
Nirbita tak tinggal diam, ia tak ingin menunda lagi menyelesaikan tujuannya. Setelah Pak Tono tak sadarkan diri selama 2 jam akibat suntikan yang diberikan oleh dokter.
Pak Tono pun sadar dan begitu membuka mata ia kembali melihat Nirbita dan kali ini dia tak menjerit lagi saat Nirbita langsung mencekiknya.
"Lepaskan! Lepaskan aku! Apa yang kau inginkan?" ucap Pak Tono berusaha menahan tangan Nirbita agar tak menekan lehernya, ia sangat sulit untuk bernafas.
"Aku ingin kau ikut denganku, mari kita pergi bersama-sama," ucap Nirbita dengan senyuman licik di bibirnya.
"Tidak! Jangan lakukan itu, aku mohon. Aku minta maaf," ucap Pak Tono. Namun, Nirbita menggeleng.
"Tidak semudah itu! Kau telah menyiksaku selama 10 tahun lebih, kamu pikir hanya dengan ucapan maafmu itu aku bisa melepaskanmu. Tidak! Tidak!" ucap Nirbita, kemudian tertawa cekikikan membuat Nana yang tadinya tertidur juga terbangun. Ia tak kalah takutnya dengan Pak Tono, ia langsung bangun dan beringsut menjauh ke sudut tempat tidur perawatannya dengan selang infus yang masih menempel di punggung tangannya.
Nana langsung melihat ke arah Nirbita yang masih tertawa cekikikan. Sementara itu, Pak satpam yang berjaga di luar tak mendengarkan apa-apa di dalam sana. Selain Nana dan juga Pak Tono tak menjerit karena saking ketakutannya melihat Nirbita dan Pak Tono yang sedang dalam kondisi tercekik, Pak satpam juga sedang tertidur pulas.
__ADS_1
"Nirbita, aku mohon maafkan aku. Aku sama sekali tak sengaja melakukan kejadian 10 tahun yang lalu, aku hanya mengikuti apa yang Pak Tono lakukan. Aku sama sekali tak berniat untuk menyakitimu," ucap Nana mengatupkan kedua tangannya di depan dada, meminta maaf membuat Nirbita pun melepaskan cekikannya. Pak Tono terbatuk-batuk dan menghirup udara sebanyak-banyaknya, ia pun ikut meringsuk ke sudut tempat tidurnya, menghalangi Nirbita dengan bantal yang dijadikannya penghalang di depannya.
"Apa kalian tahu, karena apa yang kalian lakukan 10 tahun yang lalu itu sangat menyiksaku, kalian tak membiarkanku pergi, juga tak mengizinkanku hidup dan lihatlah aku terlunta-lunta di sini, aku tak tahu kemana tujuanku sekarang. Aku tak punya pilihan lain selain membawa kalian bersamaku dan berharap aku akan bisa pergi dari dunia ini dengan tenang setelah mengakhiri hidup kalian!" ucap Nirbita memandang mereka bergantian dengan tatapan tajamnya.
Nana langsung beranjak turun, berlutut di depan Nirbita dan bersujud. "Katakan, apa yang harus aku lakukan. Akan aku lakukan semuanya, tapi tolong biarkan aku hidup, aku belum mau mati. Aku mohon!" ucap Nana terus bersujud di depan Nirbita.
Nirbita langsung melihat ke arah Pak Tono.
"Kamu sudah mati, kamu tak bisa berbuat apa-apa! Kamu tak bisa membunuhku!" ucap Pak Tono mengambil tiang infus dan mencoba untuk melawan Nirbita. Ia tak mau mati dan tak juga mau meminta maaf kepada Nirbita seperti apa yang dilakukan oleh istrinya.
Nirbita melihat Nana yang masih bersujud di hadapannya, dia bisa mengingat jika waktu itu Nana memang tak berbuat apa-apa, ia hanya mengikuti Pak Tono, bahkan sekali Nana juga meminta Pak Tono untuk melepaskannya. Namun, Pak Tono malah mengakhiri hidupnya dan mengurungnya, menyembunyikan jazadnya.
"Aku akan memaafkanmu, tapi kamu harus mengakui kesalahanmu di depan polisi, agar semua orang tahu apa penyebab kematianku dan satu lagi, cari keluargaku dan minta maaf pada mereka!" ucap Nirbita lagi membuat Nana pun berjanji akan menuruti apa yang dikatakan oleh Nirbita.
__ADS_1
Setelah Nana menyetujui apa yang dikatakan oleh Nirbita, Nirbita pun menghilang. Nana yang sejak tadi menunduk, mendengar dan melihat sudah tak ada Nirbita di sana, ia pun tak membuang-buang waktu lagi. Ia langsung keluar kamar dan melihat sang satpam yang tertidur pulas di kursi ruang tunggu, sementara Pak Tono entah ke mana ia pergi.
"Pak! Pak satpam! Bangun!" ucap Nana membangunkan Pak satpam dengan menggoyang-goyangkan lengannya. Pak satpam yang merasakan hal itu langsung terbangun, ia pun berdiri.
"Ada apa, Bu? Ada apa?" tanyanya panik saat dibangunkan dengan cara seperti itu.
"Antar aku ke kantor polisi sekarang juga, Pak!" ucap Nana membuat Pak satpam pun tak mengerti.
"Memangnya ada apa, Bu? Ada apa dengan Ibu?" tanya Pak satpam lagi yang berpikir majikannya itu ingin melaporkan tindak kekerasan terhadapnya.
"Bapak jangan banyak tanya, cepat antar aku ke kantor polisi! Aku tak mau mati!" ucap Nana membuat Pak satpam pun mengangguk dengan cepat mengambil topi dan juga kunci mobil yang ada di kursi tunggu, di mana tadi ia tidur dan mereka pun bergegas menuju ke kantor polisi di tengah malam.
Sementara itu, Pak Tono terus berlari dengan selang infus yang masih menempel di punggung tangannya, begitupun dengan tongkat infus yang dijadikan sebagai senjatanya. Ia berlari secepat mungkin keluar dari rumah sakit, berlari menuju ke jalan raya.
__ADS_1
Pak Toni ingin menghindari Nirbita sejauh mungkin, ia bahkan terus berteriak jika ia tak mau mati dan Nirbita harus menjauh darinya.