
Kalandra dan juga Agam hari ini mulai kembali ke kampus, mereka mengendarai mobil menuju ke kampus mereka. Agam memutuskan untuk ikut numpang di mobil Kalandra, ia juga ingin membahas masalah aksi mereka semalam. Namun, tiba-tiba Kalandra langsung mengerem mobilnya saat menyadari di belakang mobilnya ada Nirbita. Ia pun berbalik dan melihat Nirbita.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Kalandra membuat Agam yang juga sudah tak takut lagi sudah melihat ke arah Nirbita dengan tatapan pertanyaan yang sama.
"Aku akan menakut-nakuti Pak Tono malam hari, jadi siang hari aku nggak papa kan ikut kalian?" tanya Nirbita.
"Tapi, bagaimana jika ada yang melihatmu?" tanya Kalandra lagi.
"Kalian tenang saja, jika masalah itu aku bisa mengaturnya. Aku bisa mengatur untuk orang tak melihatku, tapi terkadang aku ingin terlihat di mata orang, tapi orang tak bisa melihatku termasuk kalian waktu di villa dulu. Aku menginginkan kalian semua melihatku, tapi nyatanya hanya kalian berdua kan yang melihatku. Tenang saja, saat di kampus tak akan ada yang melihatku," jelas Nirbita lagi membuat Kalandra pun melanjutkan berkendara. Begitu sampai di kampus Agam dan Kalandra yang berbeda jurusan membuat mereka berpisah sementara dan juga Nirbita menuju ke arah lain, begitupun dengan Agam.
Agam bernafas lega, akhirnya Nirbita tak lagi mengikutinya, tapi mengikuti kalandra.
__ADS_1
Saat itu Nirbita meninggal saat usianya masih sangat muda, ia baru saja lulus SMA dan ingin melanjutkan kuliah, membuat ia sangat antusias saat ikut dengan Kalandra ke kampus. Ia melihat-lihat apa yang dipelajari Kalandra dan bahkan duduk di samping Kalandar yang kebetulan kosong, terus memperhatikan Kalandra sepanjang menerima materi dari dosen. Kalandar melihat Nirbita sangat serius dan terlihat sangat lucu memperhatikan semua materi yang dibawakan dosen hari ini. Lebih fokus dari mahasiswa lainnya di dalam ruangan itu termasuk dirinya.
Setelahnya, Kalandra pun pergi ke kantin, Nirbita juga ikut melihat kegiatan di kantin, begitu selama seharian di kampus. Kalandra terus berjalan ke sana kemari sesuai dengan keinginan Nirbita. Nirbita ingin melihat semua kelas atau ruangan-ruangan yang ada di kampus itu, Kalandra akan menemaninya hingga sore hari, saat ini mereka duduk di atas gedung kampus tersebut, hanya mereka berdua.
"Aku sangat ingin hidup kembali, andai saja ada cara agar aku bisa kembali ke tubuhku dan hidup, bisa sekolah lagi, bisa kuliah lagi, bisa bermain dengan teman-teman sepertimu. Aku pasti sangat bahagia," ucap Nirbita memandang lurus ke depan, membuat Kalandra merasa kasihan melihatnya.
"Saat urusanmu dengan Pak Tono selesai, apa kamu akan pergi?" tanya Kalandra membuat Nirbita pun mengangkat bahunya.
Sepulang kampus, di rumah Kalandra, Nirbita mengikuti semua kegiatan. Nirbita menemani Kalandra bermain PS hingga menemani Kalandra mengerjakan beberapa tugas kuliahnya, bahkan sekarang Nirbita tak kaku lagi, beberapa tugas-tugas Kalandra coba dikerjakannya membuat Kalandra sedikit terbantu. Ternyata, Nirbita sangatlah cerdas, hanya dengan sekali mendengarkan materi yang dipelajari tadi ia dengan mudah mengerjakan soal yang diberikan. Kini tiba saatnya malam hari, Nirbita kembali ingin pergi. Namun, ditahan oleh Kalandra.
"Apa kau butuh bantuanku? Pak Tono orang yang sangat berbahaya," ucap Kalandra.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, jika aku butuh bantuan aku akan memintanya. Tapi, untuk saat ini aku bisa mengerjakannya sendiri, waktuku tak banyak. Aku hanya harus membuatnya mengaku dalam waktu seminggu ini, itulah yang aku tahu. Selebihnya, jika aku tak berhasil aku tak tahu apa jadinya kehidupanku, apakah aku akan pergi dengan tenang atau akan terus berada di dunia ini dengan status tak jelas, aku ingin hidup tenang," ucap Nirbita lagi membuat Kalandra pun mengizinkannya untuk pergi memenuhi apa yang diinginkannya, membuat Pak Tono mengakui apa yang telah dilakukan padanya 10 tahun yang lalu.
Pak Tono sedang makan malam bersama dengan istrinya. Namun, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang menyentuh kakinya, sesuatu yang terasa dingin sama seperti malam kemarin. Pak Tono menendang-nendangkan kakinya. Namun, tetap saja ada sesuatu yang menyentuhnya, yang dipikirnya hanyalah seekor kucing peliharaan istrinya, tapi tetap saja tak mau pergi. Pak Tono yang kasal pun menunduk dan melihat kucing di bawah meja. Namun, yang dilihatnya adalah Nirbita, membuatnya kembali menjerit. Ia bahkan mundur dan membuat kursi yang ia duduki itu terpental ke belakang.
Nana yang melihat istri suaminya terjatuh dan menjerit langsung membantunya. "Ada apa? Ada apa denganmu, Pak?" tanya Nana ikut panik, ia melihat ke arah yang ditunjuk oleh Pak Tono.
"A-da ada setan!" ucap Pak Tono gugup.
"Apa maksudmu? Mana ada setan," ucap Nana kemudian menyibak taplak meja makan dan melihat di bawah meja tak ada apa-apa di sana. Namun begitu istrinya pergi dan kembali ke kursinya duduk di meja makan, Nirbita kembali muncul di bawah meja itu dengan serinyai ingin membunuh Pak Tono, membuat Pak Tono pun lari terbirit-birit menuju ke kamarnya, mengunci pintunya. Ia berjalan mundur dan terus melihat ke arah pintu dengan tangan bergetar.
"Tidak! Ini semua tidak benar," ucapnya. Namun, saat dia mundur, sesuatu menghalangi langkahnya. Pak Tono pun berbalik dan ia semakin berteriak hingga pingsan saat melihat sosok Nirbita kembali di belakangnya.
__ADS_1