
"Nirbita, pergi kamu dari sini! Kamu itu sudah mati!" ucap pak Tono memberanikan diri menantang Nirbita. Ia masih tak mau meminta maaf dan mengaku kesalahannya yang telah membuat Nirbita dalam situasi seperti ini.
"Aku tak akan pergi sampai Bapak mau mengakui kesalahan, Bapak!" ucap Nirbita yang semakin berjalan mendekati Pak Tono.
"Tidak! Aku tak akan merusak nama baikku hanya karena menuruti perkataanmu itu! Kamu tak akan bisa membunuhku atau memaksaku untuk mengakuinya! Kamu itu sudah meninggal, Nirbita!" ucap pak Tono tertawa dalam ketakutannya. Ia semakin mundur saat Nirbita semakin mendekatinya.
"Aku akan membuktikan kepada Bapak jika aku bisa membunuhmu!" ucap Nirbita semakin mempercepat langkahnya, membuat Pak Tono langsung memutar langkah dan kembali berlari. Nirbita terus berjalan cepat ke arahnya, Pak Tono yang sesekali menoleh ke belakang dan melihat Nirbita mendekat, semakin mempercepat langkahnya.
__ADS_1
Tiba-tiba Nirbita menghilang dari pandangan Pak Tono. Pak Tono berjalan mundur. Namun, tiba-tiba Nirbita berada di belakangnya. Pak Tono kembali berlari. Namun, karena kurang hati-hati, Pak Tono terjatuh. Kepalanya terbentur di Batu Nisan yang ada di sana, pak Tono memegang kepalanya yang berdarah. Ia kembali berdiri dengan susah payah, ia terus berlari dan ia menemukan jalan keluar dari makam itu.
Pak Tono terus berlari menuju ke arah luar. Nirbita hanya terus berjalan mendekatinya, walau dia hanya terlihat berjalan santai. Namun, ia dengan cepat mendekati Pak Tono, Pak Tono dengan sisa-sisa tenaganya terus berlari hingga sampai kembali ke jalan raya. Pak Tono berusaha menghentikan mobil yang ada di sana. Namun, karena kurang hati-hati ia pun tertabrak mobil.
"Nirbita, kau takkan bisa membunuhku!" ucapnya yang sudah berlumuran darah. Pak Tono terlihat kejang-kejang dan dia pun menghembuskan nafasnya terakhir.
Sementara itu, Nana sudah sampai di kantor polisi. Ia mengakui semua kejahatannya 10 tahun yang lalu. Di saat ia tengah diinterogasi polisi, sebuah laporan masuk jika ada sebuah kecelakaan dan setelah dikonfirmasi pria yang kecelakaan itu adalah Pak Tono. Nana sangat terkejut.
__ADS_1
'Apakah kejadian itu ada sangkut pautnya dengan Nirbita?" batinnya. Namun, ia tak mungkin mengatakan hal itu kepada polisi, semua itu di luar nalar, membuat Nana hanya terdiam dan menunggu hukuman yang akan diberikannya.
Pak Tono dilarikan ke rumah sakit. Namun, ia sudah dinyatakan meninggal di tempat. Kabar itu sampai ke telinga Nana yang kini sudah dipenjara, karena Nana masih merupakan istri dari Pak Tono. Nana pun diizinkan mendatangi prosesi pemakaman suaminya, saat Pak Tono sudah selesai dimakamkan. Nana yang sudah akan kembali ke kantor polisi bisa melihat Nirbita dari kejauhan.
Kalandra dan Agam juga ikut dalam pemakaman tersebut, keduanya juga bisa melihat Nirbita ada di sana, menyaksikan semua itu.
Disaat semua sudah selesai, Kalandara langsung menarik Nirbita masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan ia tak mengatakan apa-apa, dia hanya terus melajukan kendaraannya menuju ke kediamannya. Begitupun dengan Nirbita, tak mengucapkan sepatah kata pun, hanya terus terdiam dan terlihat menetap kosong ke arah depannya.