
"Kamu pikir kamu bisa menakut-nakutiku, Hah! Dasar bocah tengik!" ucapnya menginjak gasnya dan mencoba untuk menabrak Nirbita yang masih berdiri di depan jalannya, dia pun tertawa terbahak-bahak setelah berhasil melakukan apa yang inginkannya. Namun, begitu ia melihat ke belakang, Nirbita masih berdiri tegak membuat ia pun kembali memundurkan mobilnya dengan begitu kencang, biar bisa tertabraknya. Namun, lagi-lagi Nirbita berdiri di depan mobilnya dan kali ini sangat dekat dan kini giliran Nirbita yang tertawa terbahak-bahak membuat Pak Tono kembali menginjak gasnya dan menabrak Nirbita. Jika tadi Nirbita menghilang dari hadapan mobil Pak Tono, kali ini Nirbita tetap berada di depan kap mobil Pak Tono. Sementara mobil itu terus melaju kencang. Namun, dia sama sekali tak pergi dari depan mobil Pak Tono. Ia terus memberikan senyuman mengeringkannya hingga tanpa sadar Pak Tono yang melajukan mobilnya dengan begitu kencang menabrak pembatas jalan dan mobilnya pun terbalik.
Pak Tono dengan cepat merangkak keluar dari mobilnya dan dengan luka yang dialaminya, ia melihat Nirbita yang berjalan pelan ke arahnya. Pak Tono yang masih duduk di aspal jalan terus memundurkan tubuhnya, menjauhi Nirbita yang semakin mendekat.
"Pergi kamu! Pergi! Jangan dekati aku, kamu sudah meninggal! Pergi kamu!" teriak Pak Tono. Namun, Nirbita malah tertawa terbahak-bahak.
"Aku ingin pergi, tapi aku tak bisa. Marilah kita pergi bersama-sama, mungkin kau bisa menunjukkan jalan padaku," ucap Nirbita kemudian kembali tertawa, membuat Pak Tono semakin ketakutan dengan perkataan dari Nirbita. Ia pun mencoba untuk berdiri, berlari menghindari Nirbita. Namun, Nirbita juga mempercepat langkahnya, menyusul Pak Tono yang kini semakin mengencangkan langkahnya.
Keadaan sekitaran jalan itu sangatlah sepi, mengingat sekarang sudah pukul satu malam dan juga kompleks itu memiliki jarak rumah dari satu dengan rumah yang lainnya cukup jauh, sehingga tak ada yang mendengar kecelakaan yang dialami oleh Pak Tono, tak ada yang melihat kondisinya saat ini, Pak Tono terus berteriak meminta tolong. Namun, tak ada yang mendengar, mereka berada di kompleks sehingga tak ada kendaraan lain yang berlalu lalang, kecuali orang-orang yang tinggal di kompleks tersebut.
Tiba-tiba Nirbita menghilang saat Pak Tono melihat ke arah belakang, langkahnya tertatih mencari di mana keberadaan Nirbita.
__ADS_1
"Di mana dia?" ucap Pak Tono, meringis menahan sakit akibat luka kecelakaan tadi. Namun, ia tak punya pilihan lain selain terus berlari menjauhi Nirbita dan saat ia berbalik ingin kembali berlari, Nirbita muncul tepat di belakangnya dan langsung mencekik leher Pak Tono. Pak Tono berusaha untuk menyingkirkan tangan Nirbita dari lehernya. Namun, kekuatannya tak bisa dikalahkannya, semakin mengencangkan cengkraman di leher Pak Tono membuat Pak Tono kesulitan bernafas. Namun, tiba-tiba Nirbita kembali menghilang, Pak Tono berusaha menghirup udara dari tenggorokannya.
"Aku harus pergi dari sini," ucap Pak Tono menghentikan mobil yang terlihat mengarah ke arahnya dan begitu mobil itu berhenti, ternyata itu adalah mobil Pak satpam yang membawa Nana sang istri yang juga sudah tak sadarkan diri.
Pak Tono yang mengetahui jika itu Pak Satpam, langsung masuk. "Ada apa, Pak? Ada apa dengan Bapak?" tanya Pak satpam tersebut melihat kondisi Pak Tono yang terluka.
"Kalian mau ke mana? Kenapa dengan istriku?" tanya Pak Tono melihat istrinya yang sendiri berbaring di jok belakang.
Begitu sampai di rumah sakit, keduanya pun langsung ditangani oleh dokter. Mereka kemudian diminta untuk menginap di ruang perawatan inap.
"Kamu jangan pulang, tetap di sini menjaga kami," ucap Nana yang sudah tersadar dari pingsannya, begitupun dengan Pak Tono hanya pasrah dan juga ikut meminta Satpam yang bekerja di rumahnya itu untuk menginap bersama dengan mereka. Satpam tersebut hanya menggangguk, tak punya pilihan lain. Ia bingung melihat mengapa kedua majikannya itu terlihat ketakutan.
__ADS_1
"Iya, Pak. Tentu saja, sebaiknya Bapak dan Ibu istirahat. Saya akan berjaga di sini," ucap Pak satpam tersebut. Namun, baru saja ia mengucapkan kalimat itu, Pak Tono langsung melihat ke arahnya, begitupun dengan Nana. Keduanya melihat dengan penuh ketakutan dan memundurkan tubuh mereka, Pak Satpam memegang tengkuknya yang terasa merinding. Kemudian, ia pun perlahan membalikkan badan. Namun, ia sama sekali tak melihat apa-apa.
"Ada apa? Apa ada yang Bapak lihat?" tanya Pak satpam ikut merasa takut. Namun, ia sama sekali tak melihat apapun di ruangan itu, berbeda dengan Nana dan juga Pak Tono yang melihat Nirbita berdiri di sana, berjalan pelan menghampiri mereka.
"Kalian berdua harus mati di tanganku malam ini juga!" ucap Nirbita, kemudian ia pun tertawa membuat Nana dan juga Pak Tono menutup telinganya, mereka tak suka mendengar tawa Nirbita yang memenuhi ruangan itu.
Pak Satpam yang melihat tingkah laku kedua majikannya, memutuskan untuk memanggil dokter. Dokter yang datang dan melihat kondisi mereka berdua langsung menyuntikkan obat penenang.
"Sepertinya, mereka berdua tengah menghadapi sebuah masalah dan membuat mereka stress," ucap dokter pada satpam yang menunggu mereka.
Setelah Pak Tono dan Nana mendapatkan suntikan dari dokter, Pak Tono dan istrinya pun tertidur pulas dengan Pak satpam yang juga ikut tertidur, beristirahat dari semua keanehan yang dialami majikannya.
__ADS_1