
Pak Tono selesai diperiksa dokter, ia pun sadar dan langsung ketakutan melihat di sekelilingnya.
"Di mana dia? Di mana dia?" tanyanya pada Nana dan juga dokter yang terlihat kebingungan melihat apa yang dimaksud oleh Pak Tono.
"Dia siapa yang Bapak cari?" tanya Nana.
"Anak itu, a-nak, anak itu, hantu anak itu."
Nana yang sedikit paham akan maksud dari suaminya karena waktu itu dia juga menyaksikan pembunuhan yang dilakukannya pada Nirbita. Ia langsung meminta dokter untuk pergi, berterima kasih dan dengan cepat mengambil resep yang sudah diberikan oleh dokter.
"Terima kasih ya, Dok. Maaf telah merepotkan," ucap Nana.
"Iya Bu. Tak apa-apa," ucap dokter tersebut, kemudian ia pun keluar dari kamar Pak Tono sambil menggeleng. Ia mengenal Pak Tono orang yang sangat tegas dan juga berwibawa, sangat jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya hari ini, ketakutan dan juga terlihat sangat lemah.
Nana menghampiri kembali suaminya setelah mengantar dokter, di mana Pak Tono kini memeluk bantal dan melihat di sekelilingnya.
__ADS_1
"Sebenarnya, siapa yang Bapak lihat?" tanya Nana lagi ingin memperjelas apa yang membuat suaminya seperti saat ini.
"Apa Ibu ingat anak gadis yang kita bunuh 10 tahun yang lalu?" ucapnya membuat Nana pun mengangguk.
"Maksudnya gadis yang bernama Nirbita yang sedang viral di media sosial itu? Yang mayatnya baru ditemukan beberapa hari?" tanyanya membuat Pak Tono juga mengangguk membenarkan.
"Gadis itu datang, sepertinya dia ingin menuntut balas pada kita, Bu. Bagaimana ini sepertinya jimat yang kita pasang itu sudah tak berfungsi lagi, Ibu harus cari dukun lainnya yang bisa menangkal dan menjauhkan rumah kita dari hantu Nirbita," ucapnya, ia berbicara sambil tergagap, membuat Nana pun langsung menuju ke pintu utama, memeriksa jimat yang mereka pasang di sana. Namun, ternyata jimat itu jelas-jelas bukan jimat yang pernah dipasangnya, karena dia sendiri yang memasangnya.
Nana memastikan jika jimat itu seperti jimat baru dipasang, terlihat dari ada bekas jimat terdahulu yang hanya ditempelkan dengan jimat yang baru itu.
"Pantas saja, Pak. Ada yang mencoba membuka jimat ini, coba Bapak lihat ini jimat palsu," ucapnya memperlihatkan jimat itu pada suaminya.
"Siapa yang berani menukar benda ini!" ucapan Tono memegang jimat itu, kemudian keduanya pun langsung menuju ke ruang kerjanya yang ada di samping kamarnya, mereka memeriksa CCTV jika memang ada yang menukarnya pasti akan terlihat oleh CCTV.
Pak Tono pun dengan cepat mengotak-atik laptopnya dan mencari rekaman di mana ia merasa hal-hal aneh mulai terjadi di rumah itu dan benar saja ada yang aneh dengan rekaman CCTV pada waktu itu, mereka terus memperhatikan di layar CCTV, memperhatikan secara seksama siapa yang menukar jimat tersebut. Namun, tiba-tiba mereka tersentak kaget dan langsung memundurkan ke belakang saat melihat di layar monitor muncul wajah Nirbita yang terlihat menatap keduanya dengan tatapan kemarahannya.
__ADS_1
"Pak, bukannya itu gadis yang sudah meninggal? Mengapa dia bisa ada di rumah kita, Pak?" tanya Nana yang sudah mulai ketakutan, ia juga melihat di sekitar ruangan itu, takut jika Nirbita ada di sana. Sementara Pak Tono langsung mematikan layar monitornya saat wajah Nirbita masih terpampang jelas disana.
Di saat mereka sedang membahas mengapa jimat itu bisa dibuka oleh Nirbita, tiba-tiba suasana ruang kerja itu berubah menjadi terasa sangat dingin.
Keduanya sangat ketakutan. "Pak, ada apa ini? Apa gadis itu datang ke sini?" ucap Nana yang semakin ketakutan, ia memegang erat tangan suaminya. Sedangkan Pak Tono juga tak kalah takutnya dan tiba-tiba suara tertawa memenuhi ruang kerja Pak Tono. Suara tawa yang memekakkan telinga, membuat Pak Tono dan juga Nana memutup dengan erat kedua telinga mereka.
Suara tawa itu terus terdengar membuat keduanya pun berlari keluar dari ruangan itu. Mereka langsung berlari menuju ke pos satpam.
"Cepat periksa rumah, Pak. Sepertinya ada yang tak beres," ucap Pak Tono menunjuk ke arah rumahnya. Ia tak berani lagi masuk ke sana, begitupun dengan istrinya membuat Pak satpam menjadi bingung dan memutuskan untuk masuk memeriksa, mungkin saja ada maling atau sejenisnya yang masuk ke dalam rumah. Namun, setelah memeriksa seisi rumah, tak ada apa-apa di sana tak ada yang perlu ditakutkan. Ia pun kembali pada Pak Tono yang berada di pos satpam.
"Maaf, Pak. Saya sudah memeriksa semua, tak ada apa-apa di dalam," jawab satpam tersebut. Namun, tiba-tiba suasana dingin kembali mereka rasakan, begitu juga dengan Pak satpam. Pak satpam melihat sekelilingnya, menyenter ke segala arah dan tiba-tiba ia melihat kucing yang berwarna hitam.
"Itu, Pak. Itu pasti hantunya," ucap Nana menunjuk kucing tersebut, di mana Nirbita tadi memakai baju serba hitam, membuat Nana beranggapan mungkin saja dia berubah menjadi kucing hitam.
Pak satpam mendekati kucing tersebut dan menangkapnya. "Bukan, Bu. Ini bukan hantu, ini hanya kucing biasa, kucing ini memang sering datang ke sini karena saya suka memberinya makan, Bu," ucap Pak satpam tersebut.
__ADS_1
Malam itu Nana dan juga Pak Tono tak berani masuk ke rumah, membuat mereka meminta satpam untuk ikut masuk ke dalam. Satpam tidur di ruang tv di depan kamar Pak Tono dan juga Nana, mereka tak ingin jika Pak Tono keluar. Mereka takut jikalau Nirbita kembali datang.