
Dalam perjalanan, mereka terus bercanda bersama hingga tak terasa sebentar lagi mereka akan sampai di tempat yang mereka tuju. Namun, tiba-tiba Nirbita kembali diserang rasa kantuknya dan ia pun tertidur.
"Itu Nirbita beneran tidur, ya?" tanya Agam melirik Nirbita di kursi belakang, di mana saat ini Agam yang menyetir sedangkan, Kalandra duduk di jok di sampingnya.
Kalandra menoleh ke belakang dan dia melihat Nirbita tertidur dengan pulas, matanya terpejam. Namun, bibirnya terlihat tersenyum dengan begitu damai, ia pun hanya mengangguk.
"Biarkan saja, ia sudah lama tak pernah tertidur dengan pulas seperti itu. Semoga saja dengan bertemu dengan keluarganya, ada sedikit harapan untuknya untuk menemukan tujuan dan kepastian sampai kapan ia dalam kondisi saat ini, aku bisa mengerti jika dia sangat menginginkan kehidupannya yang dulu," ucap Kalandra kemudian ia pun menyandarkan bahunya di sandaran kursi, mengatur kursinya agar bisa sedikit beristirahat. Sejak tadi ia yang menyetir, sekarang bergantian Agam yang menyetir.
Agam terus mengikuti ke mana aplikasi Google map membawanya, yang telah diatur ke titik di alamat yang tertera di surat tersebut. Hingga ia bisa melihat jika mereka hanya tinggal 1 km lagi menuju ke tempat tersebut, Agam yang melihat keduanya kini tertidur dengan pulas, sengaja memelan mobilnya. Jam juga sudah menunjukkan pukul 4 sore.
Setelah semakin dekat, Agam pun membangunkan Kalandra.
"Kita sudah sampai," ucapnya begitu Kalandra membuka mata dan melihat ke arah Agam. Agam kembali semakin memelankan mobilnya, melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan mereka sampai ke alamat yang benar. Begitu juga dengan Kalandra, mencocokkan alamat dengan yang ada di surat peninggalan dari kedua orang tua Nirbita.
__ADS_1
"Apa ini tempatnya?" tanya Kalandra.
"Menurut di Google maps sih, iya," jawab Agam lagi kemudian ia pun memarkirkan mobilnya tepat di alamat yang dituju, nomor juga sama dengan alamat yang tertera jelas di dalam surat tersebut.
"Tetaplah di sini, akan aku cek terlebih dahulu. Setelah pasti aku akan kembali dan memanggil kalian," ucap Kalandra membuat Agam pun mengangguk mengerti, kemudian mematikan mesin mobilnya setelah memarkirkannya di tempat yang teduh.
Kalandra pun turun dari mobil, melihat ke kiri dan ke kanan dan memencet bel rumah yang berpagar besi berwarna hitam, walau terlihat sederhana. Namun, terlihat nyaman, rumahnya berukuran kecil berlantai 2.
Kalandra bisa melihat jika di dalam rumah itu ada begitu banyak anak kecil yang sedang bermain, salah satu anak kecil pun menghampiri Kalandra.
"Ini rumah kamu, ya?" tanyanya membuat anak kecil itu pun menggangguk.
"Boleh saya bertemu dengan ibu kamu?" tanya Kalandra membuat anak kecil pun itu kembali mengangguk dan berlari masuk ke dalam rumah, tanpa membuka pintu gerbang.
__ADS_1
Kalandra menunggu dengan sabar, tak lama kemudian seseorang yang usianya seusia dengan ibu nya pun menghampirinya.
"Ada apa ya, Dek?" tanya ibu tersebut.
"Permisi, Bu. Ibu, Ibunya Nirbita?" tanya Kalandra lagi.
"Iya, saya Ibunya. Ada apa, ya? Jika ingin menanyakan tentang perihal kematian Nirbita sama dengan yang lain, maaf kami tak bisa menjawab, silakan pulang," ucap ibu tersebut membuat Kalandra yakin jika sudah banyak orang yang datang ke rumah itu, sehubungan dengan viralnya video penemuan jasad Nirbita.
"Saya bukan seperti mereka," ucap Kalandra perkenalkan dirinya.
"Saya Kalandra, saya yang waktu itu menemukan jasad Nirbita," ucap Kalandra membuat ibu yang tadinya ingin melangkah masuk menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Kalandra.
"Bagaimana kamu bisa tahu jika itu anakku? Maksudku kemungkinan jika jasad yang ditemukan itu adalah bukan Nirbita?" tanya ibu dengan tatapan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku sama sekali tak mengenal Nirbita sebelumnya, aku juga tak mengenal siapa pembunuh atau siapa pemilik villa tersebut, aku hanya menyewa villa itu untuk berlibur bersama dengan teman-temanku yang lain dan yang memberitahu keberadaan jasad yang aku temukan adalah Nirbita sendiri, aku tahu namanya juga karena dia yang memberitahu," jelas Kalandra. Namun, ibu tersebut tetap tak percaya, membuat Kalandra pun menceritakan beberapa kebiasaan Nirbita, barulah ibu tersebut percaya jika Kalandra pernah bertemu dengan Nirbita.