New Life Begins

New Life Begins
29. Masih di sini.


__ADS_3

Suasana masih mencekam bagi Chery. Sungguh ia sulit untuk bernapas saat ini. Sedari tadi ia bangkit, berjalan layaknya setrikaan, matanya tak henti-hentinya menatap pintu yang masih saja tertutup rapat semenjak empat jam lalu. Namun sesekali seorang perawat keluar dengan tergesa, mengabaikan ucapannya, lalu datang lagi seorang Dokter memasuki ruangan tersebut, alhasil Chery hanya bisa terisak.


Sudah terhitung tiga Dokter baru yang memasuki ruang operasi Sandi. Vino yang sudah pernah merasakan situasi ini pun kerap kali memaksa Chery untuk terduduk, dengan paksaan tentunya. Atau terkadang, ia peluk Chery untuk menenangkannya.


Tak lama, Roland, Vina dan Clara datang bersamaan.


"Tenang ajah, Christ nggak akan kemana-mana lagi, gue udah bikin berita eksklusif yang bakalan ngebuat Christ nggak bakalan diterima dimana-mana. Dia buron nomor satu yang lagi trending sekarang." Vina menjelaskan alurnya, membuat Vino menganggukan kepalanya paham, karena bagaimana pun juga ia masih trauma akan kematian Sherly.


Iya, pasalnya operasi Sherly terbilang berhasil, namun Sherly dinyatakan meninggal dunia di meja operasi. Dan itu tidak bisa dibantah, namun berkat Vina juga yang membantunya mengembalikan nama baik Sherly: bahwasannya ia mati bukan bunuh diri, melainkan pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Christ, membuat Vino bisa bernapas lega. Iya, setidaknya Sherly bisa tenang di alam sana.


Jadi, Christ hanya perlu dibesar-besarkan sebagai penjahat, dan sekeras-kerasnya memberikan peringatan kepada siapa pun yang berniat membantunya, kalau ada hukuman yang setimpal akan menunggu bagi siapa saja yang terlibat.


"Abis operasi selesai, keluarga gue mau gelar pers. Kita mau ngelurusin semuanya. Biar nanti, Sandi nggak dituduh lagi ngambil identitas orang lain. Buat urusan, serahin ke gue." Kata Roland membuat atensi semua orang yang ada di sana menatapnya.


Iya, bagaimana jika nanti Christ kembali berulah dengan menyinggung kalau Arsena Cloude telah lama meninggal dunia, dan orang yang sekarang adalah orang asing yang menyamar sebagai Arsen.


Apalagi perkara tersebut akan Christ besar-besarkan dengan embel-embel pencurian harta. Jadi, Roland memilih untuk membersihkan nama baik Sandi terlebih dahulu.

__ADS_1


Untuk ini, Chery bisa bernapas lega. Pasalnya, ia takut kalau kakaknya benar-benar berniat menghancurkan Sandi sehancur-hancurnya. Syukurnya, Roland cepat tanggap setelah sebelumnya Chery bercerita tentang niat Christ pada Sandi.


Tak berselang lama, pintu operasi pun terbuka. Seorang dokter keluar dari sana, yang kemudian langsung diserbu oleh orang-orang yang menunggu Sandi tersebut.


Sang Dokter melepas masker medisnya, "operasinya memakan waktu yang lama, tapi syukurnya semua berjalan baik. Tapi kondisi pasien sangat lemah, jadi untuk sementara pasien akan ditempatkan di ruang ICU untuk pemulihan," katanya membuat semua orang yang berada di sana bernapas lega. "Oh iya, bisa berbicara dengan anggota keluarganya?" Tanya sang Dokter, yang langsung dijawab oleh Chery. "Saya istrinya, Dok."


Dokter tersebut menganggukan kepalanya paham, "Nona bisa ikut saya sebentar. Ada yang harus saya sampaikan pada Nona terkait kondisi suami Anda." Lalu Dokter itu pun pamit untuk membersihkan dirinya.


Tak berselang lama kepergian sang Dokter, beberapa perawat dan Dokter lainnya keluar dengan mendorong ranjang Sandi.


Sandi tentunya tak sadarkan diri. Lemah, memang begitu lemah keadaannya. Wajahnya tertutupi masker oksigen, dan tubuhnya nyaris tak terlihat kulitnya saking banyaknya kabel dan selang yang melilitinya.


Sandi hanya boleh dikunjungi oleh satu orang saja, jadi mereka pun bergantian memasuki ruang ICU tersebut.


