
Mendengar penjelasan Kalandra, ibu Nirbita pun membuka pintu gerbang untuknya.
"Masuklah, ada yang ingin Ibu tanyakan," ucap ibu Nirbita membuat Kalandra memberi kode kepada Agam yang ada di mobil jika ia sudah berhasil dipersilahkan untuk masuk.
Kalandra pun mulai duduk di teras rumah bersama dengan ibu Nirbita.
"Apa kamu benar-benar melihat Nirbita?" tanya ibu begitu mereka sudah duduk di kursi yang ada di teras.
"Iya, Bu. Aku sama sekali tak mengenal Nirbita sebelumnya, dia sendiri yang memberitahuku siapa namanya dan dia sendiri yang memberi tahu aku di mana alamatnya yang dulu," ucap Kalandra lagi membuat ibu Nirbita terkejut.
"Apa setelah penemuan jasadnya, ia masih menemuimu?" tanya ibu lagi.
"Iya, Bu. Tadinya aku dan Nirbita berpikir jika jasadnya sudah ditemukan ia bisa beristirahat dengan tenang, tapi ternyata tidak. Apa Ibu sudah mendengar kabar jika pembunuhnya sudah ditangkap?" tanya Kalandra membuat ibu pun mengangguk.
"Iya, Ibu sudah mendengarnya, apa semua itu juga ada sangkut pautnya denganmu, Nak?"
__ADS_1
"Iya, Bu. Tapi sebenarnya bukan aku, tapi Nirbita. Dialah yang memaksa mereka untuk mengaku," jelas Kalandra membuat ibu menatap Kalandra dan menatap di sekitarnya.
"Apa saat ini Nirbita ada di sini?" tanya ibu lagi.
"Nggak, Bu. Nirbita nggak ada di sini, apa Ibu ingin bertemu dengannya?" tanya Kalandra.
"Apa Ibu bisa bertemu?" tanya ibu penuh harapan.
"Tapi, Ibu jangan terkejut, ya," ucap Kalandra lagi membuat ibu pun mengangguk dengan antusias. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan anaknya.
Ibu langsung menangis tersedu-sedu, "Mungkinkah semua itu terjadi karena Ibu belum ikhlas melepaskannya, Nak," ucap ibu membuat Kalandra pun mengangguk.
"Mungkin saja, Bu. Keikhlasan hati Ibu pasti sangat dibutuhkan. Apa Ibu ingin bertemu dengannya?"
"Apa kamu bisa membantu Ibu?" ucap ibu dengan penuh harapan.
__ADS_1
Kalandra langsung merogoh sakunya dan menelpon Agam untuk membawa Nirbita untuk menemui ibunya.
Tak lama kemudian, mobil Agam yang tadinya di parkir agak menjauh dari rumah ibu mendekat dan berhenti tepat di depan pintu gerbang. Kalandra langsung beranjak dari duduknya dan membuka pintu, ia menghampiri di mana Nirbita duduk.
"Ayo turun, temui ibumu!" Nirbita terdiam ia tak berani untuk bertemu dengan ibunya, ada rasa ragu dihatinya..
"Ayo temui ibumu, aku sudah menjelaskan semua situasinya. Ibu yang sangat ingin bertemu denganmu," ucap Kalandra membuat Nirbita pun melihat sepintas ke arah ibunya yang berada di belakang Kalandra. Setetes air mata jatuh dan Nirbita merasakan air mata itu. Ia tersenyum dan mengusapnya.
"Aku menangis?" tanya pada dirinya, kemudian ia tertawa kecil melihat Kalandra. Selama ini sesedih apapun dia, ia tak pernah mengeluarkan air mata.
"Temui ibumu, minta keikhlasannya," ucap Kalandra membuatnya tak takut dan ia pun turun dari mobil, ia berdiri dan menatap ibunya dan langsung berlari begitu ibunya memanggil namanya.
Mereka pun berpelukan di tengah antara teras dan juga pintu gerbang.
"Sebaiknya kita bicara di dalam," ucap Kalandra membuat mereka pun setuju. Mereka pun masuk ke ruang tengah dan berbincang di sana, ibu Nirbita tak bisa menahan rasa sedihnya, ia terus memeluknya, begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Kalandra sengaja meminta Nirbita dan ibu untuk masuk ke dalam takut jika ada sampai melihat mereka dan itu akan menjadi kembali heboh.