Nirbita ( Cinta Dua Alam)

Nirbita ( Cinta Dua Alam)
Keikhlasan Ibu


__ADS_3

Nirbita menceritakan semua yang terjadi oada ibunya. Apa penyebab kematiannya dan apa yang selama ini dialaminya di villa itu, ia menceritakan semuanya sambil terus menangis tersedu-sedu. Ada rasa bahagia di hatinya sudah kembali bisa merasakan kesedihannya, kesedihan yang selama ini terpendam kini ia keluarkan di hadapan wanita yang melahirkannya kedunia ini. Ibu yang bisa melihat kesedihan putrinya, juga ikut menangis. Namun, ia juga bisa melihat wajah anaknya yang perlahan bercahanya dan tangisnya berubah menjadi senyuman.


"Sekarang aku lega, Bu. Setelah menangis dan memeluk Ibu, tolong beri aku izin untuk pergi," ucap Nirbita merasa dirinya jauh lebih tenang setelah menangis dan meluapkan segala apa yang dirasakannya.


"Apa dengan keikhlasan Ibu kamu bisa pergi dengan tenang, Nak?" ucap ibu membuat Nirbita pun mengangguk.


"Iya, Bu. Biar Nirbita bisa merasakan kedamaian, semoga saja di kehidupan berikutnya Nirbita akan kembali terlahir sebagai anak ibu dan bertemu dengan Kalandra, dan juga Agam," ucap Nirbita membuat ibu pun mengangguk. Ia menggenggam erat tangan putrinya yang begitu dingin dan melihat senyum, cahaya di wajah putrinya.


"Sekarang Ibu ikhlas melepaskanmu, Nak. Sekarang jika kamu memang ingin pergi, pergilah, Nak. Pergilah dengan tenang, Ibu akan selalu mendoakanmu," ucap ibu dengan penuh keikhlasan, perlahan tubuh Nirbita seolah menguap, ada cahaya di sekujur tubuhnya, perlahan dan pasti anggota tubuh dari Nirbita terlihat transparan.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu," ucap Nirbita melihat Kalandra dan ibunya secara bergantian. Kalandra hanya tersenyum melihat Nirbita yang terlihat jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Nirbita menguap menjadi butiran-butiran kristal dan menghilang.


Suasana menjadi hening, beberapa saat tak ada lagi tangisan dari ibu Nirbita.


Ibu sudah ikhlas melepas kepergian putrinya, walau bertemu hanya sekitar 30 menit saja. Namun, ia merasa puas, kerinduannya selama 10 tahun kini terhapus sudah.


"Iya, Bu," ucap Kalandra dan juga Agam secara bersamaan. Setelah berbincang sebentar, mereka pun pamit. Ada kelegahan di hati Kalandra dan juga Agam saat mereka melajukan mobilnya meninggalkan rumah kediaman orang tua Nirbita .


"Kamu kenapa?" tanya Agam melirik ke arah Kalandra yang sejak tadi hanya terdiam. Kalandra hanya menggeleng dan menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil, di mana saat ini Agam kembali menyetir untuk pulang, jarak dari rumah ibu Nirbita cukup jauh dari kediaman mereka. Mereka memutuskan untuk mencari hotel dan melanjutkan perjalanan mereka besok pagi.

__ADS_1


"Entahlah, aku merasa tak rela Nirbita pergi," ucao Kalandra, membuat Agam pun menepuk bahu sahabatnya itu.


"Kau jatuh cinta pada wanita yang salah, dia itu berbeda alam dengan kita, cinta berbeda alam itu tak di bolehkan, tak akan bahagia. Sebaiknya kamu mencari wanita lain," ucap Agam.


"Apa kau pikir aku jatuh cinta pada Nirbita?" ucap Kalandra menatap ke arah Agam. Ia sendiri tak tahu dengan perasaannya, apakah perasaan yang dirasakan saat ini, apakah itu cinta atau hanya merasa nyaman dengan Nirbita.


"Tanyakan pada hatimu sendiri," ucap Agam ketawa kecil mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu, kemudian ia pun memarkirkan mobilnya di parkiran hotel yang masih berada di daerah itu.


"Nirbita, aku ingin bertemu denganmu walau dalam mimpiku, sekali saja," lirih kalandar menghela nafas saat mereka turun dari mobil, keduanya pun berjalan beriringan menuju ke hotel tersebut dan memesan kamar. Namun, saat sedang berbincang dengan resepsionis, tiba-tiba mereka merasa merinding. Agam dan Kalandra saling melihat dan melihat di sekitar mereka, suasana yang sama mereka rasakan saat pertama kali mereka bertemu dengan Nirbita.

__ADS_1


__ADS_2