
Kalandra berjalan-jalan di taman belakang, ia melihat ke arah pohon besar yang juga ada di sana. Tiba-tiba, bayangan Nirbita muncul dalam pikirannya, ia pun berjalan mengitari pohon itu.
"Bagaimana kabarmu? Aku harap kamu tenang di sana," ucap Kalandra mengusap pohon tersebut, seolah ia mengusap pohon di mana ia sering melihat Nirbita dulu. Saat Kalandra berbalik dan berjalan, ia menghentikan langkahnya, suhu dingin tiba-tiba terasa di sekitarnya membuat ia menjadi merinding dan mengusap tengkuknya. Kemudian dengan perlahan berbalik, melihat sekelilingnya. Namun, tak ada siapa-siapa disana, ia menaikkan bahunya dan kembali berjalan.
"Mungkin ini hanya perasaanku," gumamnya lagi mempercepat langkahnya kembali ke rumah. Kalandra mengambil ponsel dan menelepon Agam, meminta Agam menemuinya di salah satu Cafe di depan komplek mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka pun bertemu di Cafe, tak jauh dari kediaman mereka, hanya tinggal keluar kompleks mereka sudah sampai di Cafe tersebut.
__ADS_1
"Ada apa kau memanggilku?" tanya Agam begitu ia mendudukkan dirinya di kursi, dimana Kalandra sejak tadi menunggunya di sana.
"Kamu lama banget, sih, bukannya jaraknya dekat ya?" protes Kalandra, ia menunjuk jam tangannya. Ia bahkan sudah menunggu di sana lebih dari 30 menit, tadinya ia berniat untuk pergi dan meninggalkan Agam yang terlalu lama, memilih untuk pergi mencari udah segar daripada terus menunggu di Cafe itu dengan tak jelas.
"Iya, maaf. Tadi sewaktu kamu menelpon aku belum mandi, jadi aku mandi dulu dan saat mandi aku juga ingin buang air besar, ya jadi maklum saja jika lama," ucap Agam memberi alasan membuat Kalandra hanya mendengus kesal.
"Ada apa sih sebenarnya, kamu kok terdengar buru-buru ditelepon tadi, emangnya ada hal yang penting ya?" tanya Agam sambil memberi isyarat memanggil pelayan untuk memesan minuman.
__ADS_1
"Untuk apa lagi sih kamu membahas masalah Nirbita, lebih baik kita bahas masalah yang lain saja," ucap Agam yang tiba-tiba meresa merinding.
"Kamu ngerasa nggak sih, kalau Nirbita itu seperti ikut dengan kita ke sini, ke kota ini! Aku beberapa kali bisa merasakan kehadirannya," ucap Kalandra membuat Agam langsung terbatuk-batuk.
"Kamu serius?" tanyanya setelah menguasai batuknya. Kalandra pun mengganguk dan ia pun mulai menceritakan bagaimana saat pertama kali sampai ke rumah, ia merasakan ada seseorang yang memegang pipinya, suhu tubuh yang dingin. Namun, saat membuka mata, ia tak melihat siapapun dan ia beberapa kali merasakan udara dingin di sekitarnya yang datang secara tiba-tiba. Bukankah itu sama dengan yang mereka rasakan saat di villa dulu, mendengar cerita dari Kalandra membuat Agam kembali takut tentang keberadaan Nirbita. Tadinya, ia sudah lebih lega karena merasa Nirbita tak akan ada di sekitar mereka lagi, Nirbita sudah ditemukan dan berharap dengan ditemukan anggota tubuhnya, ia akan bisa lebih tenang di alam sana dan mereka juga sudah berada jauh dari villa itu.
"Begini saja, mau nggak nanti malam kita buktikan, kamu datang ke rumah. Kamu ingatkan mohon besar yang ada di belakang rumah, coba kita mencari Nirbita disana, mungkin saja dia ada di sana, kan!" ucap Kalandra. Namun, Agam langsung menggeleng cepat.
__ADS_1
"Nggak, nggak mau. Mungkin saja di sana memang ada hantunya, tapi bukan Nirbita, bagaimana kalau hantunya enggak cantik, bagaimana jika hantunya menyeramkan dan ingin melukai kita, pokoknya nggak, nggak mau!" tolak Agam.
"Ya udah, kalau kamu nggak mau. Aku sendiri saja, aku yakin jika Nirbita ikut bersama kita dan dia masih ada di sekitaran kita, tapi aku nggak tahu mengapa dia tak menampakkan wujudnya pada kita seperti saat di villa," ucap Kalandra mengingat bagaimana dulu Nirbita selalu muncul di hadapan mereka, walau tanpa mereka inginkan.