
Pagi hari,
Mereka semua menikmati udara pagi yang begitu segar, mereka berlari-lari kecil di sekitaran Villa tersebut. Namun, berbeda dengan Kalandra dan juga Agam, mereka masih meringkuk di kamarnya. Semalam mereka tak bisa tidur karena terus merasa takut akan kehadiran Nirbita.
Keduanya duduk di atas tempat tidur dan bersandar di sandaran tempat tidur mereka.
"Apa kita pulang saja, ya?" tanya Agam yang sudah mulai menyerah dengan adanya gangguan dari Nirbita.
Kalandar tak menanggapi, ia terus berpikir mengapa dia bisa meminta tolong padanya dan mengapa hanya mereka berdua yang melihat Nirbita di Villa itu. Padahal di Villa itu ada beberapa orang juga, ada tukang kebun yang sudah pasti setiap hari bekerja disana dan ada ibu yang datang membersihkan Villa itu secara rutin. Mengapa mereka semua tak melihat Nirbita, mengapa Nirbita meminta tolong padanya, minta tolong untuk apa? Pikiran itu terus berputar di kepala Kalandra. Kemudian ia pun beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi, Agam yang takut juga ikut menyusul. Namun, Kalandra langsung menutup pintu kamar mandi.
__ADS_1
Agam yang masih merasa takut memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan juga dengan cepat ia bersiap untuk mandi. Semua teman-temannya sudah keluar dari Villa, ia tak ingin sampai Kalandra juga meninggalkannya.
Kalandra mandi lebih dulu. Namun, Agam yang selesai lebih dulu dan sudah berada di kamar Kalandra kembali. Berdiri menunggunya sambil sesekali mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk kwcil lainnya. Kalandra keluar dari kamar mandi juga sudah mengenakan bajunya.
"Bagaimana, apa kita pergi saja meninggalkan Villa ini. Aku sudah tak tahan,: ucap Agam menatap pada kalandra. Tapi, kalandra malah menggeleng.
"Apa maksudmu menolongnya? Jangan sembarangan, deh! Lebih baik kita rugi dan membayar Villa ini berdua dan kita jujur kepada mereka semua jika Villa ini ada hantunya kemudian kita pergi dari sini," ucap Agam menarik-narik tangan Kalandra yang berjalan menuju ke arah taman belakang.
"Sudah jangan pengecut, ikut saja," ucap Kalandra, ia menarik agar mengikutinya, mereka saat ini berjalan menuju begitu taman belakang, gimana dulu Nirbit menuntun mereka menuju ke sana. Kalandra curiga jika ada sesuatu yang ingin ditujukan oleh Nibita waktu itu di ruangan yang belum sempat mereka masih lihat.
__ADS_1
Agam menghentikan langkahnya saat ingin memasuki ruangan tersebut, ia menggeleng menatap kalandra.
"Kamu mau, Nirbita mengikuti kita sampai ke rumah?" tanya Kalandra membuat Agam pun menggeleng.
Ya sudah kamu ikut saja, aku yakin Nirbita tak berniat jahat pada kita dia hanya ingin meminta tolong, apa kamu tak dengar apa yang dikatakannya semalam? Kenapa dia pernah mengganggu kita untuk menyakiti kita? Nggak kan? Dia hanya seperti memberi petunjuk kepada kita," ucap kalandra lagi membuat Agam hanya mengangguk. Namun, tetap saja ia merasa takut.
Kalandra mengeluarkan ponselnya. Begitu juga dengan Agam. Dengan bermodalkan cahaya senter pada ponselnya mereka pun masuk menyusuri ruang gelap itu dengan cahaya seadanya. Mata Kalandra tertuju pada saklar yang ada di ruangan itu, ia pun berjalan cepat menuju ke saklar tersebut, disusul oleh Agam yang terus-menarik bajunya.
Begitu Kalandra menekan saklar, ternyata lampu di ruangan itu masih menyala. Namun begitu lampunya menerangi ruangan keduanya langsung berteriak ketakutan saat Nirbita tiba-tiba muncul di depan mereka. Adam bahkan menjatuhkan ponselnya bersembunyi di belakang Kalandra.
__ADS_1