Alat bantu pernapasan Sandi telah berganti menjadi Ventilator. Kabel dan infus pun terlihat semakin banyak, bahkan kaki Sandi pun ikut ditancapi selang infus. Suara-suara monitor di kedua samping ranjangnya begitu mendominasi keadaan, bahkan barang kali ada yang ingin menyentuhnya memang harus berhati-hati, tergeser sedikit saja, nyawa Sandi mungkin bisa melayang.


Clara masuk untuk pertama kali, karena dia juga bukan siapa-siapa, dan yang lainnya seperti belum siap untuk melihat Sandi yang lebih rapuh daripada tadi.

__ADS_1


Awalnya Vino bersikeras untuk masuk, namun Roland menahannya. Karena pikir Roland, Vino akan menangis, yang pastinya akan mengganggu ketenangan Sandi. Jadi, Clara yang sadar diri pun, mengajukan diri. Ya, hitung-hitung dia sebagai perantara pertama yang akan memberi kabar lebih detail lagi mengenai kondisi Sandi.


Clara menatap lamat Sandi, tidak sampai ingin menangis. Hanya saja, Clara ikut bersedih, dia jadi teringat kondisi Denis yang sama kritisnya seperti Sandi. Ya, memang kalau dilihat-lihat Sandi lebih parah, terlebih lagi Sandi orang baik-baik, tidak seperti Denis yang brengsek, namun Clara tetap mencintainya.


"Makasih ya udah mau nolongin Denis kemarin, padahal sia-sia juga sih lo nolongin, Denis. Orangnya udah nggak ada juga," ucap Clara terasa miris, namun ia tetap tersenyum. "Padahal dia udah jahat sih ama lo, tapi emang dasarnya ajah lo yang baik. Gue juga jahat sih, mau ajah disuruh supaya lo tetep tidur kek gini dulu." Lanjutnya begitu sesal.


"Tapi gue yakin, kalo lo bakalan bangun. Banyak orang yang nungguin lo, jadi lo jangan nyerah, ya." Setelah itu pun Clara bangkit. Ia pun berjalan menuju pintu untuk keluar. Baru saja ia hendak menggeser pintu tersebut, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara monitor yang tiba-tiba berirama begitu cepat. Clara kembali membalikkan tubuhnya, dan melihat tubuh Sandi yang berjengit-jengit di sana.


Deg!


Chery mencengkeram erat dadanya. Air matanya kembali menetes. Tangisannya tak bersuara, Chery sudah lelah.


Seharian ini ia menangis tanpa henti.


Cobaan yang Tuhan berikan padanya terlampau berat. Namun satu hal yang Chery yakini, kalau Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya.


"Jadi bagaimana Nona? Masih tetap ingin mempertahankan Tuan Sandi? Saya sebagai Dokter bukannya menyerah, namun sebaiknya kota melepaskan penderitaannya saja. Karena bagaimana pun juga, otaknya sudah mati. Pembuluh darah di otaknya sudah pecah, dia bisa bertahan hanya karena jantungnya yang masih berdetak. Itu pun beresiko, karena serangan jantung bisa datang kapan saja padanya." Terang Dokter itu sekali lagi untuk memantapkan keputusan Chery yang baginya percuma saja.

__ADS_1


Dan benar saja, ponsel Dokter itu bergetar. Panggilan masuk. Dokter itu pun langsung menggeser slide hijau pada ponselnya tersebut. Dokter itu pun bangkit, lalu menutup panggilan tersebut. Ia ambil lalu kenakan jas putih kebesarannya tersebut. "Tuan Sandi saat ini mendapatkan serangan jantung. Coba dipikir baik-baik lagi. Serangan jantung ini bisa datang setiap harinya, bahkan saya pernah menangani kasus yang setiap jam datang. Alhasil, keluarga pasien menyerah. Mereka tidak ingin melihat keluarganya menderita lebih lama lagi." Tutur sang Dokter lalu bergegas untuk meninggalkan ruangannya.


Sebelum Dokter itu menghilang dari pintu ruangannya, Chery berseru keras. "Lebih menderita siapa? Saya yang harus kehilangan dia, apa dia yang harus kehilangan kesempatan untuk melihat anaknya lahir?! Seharusnya Dokter yang sebagai perantara Tuhan meyakinkan saya untuk terus bertahan. Tidak peduli saya harus menunggu berapa lama, saya tetap ingin Sandi bertahan. Saya yakin, Sandi masih berjuang untuk saya dan anak saya."


__ADS_2