahlah, ni kopi buat si Babi ajah." Dan tak lama kemudian ponselnya pun berdering.
Si Babi-Anjing Denis
Senyum Christ merekah.
Tap!
Christ pun menggeser slide hijau pada ponselnya.
"Dimana, lo, Anjing!"
Christ menanggapinya hanya dengan tawa. Sarkas lagi mengejek.
"Udah sadar lo? Kalo mau ketemu gue cepet dateng ke kafe yang deket ama rumah, lo. Gue udah nungguin dari tadi."
__ADS_1
Tut!
Sambungan pun terputus sepihak. Denis memutuskannya dari seberang.
Christ hanya tersenyum masam, lalu kembali menaruh ponselnya di meja. Kembali menyeruput kopinya yang sisa seperempat, dengan pandangannya yang terus mengarah ke pintu masuk.
Tak berselang lama, Denis muncul dari sana. Mendekatinya dengan langkah yang gila. Dan tak lupa air mukanya tak bersahabat.
"Duduk dulu, Njing!"
Bugh!
Tap!
Denis langsung melayangkan tinjunya, namun berhasil Christ tahan.
"Gue bilang duduk!"
Denis menggertakan giginya jengkel, lalu ia terduduk seperti yang Christ pinta.
"Minum dulu, lo aus kan habis marah-marah?! Gue dari tadi merhatiin rumah lo. Berapa banyak barang yang lo pecahi?!" Tawar Christ.
Tanpa babibu, Denis langsung menyerbu kopi yang tadi tak disentuh oleh Vino.
Christ kembali tertawa. Ia menaruh gelasnya, lalu bertepuk tangan ria.
Denis yang bingung pun, mengintip kelakukan Christ yang cukup gila.
Denis menaruh gelasnya, lalu menatap Christ tajam.
"Lo kan yang bunuh si Arsen!" Tuduhnya yang langsung diangguki oleh Christ. Masih sambil tertawa.
"Gue kira abis Arsen mati, nggak ada lagi yang ngalangin gue. Tau-taunya Arsen lebih pinter ketimbang gue,"
Alis Denis bertaut sempurna.
"Maksud, lo?! Jadi, Arsen yang sekarang bener kan, itu si Sandi? Yang miri--"
Denis memegangi dadanya kuat-kuat. Lehernya seperti terbakar, napasnya mulai memburu.
Tawa Christ semakin heboh.
Pandangan Denis seketika teralih, menatap kopi yang beberapa menit lalu ia minum. Lalu, ia tatap Christ kembali.
" ..., b-brengse ...,"
Tubuh Denis ia tumpu ke meja, busa putih mulai keluar dari mulutnya. Tubuhnya mulai merasakan kedutan yang semakin menjadi.
"Iya bener apa yang mau lo kata. Gue yang racunin Sandi di rumah sakit. Makasih banyak banget, ya, lo udah jadi batu loncatan gue." Christ pun bangkit, dan bersiap untuk pergi. "Asal lo tau, ya, nggak ada satu pun manusia yang bisa nyakitin adek gue! Archery itu milik gue. Baik lo, Arsen ama Sandi, nggak ada yang berhak!"
Tubuh Denis limbung bersamaan dengan kopi yang ikut jatuh bersamanya.
Prankkk!
Chery tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sampai-sampai ponsel Arsen yang baru saja mereka dapatkan setelah pergi ke loker Arsen, terjatuh begitu saja.
Chery bangkit, lalu ia terduduk di kursi untuk mengambil jarak pada Sandi.
Tatapannya layu dan juga shock bukan main.
Sandi yang terkejut pun, cepat-cepat mengambil ponsel tersebut.
Matanya membelalak seperkian detik.
"Bukannya itu Mas Christ, ya, Mba?" Tanya Sandi, lalu memperbesar gambar tersebut.
Ya, Arsen tak sengaja memotret Christ yang tengah mencium bibir Chery, ketika adiknya itu sedang tertidur. Dan Arsen abadikan sehari sebelum hari H. Dan karena hal ini juga, Christ meminta untuk bertemu Arsen sebelum hari H.
Sandi mengoperasikan kembali ponsel milik Arsen. Masih mencari data-data penting yang Arsen suruh.
__ADS_1
Sandi hiraukan Chery yang masih shock. Menurutnya, Chery perlu waktu sendiri. Sandi memasuki file Audio, dan di sana terdapat rekaman dengan tanggal yang sama persis dengan tanggal gambar yang ia dan Chery lihat tadi.
"Mba, saya puter, ya, rekamannya?"