
Begitu sampai di kamar hotel, mereka berdua hanya terus diam dan tiba-tiba mereka kembali merasakan hal yang sama, saat Nirbita ada di sekitarnya.
"Apa kau merasakan sesuatu?" tanya Kalandra membuat Agam pun mengangguk.
"Semoga saja ini hanya perasaan kita saja, semoga Nirbita sudah tenang," ucap Kalandra membuat Agam pun mengaminkan hal tersebut.
Saat tengah malam, Kalandra tak bisa tertidur, ia bangun dan melihat ke arah jendela.
"Nirbita, dimanapun kamu berada aku harap kamu bisa tenang di sana," ucapnya setelah mengatakan itu, Kalandra tiba-tiba sepintas melihat Nirbita yang tersenyum kepadanya dan melambaikan tangan dan ia membalasnya.
Setelah melihat hal tersebut, kemudian ia pun memutuskan untuk tidur, melihat Agam sudah tertidur pulas, mereka harus pulang pagi-pagi sekali.
Kalandra bermimpi, Nirbita pamit padanya dan mengatakan jika ia sudah mendapat tempat yang seharusnya ia berada dan ia sangat bahagia sekali. Lagi-lagi Nirbita berterima kasih pada mereka yang telah membantunya menemukan tempatnya.
__ADS_1
Kalandra melihat Nirbita berjalan menjauh darinya dan hilang di balik kabut putih, ada rasa ketenangan di hatinya.
Kalandra membuka mata dan ia menarik garis senyumnya, ia merasa bahagia bermimpi melihat Nirbita dan Nirbita mengatakan jika ia sudah mendapat tempat yang nyaman.
Kalandra melihat Agam masih tertidur dan ia pun membangunkannya dan mereka pergi saat matahari sudah terbit.
Sepanjang perjalanan mereka terus berbincang masalah Nirbita, ternyata Agam juga bermimpi hal yang sama. Nirbita pamit padanya dan mengatakan jika ia sudah menemukan tempat yang seharusnya ia berada.
Di saat perjalanan sudah semakin dekat, tiba-tiba mereka melihat sosok Nirbita yang ada di tepi jalan. Mereka menghentikan mobil, Nirbita berdiri di samping mobil mewah dan melambaikan tangan pada mereka.
Keduanya pun turun dari mobil dan menghampiri sosok yang sangat familiar bagi mereka itu.
"Maaf mengganggu perjalanan kalian, mobilku mogok. Aku sudah menelpon derek dan ini sudah hampir malam, bolehkah aku ikut sampai ke kota depan? Di sini tak ada taksi, dari tadi aku menunggu, tapi tetap tak ada, mungkin saat sudah masuk ke kota akan mudah mendapat taksi," ucapnya membuat Kalandra dan juga Agam saling menatap, sepertinya mereka hanya mirip, jelas-jelas dia bukanlah Nirbita.
__ADS_1
"Ya sudah, boleh. Tentu saja," ucap Agam kemudian mereka pun bersama-sama melanjutkan perjalanan, mereka terus mengobrol dan ternyata mereka memiliki tujuan yang sama, membuat Agam dan Kalandra memutuskan untuk mengantar wanita yang mirip Nirbita itu hingga ke rumah.
"Oh ya, kalian kuliah di kampus mana?" tanya wanita itu lagi yang ternyata namanya adalah Melati.
Agam pun menyebutkan nama kampus mereka.
"Wah, benarkah? Aku juga akan kuliah di sana, aku baru saja pulang dari luar negeri dan akan melanjutkan kuliahku di sini, orang tuaku tinggal di luar negeri, tapi mereka sangat sibuk. Di negara ini hanya ada kakek dan nenekku dan aku memutuskan untuk tinggal bersama dengan mereka," jelas Melati.
"Wah, benarkah? Kamu mau kan jadi teman kami?" ucap Kalandra.
"Tentu saja, kalian pasti orang-orang baik. Senang bertemu dengan kalian," ucapnya.
Kalandra merasa senang walau Melati bukanlah Nirbita. Namun, banyak kesamaan di antara mereka, bukan hanya dari wajah. Namun, cara bicara dan juga caranya tersenyum benar-benar sangat mirip.
__ADS_1
Tamat.