
Kini Pak Tono baru berhenti berlari saat ia merasa sudah sangat jauh dari rumah sakit, ia duduk di trotoar jalan melihat mobil yang berlalu lalang. Namun, ia sangat terkejut, lagi-lagi Nirbita berhasil menyusulnya, ia melihat Nirbita di seberang jalan.
"Kamu pikir kamu bisa mengalahkanku! Tidak, Nirbita! Kau belum tahu siapa aku!" Pak Tono menghentikan taksi, ia berniat ingin pergi ke rumah dukun yang pernah memberinya jimat. Ia yakin selama ini ia bisa terhalang dari Nirbita karena jimat itu, hanya karena ada yang menggantikannya maka Nirbita bisa mengejarnya seperti saat ini.
"Ayo, Pak. Kita ke jalan," ucap Pak Tono begitu setelah masuk ke dalam sebuah taksi, taksi itu pun melaju menuju ke alamat yang dimaksud oleh Pak Tono.
__ADS_1
"Kita lihat saja, apakah kamu bisa melawanku jika aku sudah bertemu dengan dukun itu," ucap Pak Tono tertawa puas. Namun, tiba-tiba mobil berjalan ke arah lain, ia memasuki sebuah lorong yang cukup sepi. Pak Tono sangat tahu jalan menuju ke rumah dukun itu dan itu bukanlah jalan di mana saat ini mobil itu membawanya.
"Pak, kita mau ke mana? Ini bukan jalan yang aku maksud," protes Pak Tono mencoba menghentikan supir taksi tersebut dengan menepuk pundaknya. Namun, sopir taksi tersebut terus melajukan mobilnya.
Pak Tono terus meminta mobil itu untuk berhenti, setelah lama mobil itu pun berhenti. Pak mengumpat kasar karena telah tak menghiraukan oleh dan membawanya ke alamat yang salah
__ADS_1
"Hei, Pak! Cepat putar balik mobilnya, aku akan membayar lebih akan hal itu jika kamu dengan cepat membawaku ke alamat yang aku minta!" seru Pak Tono kesal. Namun, supir taksi itu pun tiba-tiba berbalik, Pak Tono menjerit ketakutan saat ternyata yang membawa taksi tersebut adalah Nirbita. Pak Tono langsung berlari turun dari taksi dan meninggalkan taksi tersebut, berlari dengan tak tahu arah ia hanya terus berlari dan terus berlari meninggalkan taksi itu, dimana di dalam taksi ada Nirbita.
Supir taksi yang baru tersadar dan bingung, mengapa ia bisa sampai berkendara ke tempat tersebut. Ia melihat tulisan yang ada di papan yang ada di pinggir jalan, jika itu adalah makam umum. Lalu mengapa orang tadi menjerit ketakutan saat melihatku," ucap sopir taksi mengangkat bahunya. Kemudian, ia pun memutar mobilnya dan meninggalkan Pak Tono yang kini sudah menjerit sambil berlari masuk ke dalam makam.
Pak Tono menghentikan larinya saat ia sudah tak sanggup lagi untuk berlari, selain luka yang dialaminya, usia tuanya membuat ia terasa sangat sesak saat mencoba untuk berlari. Pak Tono melihat di sekitarnya.
__ADS_1
"Di mana ini?" gumamnya. Ia merasa merinding saat baru menyadari jika ia telah berdiri di tengah-tengah puluhan atau mungkin bahkan ada ratusan kuburan di sekitarnya, bahkan saat ini ia tengah memegang batu nisan untuk bersandar dengan cepat. Pak Tono menarik tangannya.
"Apa ini adalah makam?" ucapnya kemudian ia melihat sekelilingnya, mencoba mencari di mana pintu masuk dari makam tersebut, dari mana ia masuk tadi. Pak Tono mencoba untuk berlari kesana kemari. Namun, ia tak menemukan di mana arah pintu keluar. Di saat ia tengah kebingungan, lagi-lagi Nirbita muncul di hadapannya dengan tertawa nyaring dan mengerikan.